BLANGPIDIE– Rangkaian peringatan HUT RI Ke-81 di salah satu Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Aceh Barat Daya menjadi sorotan masyarakat.
Hal ini dipicu beredarnya dokumentasi kegiatan di mana, sejumlah siswa laki-laki diduga mengenakan pakaian perempuan sebagai baju olahraga sepak bola dalam salah satu mata acara perlombaan.
Video/Foto yang beredar memperlihatkan para siswa tersebut mengikuti lomba dengan atribut yang dianggap sebagian pihak tidak sesuai dengan norma kesusilaan, adat, dan syariat Islam yang berlaku di Aceh.
Salah seorang wali murid yang tidak ingin disebutkan namanya menyayangkan kejadian tersebut.
“Dunia pendidikan di Indonesia memiliki fungsi membentuk karakter peserta didik yang berakhlak mulia. Normalisasi anak laki-laki berpakaian perempua, fenomena ini dinilai melanggar aturan karena beberapa alasan
Setiap sekolah memiliki regulasi ketat mengenai atribut dan seragam siswa berdasarkan jenis kelamin biologis. Siswa laki-laki wajib mengenakan celana, dan siswi perempuan mengenakan rok atau celana panjang khusus wanita.
“Membiarkan siswa laki-laki memakai pakaian perempuan dinilai mencederai nilai kesopanan di lingkungan institusi pendidikan formal,” ujarnya.
Pihak sekolah saat dikonfirmasi awak media melalui panggilan dering WhatsApp membenarkan kejadian tersebut. Menurut mereka itu adalah sebuah kebetulan, dimana kegiatan agenda memperingati HUT RI itu dilaksanakan oleh OSIS.
“Semua kegiatan dilaksanakan oleh OSIS. Apa yang menjadi sebuah keputusan rapat OSIS tentang rangkaian kegiatan adalah keputusan bersama OSIS, dan itu bukan sebuah keputusan sekolah,” kata pihak Sekolah.
Saat ditanya, apakah pihak sekolah atau pembina OSIS membenarkan kegiatan normalisasi anak-anak laki-laki berpakaian perempuan tersebut meski hanya perlombaan dan hiburan. Pihak sekolah memilih bungkam dan menyela bahwa akan menanyakan langsung ke pembina OSIS.
“Ya kalau itu kami tidak tau, kebetulan pembina OSIS sedang berada di Candin. Nanti saya tanya,” katanya.
Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Pendidikan Wilayah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Andri Novidar menyatakan telah menerima laporan dan sudah melakukan klarifikasi ke pihak sekolah.
“Kami sangat menyayangkan jika kegiatan HUT RI justru keluar dari nilai pendidikan karakter. Kami sudah panggil pihak sekolah untuk dimintai keterangan dan pembinaan. Peringatan kemerdekaan harus mendidik, menjunjung norma agama, adat, dan aturan yang berlaku,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pihak Kacabdin meminta maaf atas keteledoran pihaknya dalam hal pengawasan. Ia juga meminta terima kasih kepada pemerhati pendidikan, dan masyarakat yang telah melakukan pengawasan bersama terhadap pendidikan kita di Abdya, umumnya Aceh.
“Kami meminta maaf atas kejadian tersebut, kemudian kami juga telah meminta pihak sekolah menghentikan kegiatan perlombaan bola kaki yang para siswa laki-laki mengenakan pakaian perempuan itu,” pungkas Kacabdin Abdya.






