Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Nasional

Pelajaran untuk Menhan dari Tragedi KRI Nanggala-402

Atjeh Watch by Atjeh Watch
27/04/2021
in Nasional
0
Pelajaran untuk Menhan dari Tragedi KRI Nanggala-402

Jakarta – Negara sepantasnya memberikan penghargaan kepada 53 Prajurit dan awak Kapal Selam KRI Nanggala-402 yang gugur.

Tidak kalah pentingnya lagi, Pemerintah harus melakukan banyak pembenahan di sektor Pertahanan agar pengorbanan para prajurit itu tak sia-sia.

Pemerintah seharusnya tak salah mengambil pelajaran dari kecelakaan kapal selam KRI Nanggala-402. Negara memang sepantasnya memberikan penghargaan kepada 53 prajurit dan awak kapal yang gugur. Ucapan belasungkawa pun sepatutnya kita sampaikan kepada keluarga yang berduka. Namun, yang tak kalah penting, pemerintah harus melakukan banyak pembenahan agar pengorbanan para prajurit itu tak sia-sia.

Apalagi ini bukan kecelakaan kapal perang pertama. Nanggala pernah gagal menembakkan torpedo dalam latihan perang pada 2012. Tiga prajurit gugur. Padahal, kala itu, Nanggala dilaporkan baru menjalani perbaikan dengan anggaran Rp 1,05 triliun. Kecelakaan sebelumnya, kapal patroli serang bekas Australia, KRI Sibarau-847, tenggelam di Selat Malaka pada 2017. Lalu, pada 2020, kapal perang bekas Jerman, KRI Teluk Jakarta-541, juga tenggelam di perairan Pulau Kangean, Jawa Timur.

Pemerintah harus mengaudit riwayat perawatan kapal yang celaka serta kapal-kapal tua milik TNI Angkatan Laut lainnya. Audit itu diperlukan untuk memastikan anggaran perawatan kapal dipakai dengan semestinya, sekaligus untuk mencegah kecelakaan berulang. Karena itu pula, hasil audit tersebut perlu dibuka kepada masyarakat luas.

Meski demikian, kecelakaan kapal perang yang berulang seharusnya tak menjadi alasan untuk segera membeli alat militer secara besar-besaran, seperti digaungkan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Sebab, Indonesia tidak sedang menghadapi ancaman perang terbuka dari negara tetangga. Sejumlah kajian intelijen memprediksi, dalam beberapa dekade ke depan, tidak akan ada perang senjata terbuka antar-negara.

Ambisi peremajaan senjata dan peralatan militer jangan sampai membuka peluang untuk korupsi dan bagi-bagi komisi. Syak wasangka seperti itu sulit ditepis karena pemerintah Indonesia punya catatan masa lalu yang buruk soal pengadaan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista). Contohnya pembelian pesawat tempur Sukhoi yang tidak berguna karena tak ada senjatanya serta pembelian tank Leopard yang tidak cocok untuk medan Indonesia. Kasus terakhir, mengabaikan larangan pada Undang-Undang Industri Pertahanan, pemerintah menjajaki pembelian 15 Jet tempur Eurofighter Typhoon bekas dari Austria.

Semua fakta itu membuktikan bahwa pemerintah kerap salah dalam merencanakan pengadaan alat pertahanan. Pangkal kesalahan itu, antara lain, adalah pengadaan alat militer yang tak pernah terbuka. Kita tahu, ketertutupan dalam penggunaan anggaran selalu rawan penyimpangan.

Sebelum membuat rencana belanja senjata, negara seharusnya merumuskan lebih dulu ancaman ke depan atas pertahanan itu sebetulnya apa. Kalau tidak ada ancaman konflik militer terbuka, untuk apa memborong Alutsista.

Ancaman nyata di depan mata adalah serangan terorisme, perang ekonomi, dan serangan lain berbasis teknologi informasi. Semua itu tak bisa dihadapi dengan menambah senjata seperti untuk persiapan perang fisik terbuka.

Transparansi menjadi kian penting ketika Kementerian Pertahanan tahun ini mendapat anggaran sangat besar, sekitar Rp 137 triliun—kedua terbesar setelah anggaran Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Anggaran Kementerian Pertahanan naik 14 persen dibanding pada tahun lalu—sekitar Rp 118 triliun—antara lain untuk paket-paket belanja Alutsista. Celakanya, jauh-jauh hari Menteri Prabowo sudah mengatakan bahwa rincian anggaran pertahanan termasuk rahasia negara. Padahal setiap sen uang rakyat harus digunakan secara terbuka dan bertanggung jawab.

Singkat kata, pembenahan sistem pertahanan tak bisa diterjemahkan secara sempit menjadi penambahan Alutsista, seperti halnya Nasionalisme yang harus dibedakan dari Militerisme. Membanggakan kekuatan militer sebagai ungkapan cinta kepada negara adalah cara berpikir yang ketinggalan zaman. Lebih buruk lagi bila di balik gembar-gembor penguatan Alutsista itu ada niat untuk bancakan anggaran.

Sumber: Tempo.co

Previous Post

Curhat Anita ‘THL Pijay yang Terbaring Sakit’ ke Syech Fadhil

Next Post

Aceh Barat Tetapkan Takaran Zakat Fitrah 2,8 Kilogram Beras

Next Post
Aceh Barat Tetapkan Takaran Zakat Fitrah 2,8 Kilogram Beras

Aceh Barat Tetapkan Takaran Zakat Fitrah 2,8 Kilogram Beras

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

BBPOM Aceh Musnahkan 224 Produk Tak Penuhi Syarat

BBPOM Aceh Musnahkan 224 Produk Tak Penuhi Syarat

01/04/2026
Pemkab Aceh Jaya dan Ketua DPRK Temui Wakil Menteri Perumahan Bahas Permukiman Nelayan

Pemkab Aceh Jaya dan Ketua DPRK Temui Wakil Menteri Perumahan Bahas Permukiman Nelayan

01/04/2026
Cak Imin Resmi Kukuhkan Pengurus DPW PKB Aceh 2026–2031

Cak Imin Resmi Kukuhkan Pengurus DPW PKB Aceh 2026–2031

01/04/2026
Prabowo Tawarkan PM Jepang Kerja Sama Hilirisasi Rare Earth RI

Prabowo Tawarkan PM Jepang Kerja Sama Hilirisasi Rare Earth RI

01/04/2026
Trump Sindir ‘Bestie’ yang Ogah Bantu Serang Iran: Beli BBM di Kami

Trump Sindir ‘Bestie’ yang Ogah Bantu Serang Iran: Beli BBM di Kami

01/04/2026

Terpopuler

Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

27/03/2026

Demokrat Aceh Besar “Pasang Badan”: Nurdiansyah Alasta Loyal, Pemersatu, dan Layak Pimpin Demokrat Aceh

Rumah Warga Abdya di Banda Aceh Dijarah Maling, Warga Minta Polisi Serius

KPA Pase Mulai ‘Gerah’ dengan Kepemimpinan Abang Samalanga di DPR Aceh

Pelajaran untuk Menhan dari Tragedi KRI Nanggala-402

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com