Banda Aceh – Muzakarah Internasional ulama tauhid sufi ke-11 2026 di Provinsi Aceh menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan perdamaian umat dan akan dihadiri sejumlah ulama tasawuf lintas negara.
“Insya Allah ulama-ulama tasawuf dari sejumlah negara akan hadir. Kita bertekad ajaran sufi berkembang kembali di Aceh,” kata penasihat panitia Muzakarah Internasional ulama tauhid sufi ke-11, Abu Syukri Daud Pango di Asrama Haji Embarkasi Aceh, Banda Aceh, Rabu.
Ia menjelaskan ajaran sufi atau tasawuf memiliki akar yang kuat pada masa kesultanan Aceh. Ulama-ulama besar yang terkenal mengembangkan ajaran tersebut masa itu di antaranya Hamzah Fansuri dan Syekh Abdurrauf As Singkili.
Menurut dia, penyelenggaraan kegiatan tersebut juga berpijak pada sebuah ayat yang berbunyi apabila sebuah penduduk negeri itu beriman dan bertakwa, maka akan diturunkan keberkahan dari langit dan bumi.
“Iman yang sempurna itu tidak bisa dicapai sekadar dengan berakidah, melainkan melalui iman yang sempurna yaitu tauhid sufi. Jadi inilah tujuan dihadiri ulama-ulama besar tasawuf,” katanya.
Ketua Umum Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I) Abi Sahal Tastari Waly mengatakan penyelenggaraan kegiatan internasional tersebut juga ingin mengangkat Aceh yang merupakan Serambi Mekah yang juga melaksanakan syariat Islam.
“Kita ingin mengangkat kembali Aceh ke dunia lewat kegiatan ini. Kegiatan ini dilaksanakan juga untuk memperkuat perdamaian umat,” katanya.
Kegiatan yang berlangsung pada 9 sampai 11 Oktober tersebut akan dihadiri ulama dari Turki, Maroko, Mesir, Palestina, Kamboja, Suria, Brunei Darussalam, Thailand, dan Malaysia.
Dalam kegiatan tersebut sebanyak 50 ribu peserta akan ikut hadir dalam kegiatan zikir yang dipusatkan di Taman Sulthanah Ratu Safiatuddin, Banda Aceh.










