SIGLI — Puncak Uroe Lahe ke-515 Kabupaten Pidie di Pidie Convention Center (PCC) Sigli bukan sekadar penanda bertambahnya usia daerah. Momentum tersebut menjadi ruang untuk membuka kembali jejak panjang Pidie, dari sejarah Pedir hingga Darul Amni, yang membentuk identitas masyarakatnya.
Rangkaian peringatan HUT ke-515 tersebut diisi berbagai kegiatan, mulai dari Expo dan UMKM, pentas seni, Sidang Istimewa Paripurna DPRK, permainan rakyat, pawai budaya, hingga Khanduri Raya dan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Bupati Pidie H. Sarjani mengatakan peringatan Uroe Lahe ke-515 penting untuk menjaga ingatan terhadap perjalanan sejarah Pidie. Menurutnya, hari jadi daerah tidak semestinya berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi juga menjadi momentum mengenang akar sejarah dan perjalanan masyarakat Pidie.
“Peringatan Uroe Lahè ke-515 Pidie tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga momentum untuk mengenang perjalanan panjang sejarah Pedir Darul Amni,” ujar salah satu sumber, Sabtu malam (19/9/2026).
Jejak Pedir menempati posisi penting dalam perjalanan sejarah Aceh. Kawasan ini berkembang melalui dinamika perdagangan, pemerintahan dan penyebaran Islam yang turut membentuk kehidupan sosial masyarakat di wilayah Pidie.
Dalam perjalanan berikutnya, sejarah kawasan ini bersinggungan dengan berbagai perubahan politik dan sosial, termasuk narasi Darul Amni yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Pidie.
Oleh karena itu, tantangan hari ini bukan sekadar merayakan usia daerah, tetapi memastikan warisan sejarah tersebut tetap dipahami generasi baru.
Perubahan zaman membuat Pidie terus bergerak. Pembangunan infrastruktur, penguatan ekonomi, pendidikan dan pelayanan publik menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Namun, seluruh proses itu membutuhkan pijakan identitas agar pembangunan tidak berjalan tanpa memahami akar daerahnya.
Momentum Uroe Lahe ke-515 dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat dokumentasi sejarah lokal, membuka kembali arsip, serta memperkenalkan sejarah Pedir dan Darul Amni melalui pendidikan dan ruang kebudayaan.
Dengan begitu, sejarah tidak berhenti sebagai cerita yang muncul setiap perayaan hari jadi. Ia menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari, dikritisi dan diwariskan.
Lima abad lebih perjalanan Pidie pada akhirnya bukan hanya soal angka. Ada jejak masyarakat, kebudayaan dan perubahan zaman yang membentuk daerah ini hingga hari ini.
Dan dari sanalah pesan Uroe Lahe ke-515 menjadi relevan: Pidie boleh terus berubah, tetapi jangan sampai kehilangan ingatan tentang dari mana ia berasal.
Lima abad lebih perjalanan Pidie pada akhirnya bukan sekadar angka yang dirayakan setiap tahun, di balik usia 515 tahun itu, ada warisan sejarah yang semestinya menjadi pengetahuan, bukan sekadar ornamen seremoni.
Sebab akan menjadi ironi jika Pedir dan Darul Amni terus disebut dalam pidato peringatan, tetapi jejak sejarahnya justru semakin jauh dari pengetahuan generasi muda.
Uroe Lahe semestinya tidak berhenti ketika panggung dibongkar, spanduk diturunkan dan rangkaian acara berakhir. Setelah perayaan selesai, pertanyaan yang lebih penting justru dimulai: apa yang benar-benar dilakukan untuk merawat sejarah Pidie, mendokumentasikannya, dan memastikan generasi berikutnya mengenalnya?
Pidie telah bertahan 515 tahun. Tantangannya kini bukan sekadar bagaimana merayakannya, tetapi apakah generasi hari ini mampu menjaga sejarah itu tetap hidup ketika pesta telah usai.[Mul]









