SURABAYA – Akmal Fahmi adalah putra kelahiran Aceh, kini mencalonkan diri untuk menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI).
Akmal Fahmi dan para cabang pendukungnya se-Indonesia secara tidak langsung mengingatkan kembali keleladanan generasi muda HMI Aceh dalam kancah politik nasional, sebagai antitesa sepuluh tahun terakhir sering mengalami kandas, salah satu faktanya ketika Kongres HMI di Riau kala itu.
Lelaki kelahiran Bireuen 7 Juni 1991 ini hadir membangun citra Aceh di kancah politik kepemudaan nasional (PB HMI). Apa yang sedang ditempuh oleh beliau, patut diapresiasi oleh seluruh masyarakat Aceh, terutama kader HMI se-Aceh.
Di tengah kemerosotan integritas para politisi atau kepemimpinan di Aceh sudah selayakna kader HMI Se-Aceh menampakkan diri untuk membangun konsolidasi politik HMI dalam membangun integritas dan marwah Aceh di mata Indonesia. Sebab hanya di tangan anak muda (kader HMI Aceh) Aceh dapat diperbaiki. Terlebih dalam kurun waktu dua puluh tahun terakhir ini lintas cabang HMI se-Aceh selalu pecah, tak menyatu, hingga pada akhirnya menjadi guyonan cabang recehan di mata kader HMI se-nasional.
Mendukung dan mengapresiasi langkah Akmal Fahmi dalam konteks ini bukanlah berangkat dari hasrat politik pragmatis, Akmal Fahmi dengan visioner pengalamannya menjadi aktivis kampus dan aktivis HMI yang santun dan militan. Meniti karier sebagai mantan Ketua Umum HMI Cabang Bekasi, melesat tajam menjadi Ketua Bidang PTKP BP HMI Periode 2018-2020, hingga meneguhkan sikap untuk berkontestasi menjadi ketua umum dalam Kongres HMI ke 31 di Surabaya.
Dalam dunia akademik, saat ini beliau sedang menempuh studi magister (S-2) di Universitas Paramadina. Sehingga menjadi alasan kuat untuk memenangkan Akmal Fahmi di kongres kali ini.
Telah menjadi sejarah di Indonesia, generasi Aceh memiliki jiwa militansi yang tinggi, mengayomi. Aceh pernah membangun bangsa Indonesia dengan kearifan lokalnya justru memicu militansi daerah lainnya untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia.
Kini, Akmal Fahmi telah membuka celah itu, ia secara tidak langsung menciptakan cerminan bagaimana integritas kader HMI se-Aceh hari ini. Strategi harmonis HMI yang terus dimainkan oleh Akmal Fahmi bersama rekan-rekan mesti disambut baik dan aktif untuk memenangkan Akmal Fahmi sebagai wujud untuk mengulang kejayaan HMI Aceh untuk kemajuan bangsa.
Sebab posisi Aceh tidak diragukan lagi untuk memimpin atau memperbaiki situasi kebangsaan dan keindonesiaan hari ini. Semestinya kader HMI berjuang secara harmonis, mengedepankan diplomasi integritas tanpa memberi peluang olah-olah di setiap pesta kongres HMI. Konkretnya, kader HMI se-Aceh hari ini mesti membuka mata bahwa untuk merubah citra Aceh yang lebih baik dari HMI ada di tangan mereka.
Artinya, kini HMI Aceh sedang berada di persimpangan yang terjal lagi suram di mata kader HMI se-tanah air. Oleh karena itu, komitmen Akmal Fahmi untuk meraih posisi ketua umum PB HMI patut dijadikan kenderaan bagi kader HMI se-Aceh bahwa putra Aceh benar-benar layak memimpin PB HMI sebagai hasil Kongres ke-XXXI Surabaya. Wait and see. [ ]










