MEUREUDU – Pemuda memiliki posisi strategis sebagai pilar kekuatan politik masa depan. Dengan jumlah yang besar, energi, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital, pemuda memiliki peran penting dalam menentukan arah demokrasi dan kehidupan politik di masa mendatang.
Hal tersebut disampaikan Andi Firdhaus, S.H., CPM, saat memberikan materi pada Pelatihan Kader Penggerak Nanggroe Japakeh yang berlangsung di Aula Partai Aceh Pidie Jaya, Selasa (15/09/2026).
Menurut Andi, politik tidak semata-mata berbicara mengenai perebutan kekuasaan, tetapi juga bagaimana membangun kesadaran, memperjuangkan kepentingan masyarakat, serta melahirkan kebijakan yang memberikan manfaat bagi rakyat.
“Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perjalanan politik. Pemuda harus tampil sebagai pelaku, penggerak, sekaligus bagian dari proses menentukan masa depan daerah” ujar mantan aktivis 98.
Ia mengatakan, perkembangan teknologi digital telah membuka ruang yang sangat luas bagi generasi muda untuk berpartisipasi dalam politik. Media sosial dapat menjadi sarana menyampaikan gagasan, membangun komunikasi dengan masyarakat, sekaligus mengawal berbagai kebijakan publik.
“Jangan hanya kuat di media sosial, tetapi juga harus kuat dalam gagasan, wawasan dan kerja nyata. Politik membutuhkan kader yang mampu membaca persoalan dan menawarkan solusi,” katanya.
Andi juga mengingatkan para kader muda agar tidak mudah terjebak dalam politik identitas, provokasi maupun penyebaran informasi yang belum terverifikasi. Menurutnya, ruang digital harus dimanfaatkan untuk membangun pendidikan politik yang sehat dan mencerdaskanb masyarakat.
Ia menilai kader penggerak memiliki tanggung jawab untuk menjadi jembatan antara masyarakat dan kekuatan politik. Karena itu, kader harus mampu turun ke tengah masyarakat, mendengar aspirasi serta memahami kebutuhan riil masyarakat.
“Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Kalau ingin politik masa depan lebih baik, maka kita harus mempersiapkan kader-kader muda yang memiliki kapasitas, loyalitas kepada masyarakat dan integritas,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mendorong pemuda untuk tidak takut memasuki ruang-ruang pengambilan keputusan. Menurutnya, regenerasi politik merupakan sebuah keniscayaan agar kepemimpinan di Aceh terus berkembang dan mampu menjawab tantangan zaman.
Pelatihan Kader Penggerak Nanggroe Japakeh tersebut diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat kapasitas dan wawasan politik generasi muda, sekaligus membangun kader yang mampu berkontribusi dalam pembangunan daerah.
“Jangan menunggu menjadi tua untuk mulai berbuat. Mulailah dari sekarang, karena masa depan politik ada di tangan generasi muda,” pungkas Alumni Institut Perdamaian Mindanao, Filipina.








