Subulussalam – Denyut perekonomian di sejumlah daerah di belahan Nusantara kian terasa melemah akibat wabah virus corona atau Covid-19 yang serempak meluas menjadi bencana global.
Sehingga dampaknya pun menyasar pada pelambatan pusar perekonomian di tanah air, terutama pada sektor perdagangan dan jasa bahkan hingga berdampak pada sektor perkebunan.
Pandemi yang sudah berlangsung hampir dua bulan melanda Indonesia, tepatnya sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya dua Warga Negara Indonesia (WNI) yang terkonfirmasi positif corona virus disease 2019 (covid-19) pada 2 Maret 2020 lalu.
Pantauan Atjehwatch, menilik pada laju perekonomian di wilayah Kota Subulussalam dampaknya cukup terbilang signifikan. Menurunnya daya beli masyarakat akhir-akhir ini murni disebabkan oleh dampak dari pandemi wabah virus corona.
Pelaksanaan kegiatan proyek pembangunan yang semestinya sudah terjadwal untuk dikerjakan namun akibat virus tersebut sehingga tidak bisa terakselerasikan tepat waktu karena terjadinya pergeseran mata anggaran daerah yang peruntukannya diubah untuk penanganan covid-19 oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Pencegahan Covid-19 di daerah.
Namun, untungnya masih ada performa usaha sawit yang masih bergerak relatif normal yang menopang stabilitas perekonomian di Subulussalam meski akhir-akhir ini harga tandan buah segar (TBS) mengalami penurunan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Subulussalam, Abdi Gunawan menyatakan, secara umum laju pertumbuhan melambat akibat menurunnya aktivitas sektor perdagangan, perhotelan dan transportasi.
“Untuk data laju perekonomian di Subulussalam semenjak adanya wabah covid-19 belum bisa dirilis karena data-data belum terkumpul semuanya. Tapi secara umum laju pertumbuhan melambat akibat menurunnya aktifitas sektor perdagangan, perhotelan dan transportasi,” katanya.
Untuk skop wilayah Subulussalam, geliat sawit masih bisa diandalkan jika permintaan tidak berubah dan produksi minyak sawit juga tidak mengalami perubahan. Minyak sawit yang diolah di Subulussalam akan dipasarkan di Medan, jika permintaan minyak tidak berubah maka sektor sawit masih bisa diandalkan.
Ia menjelaskan bahwa anjloknya sawit sangat berpengaruh terhadap perekonomian di Subulussalam karena berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2019, sektor pertanian dengan komoditi utama perkebunan sawit merupakan sektor utama terbesar perekonomian di Subulussalam dengan share sebesar 21 persen diikuti dengan sektor perdagangan sebesar 19 persen.
Sementara, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kota Subulussalam, Subangun Berutu menyebutkan bahwa harga TBS sawit terus mengalami penurunan, terutama dalam sepekan ini mengalami penekanan dari 20-40 rupiah.
Subangun menyebutkan bahwa pemicu tidak stabilnya harga TBS sawit disebabkan oleh lesunya pasar ekspor selama wabah virus corona.
“Harga CPO (Crude Palm Oil) memang turun, dan secara global pasar ekspor lesu, di tengah pandemi covid-19 ini,” ucap Subangun.
Subangun mengungkapkan bahwa sawit merupakan komoditi andalan di Subulussalam yang banyak mempengaruhi sendi-sendi perekonomian masyarakat. Kata Subangun, bilamana harga sawit terus terguncang maka drastis akan berdampak buruk terhadap gairah perekonomian di Subulussalam.
“Sektor lain sudah lesu, tinggal sektor sawit ini lagi yang menjadi andalan kita. Semogalah bencana ini segera berakhir, agar semua kembali berjalan normal, perekonomian pun kembali sehat,” ucap Subangun.[]
Reporter: Arung









