PIDIE – Tidak terasa pemerintahan Kabupaten Pidie yang pimpin oleh Roni Ahmad S.E dan Fadhullah TM Daud S.T sejak 17 Juli 2020. Kepemimpinan dengan selogannya Gle, Blang dan Laot,tersebut kini mendapat sorotan yang serius dari berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa. paguyuban, ormas, OKP, dan masyarakat Pidie.
Salah satunya ungkapan dari aktivis asal Pidie, Susilawati, SE kepada media atjehwatch.com, Rabu (17/06/2020) yang mengganggap jika Pidie saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Wanita yang berdarah Pidie yang juga tercatat sebagai mahasiswi Pascasarjana Universitas Paramadina Jakarta ini menilai, Glee, Blang dan Laot, yang menjadi ikon kampanye mereka tiga tahun lalu gagal dalam memenuhi kampanyenya.
“Kesejahteraan seakan urung hadir selama pemerintahan ini. Tak adanya lapangan kerja, kelangkaan gas, pupuk, penguatan pangan, investasi yang tidak baik, komunikasi publik yang rusak total, birokrasi yang buruk sampai terjadinya beberapa pejabat lempar handuk (mengundurkan diri) ini menandakan hancurnya sistem birokrasi di Kabupaten Pidie saat ini. Harapan masyarakat pun menjadi sirna pada Abusyik dan Fadhullah TM Daud.ST,” ujar aktivis perempuan Aceh ini yang akrap disapa Susi di Jakarta.
Menurutnya, belum lagi melihat banyak sekali masalah administrasi pemerintahan Pidie yang membuat malu daerah mulai Stempel Gubernur yang ditanda tangani oleh Wakil Bupati Pidie. Terlihat dari beberapa kali statement pernyataan Abusyiek dimuka publik mengundang blunder dan juga tawa para elemen masyarakat Aceh hingga nasional yang menilai guyonan itu tak wajar seorang pemimpin.
Susi memperhatikan etika kepemimpinan Abusyik yang sangat tidak baik dalam pemerintahan serta kurang harmonisnya hubungan antara Bupati Pidie Abusyiek dengan Wakilnya Fadhullah TM Daud.ST, walau ini terjadi ada sebabnya.
“Kemudian ditambah lagi kurang bersahajanya Abusyik dalam menjalankan protokoler pemerintahan serta tidak harmonisnya hubungan Bupati dengan Wakil Bupati menjadi keputus-asaan masyarakat pada pemerintah Pidie Meusigrak dengan Glee, Blang dan Laotnya,” sambung Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam ini.
Untuk itu, dia menagih janji kampanye Abusyik dan Fadhullah TM Daud yang belum tertunaikan secara optimal selama tiga tahun kepemimpinannya jangan-jangan mereka berfikir selama ini tugas janji kampanye mereka sudah selesai dengan baik namun kenyataannya rusak dan tidak ada manfaatnya.
“Janji kampanye seolah hanya secuil coretan puisi yang didegungkan pada setiap tribun panggung kampanye di saat momentum pilkada tiga tahun lalu. Setelah menuai tepuk tangan masyarakat serta usainya pilkada, dan mereka memimpin Pidie. Lantas narasi itu hilang begitu saja tanpa adanya implementasi yang jelas sedikitpun. Memimpin suatu daerah itu bukan seperti memimpin sebuah acara pentas drama komedi melakonis dan lawak, narasi dalam dialog alur ceritanya keren, menghibur, kemudian penonton tertawa, itu sudah cukup. Tapi yang di pimpin kali ini adalah sebuah daerah dalam kehidupan nyata. Tentunya menyangkut hajat masa depan serta keberlanjutan rakyat banyak. Dari segala aspek, termasuk kesejahteraan dan kemakmuran yang merata,” jelas Susi.
Selanjutnya, ia juga mengajak generasi muda Pidie untuk berkaca pada kondisi jalanannya roda pemerintahan yang gagal ini.
“Sebagai generasi muda Pidie sudah seharusnya kita saling merapatkan barisan, menyamakan pikiran untuk mengawal sisa masa jabatan Bupati Pidie di bawah kepemimpinan Abusyiek dan Fadhullah TM Daud,” ajaknya.
Susi juga menyarankan agar di sisa pemerintahan ini memberikan solusi agar pemerintah harus transparansi terhadap masyarakat dan sinergi dengan legislatif agar pembangunan Pidie lebih baik.
“Selama ini pemuda berbeda pandangan. Tetapi kali ini saya mengajak pada pemuda untuk kembali bersatu demi merawat kepercayaan rakyat. Dalam kegelisan ini, saya mengajak pemuda dan pemudi untuk kembali bersatu, mengalih pandangan dan membangun narasi serta aksi untuk perubahan Pidie yang lebih baik. Untuk teman-teman aktivis ban sigoem Pidie dan Banda Aceh, mari bersuara bersama jangan menjadi tikus dalam perahu, satu suara apapun kondisinya, tetap mencintai Pidie sebagai rumah kita Bersama”, harap dara cantik kelahiran Pidie. Aceh itu.
Reporter: Muliadi










