JANTHO – Mahkamah Syar’iyah (MS) Jantho mengadili delapan perkara pemerkosaan di era pandemi Covid 19.
Informasi yang diperoleh atjehwatch.com dari grafik Statistik Sistem Informasi Perkara (SIPP) Mahkamah Syar’iyah Jantho mencatat penambahan perkara tindak pidana Islam (jarimah Jinayat) untuk 2020. Hal ini juga terdapat klasifikasi perkara yang berbeda dengan 2019.
Ketua Mahkamah Syar’iyah Jantho, Siti Salwa SHI MH, melalui humasnya Teungku Murtadha Lc yang dihubungi oleh awak media menyampaikan, perkara jinayat di Aceh Besar meningkat di masa pandemi Covid 2020, dibandingkan dengan perkara jinayat pada 2019.
Di SIPP Mahkamah Syar’iyah Jantho, pada 2019 terdapat 18 perkara. Sedangkan di 2020 dengan 22 perkara.
Perkara pemerkosaan mendominasi perkara yang diadili di 2020. Adapun klasifikasi yaitu pemerkosaan 8 perkara, Ikhtilat 4
Perkara, judi 3 perkara, zina 5 perkara, liwath 1 perkara, khalwat 1 perkara dan pelecehan seksual 1 perkara.
“Pada tahun 2020, ada 5 perkara yang menyita perhatian publik. Adapun rinciannya, 3 perkara perkosaan, dua perkara dilakukan oleh mahramnya yaitu terdakwa ayah dan paman kandung sebagai pelaku, serta satu perkara pemerkosaan terhadap korban disabilitas dengan pelaku lansia, dan perkara zina, serta satu perkara liwath (sodomi) dimana korban dan pelaku masih sama sama dibawah umur yang di adili dengan Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak sebagai hukum formil dan Qanun Jinayat Nomor 4 tahun 2014 sebagai hukum formil,” kata Murtadha yang sejak April 2020 dilantik sebagai salah satu Hakim yang bertugas di Mahkamah Syar’iyah Jantho. []











