BANDA ACEH – Mahasiswa Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam FAH UIN Ar-Raniry melakukan kunjungan edukatif ke sentra kerajinan songket tenun tradisional Pok Teupeun Songket Aceh Kerasi Jasmani yang dikenal juga dengan Jasmani Songket di Jalan Lambaroe Angan, Gampong Miruek Taman, Kecamatan Darussalam Aceh Besar, pada Sabtu 3 Oktober 2026.
“Songket Aceh Jasmani” adalah sebuah usaha tenun milik perajin bernama Jasmani yang ditekuni sejak tahun 1989.
Jasmani mulai tertarik bermula dari pelatihan yang digelar di rumah Nyakmu. Setelah tiga bulan belajar membuat motif, ia mulai berani menenun sendiri. Sepuluh tahun kemudian usahanya berkembang dan ia merekrut tetangga sebagai penenun. Ia termasuk murid Nyakmu yang membuka usaha sendiri, di Desa Miruek Taman.
Dia mengembangkan usaha songket ini dengan berbagai motif songket tradisional Aceh. Ada juga motif yang dikembangkan sendiri seperti motif Bungoeng Meuriya yang menjadi ciri khasnya, kemudian juga terdapat lampu atau kande zaman dulu. Jasmani juga menggunakan motif yang terdapat di Rumoh Aceh untuk mempertahankan kekhasan dan nilai Tradisional seonketnya. Yang lebih menarik lagi motif yang digunakan Jasmani setiap pembukaan atau setiap memulai awal menenun adalah motif Taloe Ie, yang melambangkan kekuatan, dan terdapat juga motif lain, sesuai dengan permintaan konsumen.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengenal lebih dekat warisan budaya lokal Aceh sekaligus memahami nilai-nilai Islam yang terkandung dalam kearifan tradisi masyarakat. Dalam kunjungan tersebut, para mahasiswa diterima dan disambut lansung oleh Ibu Jasmani beserta suaminya Parliansyah yang aktif sebagai penenun juga.
Mahasiswa juga diberikan ilmu tentang tahap-tahap menenun, yang di mulai dari sebelum hingga setelah jadi sebuah songket. Kegiatan didampingi langsung oleh dosen SKI, Istiqamatunnisak, M.A,. yang menjelaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari program Outing Class mata kuliah ketrampilan memandu wisata sejarah dan budaya.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga memahami bagaimana nilai-nilai Islam, kerja keras, dan keindahan seni terwujud dalam tradisi masyarakat, seperti songket Aceh ini,” ujarnya.
Para mahasiswa tampak antusias menyaksikan proses pembuatan kain songket, mulai dari pemintalan benang (Menghani), menyucuk (Menyisir Benang), Pembentukan Motif, hingga penenunan dengan alat tradisional tenun tangan/kaki melalui. Mereka juga berkesempatan mencoba menenun langsung di bawah bimbingan pengrajin senior, yang merupakan keluarga ibu Jasmani itu sendiri.
Cut Dinda, salah mahasiswi berkata sangat terinspirasi dari ketekunan para penenun. “dari Tenun kami belajar bahwa selembar kain songket yang indah, ada nilai kesabaran, ketelitian, serta cinta terhadap budaya yang luar biasa di baliknya.
Pembuatan selembar kain songket membutuhkan waktu yang lumanyan lama dan kesabaran tinggi bahkan memakan waktu belasan hari hingga sebulan tergantung motif atau kerumitannya). Ibu Jasmani sendiri mengapresiasi kunjungan tersebut.
“Kami senang generasi muda datang belajar dan menghargai warisan ini. Semoga tradisi menenun tidak hilang dan tetap dilestarikan,” tuturnya.
Kunjungan ditutup dengan sesi foto bersama pihak kampus dengan pengrajin sebagai bentuk apresiasi dan dukungan terhadap pelestarian budaya lokal Aceh.






![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)


