Oleh : Roni Haldi
Penghulu Muda KUA Kec. Susoh Dan Mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry.
“Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.”
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
Begitulah Rasulullah mengabarkan dalam sabdanya yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dalam Shahih Bukhari dan Muslim dan juga Imam Malik dalam Muwaththa’ di Kitab Syi’ar.
Angka tujuh pada hadits diatas bukanlah ingin membatasi memadai amal shalih hanya untuk tujuh macam dari tujuh golongan saja. Tapi maksudnya adalah mafhumul ‘adad gharu Murad atau disebut tujuh bukan bukan berarti dibatasi angka itu saja. Begitulah diistilahkan oleh para ulama Ushul fiqh.
Amal shalih yang tak tampak disembunyikan ternyata miliki ganjaran pahala yang tinggi lagi mulia. Perhatikanlah, apa rahasia dari hadits tersebut yang mengabarkan adanya naungan dari yang Maha Menaungi dihari tiada naungan yang lain kecuali dari-Nya. Hadits tersebut menyiratkan makna yang mendalam. Disana ada keikhlasan hati dalam ketersembunyian diri dalam beramal shalih. Itulah rahasia besar yang tersembunyi.
Tengoklah sejenak pada ibadah puasa Ramadhan, ternyata ganjaran pahala yang dijanjikan oleh Allah juga berbeda diperlakukan bila dibandingkan dengan amalan ibadah lainnya. Khusus puasa Ramadhan, telah Allah kabarkan melalui hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam falam Shahih Bukhari jilid 7 diriwayatkan oleh Abu Hurairah tentang keutamaan puasa Ramadhan. Setiap amal shalih telah Allah tetapkan pahala ganjarannya, satu kebaikan, sepenuh kebaikan, atau bahkan tujuh ratus kali lipat kebaikan. Namun puasa Ramadhan ganjara pahalanya Allah Ta’ala sendiri yang memberi ganjarannya. Karena puasa Ramadhan untuk-Ku, maka Aku sendiri yang membalasnya.
كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به
“Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung.”
Al-Hafidz Imam Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari menjelaskan kekhususan ganjaran pahala puasa Ramadhan. “Ketika amal shalih yang lain dapat mudah terserang penyakit riya, maka puasa tidak ada yang dapat mengetahui amalan tersebut kecuali Allah, maka Allah sandarkan puasa kepada Diri-Nya.”
Ibnu Qayyim Al-Jauzi rahimahullah berkata : “Semua ibadah terlihat amalannya. Dan sedikit sekali yang selamat dari godaan riya, berbeda dengan puasa.”
Sejalan dengan apa yang dimaksudkan Ibnu Qayyim Al-Jauzi, Ibnu Abdul Bar berkata, “Cukuplah ungkapan ‘Puasa untuk-Ku’ menunjukkan keutamaannya dibandingkan ibadah-ibadah lainnya.
Ibadah puasa Ramadhan adalah amalan bathiniyyah atau sirriyyah, tersembunyi lagi rahasia. Puasa Ramadhan itu bentuk rahasia seorang hamba dengan Tuhannya, tidak ada yang mengetahui melihatnya kecuali Allah. Kesepian dalam kesendirian tanpa ada yang melihat, tak menjadikan orang yang berpuasa lantas melanggar pantang dan larangannya. Kesendirian tersembunyi karena diselimuti keikhlasan hati yang tinggi mendorong diri malu hati berbuat curang menipu berlindung dibalik keadaan.
Rahasia lagi tersembunyi itu ternyata mampu menjaga utuh keikhlasan hati diri. Dan kebersamaan lagi tampak terbuka itu ternyata bisa menggangu keutuhan ikhlas di hati. Sama halnya dalam keseharian, kebersamaan dan kedekatan yang terus menerus ternyata bisa menggali jebakan berbahaya mampu menodai kebersamaan itu sendiri. Perlu adanya ketersediaan waktu sendiri keterasingan jauh dari keramaian kebersamaan untuk beramal shalih. Karena seringkali kesendirian kita menjaga hati untuk ikhlas dalam beramal.
“Berkumpulnya orang-orang beriman tetap menyimpan marabahaya yang patut diwaspadai. Tatkala perkumpulan itu saling menglindungi dan membenarkan, kebersamaan melebihi kebutuhan yang bisa menghalangi diri memihak keadilan dan kebenaran.” Begitulah kata Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzi dalam kitabnya Al Fawaid hal. 60.
Kebersamaan dalam keramaian perlu jeda dan jarak jangan keseringan. Kedekatan dan kebersamaan berlebihan mampu menggiring mengarahkan diri agar bersikap menilai membaik-baikkan tanoa objektif melihat kekurangan. Diri kita perlu akan masa sendiri lagi tersembunyi untuk melakukan berbagai amal shalih. Tak diketahui oleh siapapun, agar hati ikhlas disaat diri beramal shalih.
Puasa Ramadhan telah jelas siapa yang memberi ganjaran pahalanya. Tak perlu penilaian orang lain yang mempengaruhi keikhlasan. Puasa Ramadhan itu bukan untuk kita, apalagi orang lain. Tapi puasa Ramadhan itu hanyalah untuk Allah Ta’ala semata. Cari dan pilihlah waktu jeda saat Ramadhan masih bersama kita, agar banyak amal shalih mampu kita lakukan dalam kesendirian dan ketersembunyian.









