SUBULUSSALAM — Direktur RSUD Kota Subulussalam, dr. Dewi Sartika, mengungkapkan berbagai persoalan yang masih dihadapi rumah sakit tersebut, terutama terkait kekurangan dokter spesialis, keterbatasan pendanaan pelatihan tenaga kesehatan, hingga belum optimalnya dukungan fasilitas dari pemerintah pusat.
Hal itu disampaikan Dewi Sartika dalam pertemuan bersama jajaran pemerintah daerah dan pemangku kepentingan kesehatan, Kamis (7/5/2026).
Ia menjelaskan, sejak awal RSUD Kota Subulussalam membuka pelayanan dasar seperti penyakit dalam dan bedah dengan fasilitas yang masih sederhana. Namun, rumah sakit terus berupaya meningkatkan layanan kesehatan bagi masyarakat.
“Kami sangat membutuhkan tambahan dokter spesialis jantung. Saat ini hanya ada satu orang dan kami harus meminjam dokter dari daerah lain,” kata Dewi Sartika.
Menurutnya, layanan jantung sebenarnya ditargetkan segera berjalan, namun masih terkendala keterbatasan sumber daya manusia dan fasilitas pendukung. Rumah sakit juga telah memiliki gedung hemodialisa (HD), tetapi masih kekurangan tenaga dan alat kesehatan.
Selain dokter jantung, RSUD Kota Subulussalam juga mengalami kekurangan dokter spesialis saraf, penyakit dalam, dan dokter spesialis gigi. Beberapa dokter yang dimiliki saat ini sedang menjalani pendidikan spesialis sehingga pelayanan rumah sakit ikut terdampak.
“Dokter spesialis kami ada yang sedang sekolah, tetapi pembiayaannya menjadi kendala besar,” ujarnya.
Dewi menyebut biaya pendidikan dokter spesialis maupun pelatihan tenaga kesehatan sangat tinggi. Untuk pelatihan tertentu, biaya yang dibutuhkan berkisar Rp15 juta hingga Rp35 juta per orang.
“Kami tidak mampu membiayai semuanya sendiri. Pendidikan dokter spesialis memang sangat mahal,” katanya.
Ia juga mengungkapkan RSUD Kota Subulussalam terus didorong pemerintah pusat untuk melengkapi fasilitas layanan kesehatan, termasuk layanan kateterisasi jantung. Namun hingga kini dukungan alat dan suplai dari pusat disebut belum sepenuhnya tersedia.
Sebagai upaya memperkuat layanan, RSUD Kota Subulussalam telah menjalin nota kesepahaman (MoU) dengan RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh guna membantu pengembangan layanan dan pemenuhan kebutuhan tenaga medis spesialis.
Dewi Sartika berharap pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan dapat membantu pendanaan pendidikan dokter spesialis dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan agar pelayanan kesehatan masyarakat di Kota Subulussalam dapat berjalan lebih optimal.
Kegiatan sosialisasi kesehatan FK USK turut hadir Sekda Subulussalam Asrul Asani, Direktur RSUD Subulussalam Dewi Sartika, Kepala BKPSDM Kota Subulussalam Rano Sartono., dan Ketua Komisi II DPRK Subulussalam Hasbullah, SKM, MKM , dan DPRK fraksi PA Ardhiyanto Ujung.
Tim FK USK yang hadir diketuai Dr. H. Said Usman, S.Pd., M.Kes. Anggota tim adalah Dr. Irwan Saputra, S.Kep., M.K.M, Dr. Nasrul Z., S.T., M.Kes, Auliya Muksaimina, ST, dan Ikram, ST. []









![[Opini] JKA dan Martabat Keistimewaan Aceh](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-06-at-15.09.56-350x250.jpeg)
