Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Nanggroe

Akademisi: Pemerintah Aceh Masih ‘Impoten’ di Mata Rakyat

Admin1 by Admin1
25/04/2021
in Nanggroe
0
BRA Diminta ‘Tak Lambong-lambong Kupiah’ Atas Nama Korban Konflik

Usman Lamreung

BANDA Aceh – Keberadaan Pemerintah Aceh selama dua dasawarsa terakhir terasa absen di mata rakyat, bahkan terkesan impoten. Pemerintah Aceh dinilai seperti tak berfungsi atau tak ada gunanya.

“Padahal kepada Aceh sejak tahun 2008 telah diberikan dana otonomi khusus untuk memacu ketertinggalan pembangunan akibat konflik panjang, mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kualitas pendidikan,” kata akademisi Universitas Abul Yatama (UNAYA) Aceh Besar, Usman Lamreung, Sabtu 24 April 2021 .

“Tapi lihatlah angka kemiskinan di Aceh, tetap saja juara miskin di Sumatera. Mutu pendidikan juga rendah, lulusan SLTA di Aceh kalah saing dalam UTBK masuk PTN tiap tahun ajaran,” kata tokoh Aceh Besar ini lagi.

Usman yang mantan pekerja rehab rekon di Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh – Nias itu menyebutkan, impotensi pemerintah Aceh akhirnya harus dibantu oleh Pemerintah Pusat melalui sejumlah program strategis untuk meningkatkan perekonomian rakyat Aceh.

Beberapa hari lalu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marven) melakukan rapat koordinasi bersama Menteri Perhubungan, Menteri ESDM, Menteri Perindustrian, Menteri PUPR, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Pertanian, Menteri Agraria dan Tata Ruang, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Gubernur Aceh, dan para Bupati/Walikota 23 kabupaten dan kota, membahas percepatan pembangunan Aceh.

Rapat Koordinasi tersebut digelar bertujuan untuk Pengembangan Wilayah dan Percepatan Pembangunan Infrastruktur Aceh, yang selama ini terkesan lambat, sehingga berdampak pada lemah pertumbuhan ekonomi, sempitnya lapangan kerja, dan beberapa program Pemerintah Aceh tidak berjalan alias jalan ditempat seperti Kawasan Industri Aceh, Kawasan Ekonomi Khusus, belum mampu memberikan peningkatan pendapatan Aceh, untuk kesejahteraan rakyat Aceh

Dalam rapat tersebut dibahas enam rencana pengembangan pembangunan yang menjadi perhatian kementerian terkait. Keenam rencana itu, adalah pengembangan pembangunan konektivitas dan aksesibilitas transportasi darat, konektivitas transportasi laut, konektivitas transportasi udara, pengembangan Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong, pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe, dan rencana investasi Uni Emirat Arab (UEA) di Kepulauan Banyak, Singkil.

“Kita apresiasi pemerintah pusat atas rencana enam program pengembangan wilayah dan percepatan pembangunan Aceh. Ini mengindikasikan bahwa pemerintah pusat serius percepatan pembangunan Aceh. Program-program besar seperti ini yang sebenarnya yang ditunggu rakyat Aceh, berdampak pada pemerataan pembangunan dan membuka peluang berbagai sektor seperti parawisata, membuka aksesibilitas antar pulau, dan darat, selama ini terjadi kesenjangan dalam pemerataaan pembangunan.”

“Program tersebut seharusnya menjadi program periotas Aceh Hebat, namun selama ini rakyat Aceh kecewa atas berbagai program pemerintah Aceh yang hanya kegiatan lebih pada kegiatan serimonial saja, Program Bereh, Penyerahan SK PNS baru ke berbagai Daerah, Penyerahan Bantuan Covid-19, dan berbagai kegiatan lainnya yang sangat kental acara serimonial.”

“Sepertinya tiga tahun terakhir apapun yang sudah diprogramkan dalam Aceh Hebat tidak berjalan sesuai target yang ingin dicapai, termasuk gagalnya berbagai investasi yang tak kunjung datang dari para investor biarpun sudah ada MOU. Sepertinya sangat Lemah periode pemerintahan sekarang, malah timbul berbagai polemik, konflik dengan DPRA, proyek multiyear, masalah dana recofusing, penanganan covid dan bantuan sosial masa pandemi, dan banyak lainnya. Sehingga harus ada ikut campur pemerintah pusat, mensuport pemerintah Aceh seperti investasi, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Kawasan Industri Aceh dan Parawisata Aceh Singkil,” kata Usman.

Hal ini, kata dia, adalah momentum yang sangat baik bagi Aceh. Dimana, enam program tersebut akan mempercepat pembangunan Aceh, dan berdampak pada kesejahteraan rakyat Aceh nantinya. Pembangunan konektivitas penghubung dan aksesibiltas trasportasi darat, laut dan udara, tentu sebagai upaya membuka pertumbuhan ekonomi berbagai sektor, seperti pertanian, perkebunan, parawisata dan lainnya yang mempermudah akses pelaku usaha dan kegiatan ekonomi masyarakat, selama ini masih menjadi kendala dan masalah. Pengembangan sarana prasarana transportasi di sejumlah wilayah di Aceh, juga mendukung sentra industri dan ekonomi yang ada.

Kawasan Industri Aceh, Kawasan Ekonomi Khusus, dan Pengembangan sektor parawisata juga memperlancar investasi wisata di Aceh Singkil, penting penguatan sarana prasarana.

“Pemerintah Aceh, Bupati/Walikota, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya harus terus membangun koordinasi dan komunikasi dengan pemerintah pusat, khusus enam program pengembangan wilayah dan percepatan pembangunan Aceh, agar program ini berjalan, jangan sampai program tersebut hanya sebatas rencana dan wacana, namun tanpa ada reaksi. Ini adalah program pemerintah pusat untuk kepentingan kesejahteraan rakyat, dan juga akan membuka peluang-peluang kerja bagi rakyat Aceh,” ujarnya.

Previous Post

PNA Minta Dewan Aceh Jaya Kritisi LKPJ Bupati

Next Post

Polisi Perketat Pengawasan Pesisir Timur Laut Aceh

Next Post
Polisi Perketat Pengawasan Pesisir Timur Laut Aceh

Polisi Perketat Pengawasan Pesisir Timur Laut Aceh

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Ohku, Wabup Pijay Didesak Nonaktif Sementara Demi Prinsip Equality Before The Law

Ohku, Wabup Pijay Didesak Nonaktif Sementara Demi Prinsip Equality Before The Law

10/04/2026
Hemat BBM, Pemkab Aceh Barat Terapkan Aturan Bersepeda ke Kantor

Hemat BBM, Pemkab Aceh Barat Terapkan Aturan Bersepeda ke Kantor

10/04/2026
Irmawan Dorong Percepatan Pemulihan Infrastruktur Pascabencana Aceh

Irmawan Dorong Percepatan Pemulihan Infrastruktur Pascabencana Aceh

10/04/2026
BPBD Simeulue Kerahkan Bantu Warga Terdampak Banjir

Warga Pidie Jaya Aceh Kembali Mengungsi Akibat Banjir

10/04/2026
Illiza Terbitkan Surat Edaran WFO–WFH untuk ASN

Illiza Terbitkan Surat Edaran WFO–WFH untuk ASN

10/04/2026

Terpopuler

Mualem Kantongi Dua Nama Calon Pengganti Abang Samalanga

Mualem Kantongi Dua Nama Calon Pengganti Abang Samalanga

09/04/2026

JKA; Diluncurkan Masa Irwandi, Ditiru Nasional, Serta ‘Dipangkas’ Era Mualem

Dua Terpidana TPPU Masuk DPO Kejari Banda Aceh

20 Santri Al Zahrah Beunyot Dinyatakan Lulus SPAN PTKIN 2026

Polda Ambil Alih Kasus Dugaan Penganiayaan Wabup Pidie Jaya

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com