DAYAH selalu menjadi primadona di Aceh. Dari dulu hingga sekarang. Konon, sejak awal abad 18, kekuatan dayah menjadi momok menakutkan bagi Belanda yang ingin menaklukan Aceh.
Belanda dengan mudah bisa menaklukan kaum bangsawan di Aceh. Merangkul mereka yang apatis serta memerangi sebahagian golongan penentang lainnya dengan para marsose pribumi.
Tapi politik itu tidak mempan terhadap golongan Teungku. Kaum ulama yang mengobarkan jihad serta membangun benteng dari dayah-dayah tradisional di Aceh.
Hal ini pula yang akhirnya membuat peperangan Aceh-Belanda sebagai perang terlama dalam catatan negeri kincir angin itu. Hingga akhirnya datang Teungku Puteh atau Snouck Hourgronje menjalankan politik pecah belah dan memisahkan kaum dayah dari pusat kekuasaan.
Saat kaum dayah bergeser dari pusat kekuasaan, di sinilah awal Belanda menaklukan satu persatu kerajaan kecil di bawah kerajaan Aceh.
Keluar dari zaman Belanda, posisi dayah di Aceh tetap memegang peran penting di awal-awal kemerdekaan Indonesia. Di awal 1953, sebahagian besar tentara DI/TI berasal dari dayah serta cukup merepotkan kaum republic.
Bahkan Sukarno pun harus memasukan salah satu poin ‘syariat Islam’ untuk meredam pergolakan di daerah-daerah basis Islam yang dipimpin oleh kaum dayah dalam ikral Lamteh.
Di masa Aceh berkonflik, dayah juga menjadi benteng pertahanan bagi pejuang yang berideologi Aceh serta anak didik Hasan Tiro. Hal ini pula yang membuat dayah yang memiliki pengikut fanatik dekat dengan anak-anak ideology Hasan Tiro serta tampil mesra usai Aceh-Jakarta berdamai dan memasuki tahapan perjuangan politik mulai 2005 lalu.
Terbukti, di pilkada 2007 lalu, Irwandi Nazar meraih kemenangan mutlak dari persaing utamanya Humam-Hasbi serta beberapa kandidat lainnya.
Hanya sedikit suara yang terpecahkan untuk kubu H2O saat itu.
Berdasarkan analisis sejumlah pakar, kondisi ini terjadi karena kekuatan dayah dayah dan anak ideologi Hasan Tiro masih bersatu. Era ini harusnya, menjadi tahapan urgen bagi Aceh untuk menuntaskan sejumlah persoalan antara Aceh dan Jakarta, namun hingga akhir 2012, harapan tersebut tak tercapai.
Di pemilu 2012, dukungan dari pemilik ideologi ke-Aceh-an terpecah. Ada pasangan Doto Zaini-Muzakir Manaf, Irwandi-Muhyan Yunan, dan Nazar-Nova. Suara dayah juga terpecah ke beberapa pasangan tadi.
Namun Doto Zaini-Muzakir Manaf berhasil keluar sebagai pemenang. Mereka berhasil menguasai mayoritas isu yang berkaitan dengan agama dan persoalan Aceh-Jakarta yang menjadi kekurangan pemerintahan Irwandi-Nazar pada saat itu.
Sayangnya, konflik internal antara Doto Zaini-Muzakir Manaf di tahun kedua pemerintahan justru menyisakan lubang besar bagi perjuangan politik Aceh. Tak ada kemajuan soal tuntutan realisasi kewenangan Aceh dari Jakarta. Demikian juga soal isu agama yang coba memecahkan barisan salafi dengan modern.
Kedua hal ini menjadi persoalan sendiri untuk pemerintahan yang sedang berjalan saat itu.
Kalau mau jujur, di pemilu 2017 lalu, Mualem-TA Khalid justru terjebak dalam isu Aswaja yang coba dilemparkan pihak di Jakarta. Meninggalkan pemilih dari islam modern yang diberi label ‘wahabi’ yang berada di daerah perkotaan serta focus merangkul salafi. Padahal kekuatan Islam ada jika kedua komponen ini bersatu padu. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu factor Mualem-TA Khalid gagal meraup suara basis agamis.
Keadaan ini kemudian ‘dimanfaatkan’ oleh Irwandi untuk membantu Doto Zaini dan Apa Karya guna menarik dukungan sebahagian kecil dari basis ‘ideologi Aceh’ yang harusnya menjadi milik Mualem, agar bisa tampil jadi pemenang. Terbukti pilkada 2017 menjadi milik Irwandi-Nova.
Doto Zaini dan Apa Karya sukses memecahkan suara dukungan Mualem-TA Khalid. Konon lagi, PDI Perjuangan yang menjadi partai penguasa pemerintahan yang sedang berjalan berada di kubu Irwandi-Nova.
Kini, pilkada 2022 diambang mata. Tak masuk hitungan tahun, gendrang politik kembali ditabuhkan. Ada sejumlah nama yang dikabarkan bakal maju di pilkada 2022 untuk Aceh. Namun yang jadi pertanyaan, siapa calon yang bisa merebut suara untuk basis dayah di Aceh? Belajar dari sejumlah pilkada di Aceh, calon yang bisa merebut basis dayah, kecuali 2017, adalah sang pemenang.
Uniknya, berbeda dari sebelumnya, kini ada nama besar Tusop, ulama kharismatik asal Bireuen, yang digaung-gaung bakal maju di pilkada 2022 nanti. Tusop adalah tokoh ulama yang memang lahir dari ‘rahim dayah’ di Aceh. Jika sosok ini benar-benar maju, maka mayoritas suara dari basis dayah diprediksikan bakal menjadi milik Tusop dan pasangannya nanti.
Mualem juga dikabarkan bakal kembali maju di pilkada 2022. Mualem menjadi kandidat terkuat karena menguasai basis ‘ideologi’ di Aceh. Sosok mantan panglima perang Aceh ini juga mampu merangkul basis agama atau dayah melalui organisasi MUNA yang memang berjalan seiring dengan Partai Aceh.
Tusop dan Mualem bisa jadi jadi kandidat terkuat di pilkada 2022. Untuk menang, Tusop perlu mencari pasangan di luar basis agama. Salah satunya tokoh dari basis ideologi seperti halnya Mualem. Hal sebaliknya seharusnya juga berlaku bagi Mualem, ia harus berpasangan dengan tokoh yang menguasai basis agama.
Namun yang harus diwaspadai oleh Mualem, adalah majunya sejumlah tokoh ideologi, seperti pilkada 2017, sebagai pemecah basis di pilkada 2022. Salah satu yang dikabarkan bakal maju adalah Apa Karya. Namun tak tertutup kemungkinan sejumlah nama lain akan mengikuti jejak yang sama.
Kemungkinan menang dari kecil tapi cukup mengerus suara dari basis yang sama.
Dari sejumlah nama yang baru muncul, Nova Iriansyah bisa jadi kuda hitam untuk merebut hati basis dayah di Aceh melalui kebijakannya selama memimpin di Aceh. Namun momen ini belum dimanfaatkan dengan baik. Tapi masih ada dua tahun kedepan untuk mengubah keadaan.
Apalagi jika sosok ini mampu merangkul sejumlah partai nasional serta restu pusat untuk bertarung di pilkada 2022.
Selain basis agama, ideology, factor keberpihakan atau restu pusat juga menjadi penentu pemenang di pilkada kedepan.
Tokoh lainnya yang diprediksi mampu mendulang suara dari basis agama adalah Fadhil Rahmi Lc. Ia adalah tokoh muda yang mendulang banyak suara untuk DPD RI di pileg 2019 lalu.
Pengaruh para alumni timur tengah yang mendirikan sejumlah dayah di Aceh merupakan basis utama dari sosok itu. Nama senator muda ini juga cukup berkiprah selama pandemic Corona mewabah di Aceh.
Namun untuk sosok terakhir ini, belum terdengar komitmen untuk maju tidaknya pada pilkada 2022 nanti. []










![[Opini] JKA dan Martabat Keistimewaan Aceh](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-06-at-15.09.56-350x250.jpeg)
