Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Ekonom Sarankan Adanya Perencanaan untuk Lepas dari Kemiskinan Aceh

Admin1 by Admin1
23/02/2021
in Ekonomi
0
Pemerintah Targetkan RI Bebas Kemiskinan Ekstrim pada 2024

BANDA ACEH – Pakar ekonomi dari Universitas Syiah Kuala (USK) Muhammad Nasir menyarankan adanya perencanaan yang memadai antara pemangku kepentingan terkait agar Provinsi NAD bisa lepas dari status sebagai daerah termiskin se-Sumatra.

“Perlu adanya perencanaan komprehensif dengan melibatkan banyak pihak termasuk pakar kemiskinan (akademisi), dunia usaha, dan stakeholder lainnya,” kata Nasir, dikutip dari Antara, Senin, 22 Februari 2021.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh merilis data bahwa Aceh menempati posisi termiskin di Sumatera dengan jumlah penduduk miskin pada September 2020 mencapai 833.910 orang atau 15,43 persen.

Nasir mengatakan upaya yang bisa dilakukan Pemerintah Aceh untuk menurunkan angka kemiskinan adalah dengan mengupayakan pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) setiap tahunnya tepat waktu, agar realisasinya lebih optimal.

Kemudian, ia menambahkan, Pemerintah Aceh perlu meningkatkan efisiensi belanja daerah dengan memprioritaskan pada program peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, menurut Nasir, diperlukan adanya penguatan dan sinergi antara lembaga eksekutif dengan legislatif Aceh dalam perencanaan dan pengawasan pembangunan.

“Terakhir, perlu memperluas akses permodalan bagi UMKM dengan melibatkan bank/lembaga keuangan milik daerah serta lembaga keuangan lainnya di Aceh,” ujar alumnus Georgia State University, Amerika Serikat itu.

Nasir menilai posisi Aceh sebagai provinsi termiskin harus menjadi perhatian pemerhati masalah kemiskinan dan masyarakat, karena Aceh merupakan daerah khusus yang memiliki dana Otonomi Khusus (Otsus) yang jumlahnya mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya.

“Seharusnya keberadaan dana Otsus bisa mengurangi tingkat kemiskinan di Aceh secara berkelanjutan. Namun tren penurunan kemiskinan di Aceh menunjukkan kurva yang mendatar (flat) atau melambat. Sementara di sisi lain, tambahan dana Otsus setiap tahunnya signifikan,” katanya.

Berdasarkan data Bappeda Aceh, alokasi dana Otsus sejak 2004 didominasi untuk pembiayaan infrastruktur, disusul sektor pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi. Namun, terjadi perubahan sejak beberapa tahun belakangan ini.

“Pada 2018 dan 2019, alokasi dana Otsus Aceh untuk pemberdayaan ekonomi sudah menjadi prioritas kedua setelah infrastruktur,” ujar Nasir.

Lulusan program doktor University of Bonn Jerman ini menyatakan alokasi dana Otsus Aceh seharusnya bisa memberikan manfaat ekonomi dalam jangka panjang (long-run) seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.

Selain itu, dana Otsus juga dapat memberikan manfaat segera atau dalam jangka pendek (short-run) seperti pemberdayaan ekonomi, pengentasan kemiskinan, sosial, serta keistimewaan Aceh.

Oleh karena itu, jika melihat lambatnya penurunan kemiskinan di Aceh, maka alokasi anggaran harus segera diprioritaskan pada program jangka pendek (short-run) dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat.

“Ditambah lagi dalam kondisi pandemi covid-19 saat ini, income security masyarakat dan kondisi dunia usaha perlu menjadi perhatian khusus Pemerintah Aceh,” kata Nasir.

Dalam kesempatan ini, Nasir menyarankan, dalam proses perencanaan daerah, masing-masing SKPA (Satuan Kerja Perangkat Aceh) dan juga di kabupaten/kota se-Aceh tidak boleh mengedepankan program sendiri saja.

Untuk itu, ia mengingatkan perlunya sinergi pada indikator penurunan kemiskinan dan perbaikan variabel ekonomi makro lainnya termasuk upaya menurunkan angka pengangguran.

Secara keseluruhan, Nasir menilai Pemerintah Aceh perlu menjalankan program prioritas jika ingin menurunkan kemiskinan dan membawa Aceh pada posisi tingkat kemiskinan rendah baik di Sumatera atau secara peringkat nasional.

Nasir mengharapkan penyelesaian permasalahan kemiskinan ini harus dipetakan (mapping) terlebih dahulu, sehingga kebijakan yang dijalankan tidak hanya secara makro saja.

“Perlu kebijakan berdasarkan karakteristik kemiskinan seperti demografi, geografis, kelompok pekerjaan, dan karakteristik lainnya. Serta langkah spesifik dalam meningkatkan pendapatan kelompok pekerjaan yang rentan terhadap kehilangan pendapatan,” kata dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) USK itu.

Sumber: medcom.id

Previous Post

Zulkifli Hasan Tunjuk 4 Ketua DPD PAN di Aceh, Siapa Saja?

Next Post

Mahkamah Syar’iyah Jantho Adili 26 Perkara Hari Ini

Next Post

Mahkamah Syar'iyah Jantho Adili 26 Perkara Hari Ini

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Imigrasi Deportasi Empat WN China Langgar Izin di Aceh

Imigrasi Deportasi Empat WN China Langgar Izin di Aceh

01/07/2026
USK Apresiasi Bantuan Pemerintah Jepang untuk Penguatan Mitigasi Bencana di Aceh

USK Apresiasi Bantuan Pemerintah Jepang untuk Penguatan Mitigasi Bencana di Aceh

01/07/2026
Mahasiswa Tagih Janji Politik: Masyarakat Berhak Bertanya di Mana Letak ‘Arah Baru Abdya Maju’ Jika APBK Hanya untuk Foya-Foya

Mahasiswa Tagih Janji Politik: Masyarakat Berhak Bertanya di Mana Letak ‘Arah Baru Abdya Maju’ Jika APBK Hanya untuk Foya-Foya

01/07/2026
Mualem Pastikan Hilirisasi Migas Blok Andaman

Mualem Pastikan Hilirisasi Migas Blok Andaman

01/07/2026
Siswa SMAN 2 Sinabang Lolos ke Provinsi Seleksi Pelajar Pelopor Keselamatan LLAJ

Siswa SMAN 2 Sinabang Lolos ke Provinsi Seleksi Pelajar Pelopor Keselamatan LLAJ

01/07/2026

Terpopuler

Di Balik Tambang Rp 200 Triliun Beutong Ateuh: Jejaring Buronan Cina, ‘Gubernur Bayangan’, dan Arogansi Penguasa

Di Balik Tambang Rp 200 Triliun Beutong Ateuh: Jejaring Buronan Cina, ‘Gubernur Bayangan’, dan Arogansi Penguasa

30/06/2026

Ekonom Sarankan Adanya Perencanaan untuk Lepas dari Kemiskinan Aceh

Malangnya Nasib Asri, Bus Terbakar Habis Masih Bebani Ganti Rugi

PN Meureudu Berhasil Laksanakan Eksekusi Sukarela Ruko di Pidie Jaya

Sekda Aceh Ikuti Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat I LAN RI

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com