Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Nanggroe

Taufiq A. Rahim: Pemerintah Aceh Atau Pedagang Aceh?

Admin1 by Admin1
13/05/2020
in Nanggroe
0
Terkait Lahan Untuk Eks Kombatan, Pengamat Sebut Perlu Regulasi

BANDA ACEH – Pengamat politik Aceh, Taufiq A. Rahim, menilai kebijakan Pemerintah Aceh melalui Disperindag Aceh yang menggelar pasar murah di tengah wabah Corona dan banjir, sangat tidak etis serta kurang bijak.

Hal ini disampaikan Taufiq kepada atjehwatch.com, Selasa malam 13 Mei 2020.

“Di tengah musibah pandeni corona virus disease 2019 (Covid-19) dan banjir dimana-mana di dalam Provinsi Aceh, ada usaha baru dan kegiatan yang menguntungkan dilakukan Pemerintah Aceh dengan lebel, membuka pasar murah di 23 kabupaten/kota mulai 13-16 Mei 2020,” ujar Taufiq.

“Semestinya barang kebutuhan pokok ini yaitu beras, minyak goreng, tepung dan telur diberikan kepada masyarakat secara gratis ditengah suasana krisis ekonomi, harga barang naik (inflasi) dan daya beli masyarakat lemah.”

“Pemerintah Aceh melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) bekerjasama dengan Badan Urusan Logistik (Bulog), memasarkannya di pasar murah. Seolah-olah berbaik hati dengan harga murah, sesungguhnya modalnya jika itu anggaran belanja publik dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA), ini bermakna uang modal “dagang/jualan” di pasar murah uang rakyat Aceh,” ujarnya lagi.

Menurutnya, Ide cerdas dan miris serta tidak memiliki rasa “sence of belonging and crisis” di tengah musibah pandemi covid-19 dan banjir hampir setiap daerah.

“Berusaha mencari peluang dan untung, meskipun harga di bawah harga eceran, tetapi seharusnya dibagi kepada rakyat. Konon pula dikatakan saat ini tersedia Rp 1,7 triliun untuk talangan dana menghadapi dampak covid-19, untuk menjaga kondisi stabilitas kehidupan masyarakat, juga berjaga-jaga jangan timbul gejolak ditengah masyarakat yang hidupnya sedang resah dan kesusahan.”

“Demikian juga, barang-barang yang dijual merupakan bahan kebutuhan pokok yang kenaikan tingkat harganya tidak terlalu melambung tinggi atau gila-gilaan, meskipun naik dan susah juga dijangkau. Mengapa tidak bahan pokok seperti gula, cabai (merah, hijau, rawit), bawang (putih, merah, bombay) dan banyak bahan kebutuhan pokok lainnya yang naik melambung tinggi bahkan ada yang di atas 50-100%. Kemudian dijual murah dengan harga standar dan terjangkau sebelum pandemi covid-19 dan musibah banjir selama ini.”

Menurutnya, termasuk “jika mau minyak kenderaan dan mesin” pendukung industri, oetani dan nelayan, kerjasama dengan Pertamina yang saat ini harga minyak dunia turun drastis, dijual murah, yang ditalangi oleh Pemerintah Aceh.

“Ini baru Aceh Hebat. Ini menjadi aneh dan menyayat hati rakyat yang sedang kesusahan, menggunakan modal dari APBA yang semestinya bahan kebutuhan pokok ini dapat dinikmati rakyat, malah “Pemerintah Aceh menjadi Pedagang Aceh”. Prinsip dagang secara teori dan praktik, tetap harus mendapatkan keuntungan (profit). Nah keuntungannya dibawa kemana dan untuk siapa lagi? Sangat memprihatinkan melihat perilaku elite dan Pemerintah Aceh saat ini. Bukannya mencari simpati rakyat, malah mencoba untung-untungan diatas penderitaan dan kesusahan rakyat yang saat ini kemiskinan, pengangguran meningkat, daya beli rendah serta inflasi meningkat,” ujar Taufiq lagi. []

Tags: acehTaufiq A Rahim
Previous Post

Koh Steven, Mualaf yang Jual Semua Harta demi Tangani Corona

Next Post

Wali Kota Minta Tempat Pelayanan Publik dan Perbelanjaan Terapkan Wajib Masker

Next Post

Wali Kota Minta Tempat Pelayanan Publik dan Perbelanjaan Terapkan Wajib Masker

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Gedung SPKT Baru Polres Pidie Jaya Diresmikan, Perkuat Wajah Pelayanan Publik yang Modern dan Humanis

Gedung SPKT Baru Polres Pidie Jaya Diresmikan, Perkuat Wajah Pelayanan Publik yang Modern dan Humanis

24/06/2026
Bidang Literasi IGI Aceh Timur Raih Penghargaan Buku Etnik Nusantara

Bidang Literasi IGI Aceh Timur Raih Penghargaan Buku Etnik Nusantara

24/06/2026
Semakin Partisipatif, Logo HUT ke-81 Republik Indonesia dipilih Langsung Publik

Semakin Partisipatif, Logo HUT ke-81 Republik Indonesia dipilih Langsung Publik

24/06/2026
Nyan, Pilchiksung Serentak di 31 Gampong, 76 Calon Keuchik Berebut Dukungan Warga Pidie Jaya

Nyan, Pilchiksung Serentak di 31 Gampong, 76 Calon Keuchik Berebut Dukungan Warga Pidie Jaya

24/06/2026
Kuah Pliek U dan Tawa: Saat Keluarga Besar Al Zahrah Pupuk Silaturrahmi

Kuah Pliek U dan Tawa: Saat Keluarga Besar Al Zahrah Pupuk Silaturrahmi

24/06/2026

Terpopuler

Marhaban (De’ Boy) Pimpin KNPI Pidie Jaya Secara Aklamasi

Marhaban (De’ Boy) Pimpin KNPI Pidie Jaya Secara Aklamasi

23/06/2026

Meski Baru Saja Dikerjakan, Muara Lhok Pawoh Abdya Kembali Dangkal

Rp1,4 Triliun Modal Daerah Dipertanyakan, IDeAS Desak Audit Total Tiga BUMA Aceh

Kuah Pliek U dan Tawa: Saat Keluarga Besar Al Zahrah Pupuk Silaturrahmi

Abdya Tanam Lima Hektar Lahan untuk Varietas Padi Sigupai

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com