IBNU dan Riska sama-sama terdiam. Dela sendiri tak berani berkomentar karena alur yang terjadi ternyata tak sederhana yang pernah diceritakan oleh Riska kepadanya di Ngawi.
“Ayahmu pernah menemuiku di Warkop Pinggir Kali. Ia menentang hubungan kita,” ujar Ibnu kemudian.
“Ini penyesalanku terdalam selama ini. Aku tak mampu mengubah pendapat orangtuamu terhadap diriku. Atas segala yang terjadi, aku minta maaf. Aku adalah pria Aceh. Yang tidak mungkin merebut hatimu tanpa merebut hati orangtuamu. Makanya aku kemudian pasrah,” kata pemuda itu.
Ia berbicara dengan nada cukup pelan agar ceritanya tak terdengar ke penumpang pesawat lainnya di depan dan belakang mereka.
“Kenapa Bang Ibnu tidak berusaha lebih keras agar orangtuaku bisa menerimamu kelak. Bukankah komitmen kita masih berjalan,” kata Riska.
Ibnu terdiam.
“Tapi bukankah kau kini memiliki jodoh yang telah dipilih oleh orangtuamu? Dia berprofesi sama seperti ayahmu? Ahmadi pernah melihat kalian berdua di Wong Solo Banda Aceh,” ujar Ibnu kemudian.
Kali ini cukup keras hingga beberapa penumpang lainnya menatap mereka dengan wajah penasaran.
Riska menggeleng kepala. Ia tidak tahu jika momen itulah yang membuat Ibnu memilih menghindarinya selama ini.
“Bang Ahmadi mungkin salah sangka. Lelaki itu adalah sepupuku dari Ngawi dan juga tentara. Ia pindah ke Aceh dan aku menemaninya untuk melihat Aceh,” kata Riska.
“Aku berulangkali berkunjung ke Warkop Pinggir Kali, tapi selalu ada penghalang yang membuat kita tak bisa ketemu dan menjelaskan apa yang terjadi. Hal inilah yang membuatku nyerah dan kemudian pulang ke Ngawi,” ujarnya lagi.
Riska kembali menarik nafas panjang.
“Untung ada Sri dan Dela yang membuatku tak menyerah menggapai mimpi. Tapi kemudian Bang Ibnu justru memiliki sosok lain. Aku tahunya dari Bang Ahmadi, termasuk soal berangkat ke Australia,” ujar Riska lagi.
“Apakah masih ada tempat bagiku di hati abang? Tak bisakah kita kembali seperti dulu?” ujar Riska tiba-tiba. Matanya berkaca-kaca. Tapi tanpa suara tangis.
Melihat hal ini, Ibnu merasa serba salah. Ia khawatir jika penumpang lain terganggu dengan komunikasi mereka. Ibnu khawatir jika jawabannya justru membuat tangis Riska meledak.
Ia ingin menghapus air mata di wajah wanita cantik itu. Namun niat itu kemudian diulurkannya. Ia tidak ingin menyentuh non muhrim seperti komitmennya selama ini.
Pada saat yang bersamaan, sang pilot berbicara bahwa pesawat akan tinggal landas. Penerbangan menuju Australia dimulai.
Para pramugari keluar untuk memberi arahan jika keadaan darurat terjadi. Namun Ibnu tak memperhatikan arahan tersebut sama sekali.
“Apakah aku terlalu kejam terhadap Riska? Namun berbohong soal Dara justru akan membuat dua gadis itu terluka,” gumam Ibnu. Pikirannya kalut. Ia benar-benar berada dalam suasana yang tak nyaman.
[Bersambung]









