DARI komplek perumahan DPR Aceh, mobil yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan sedang ke arah Jalan Banda Aceh-Medan.
Mobil disopiri langsung oleh Iskandar Usman Al-Farlaky. Sedangkan Pawang Jamal duduk di sisi kiri Iskandar.
Pawang Jamal lebih banyak terdiam. Masker putih tak pernah lepas dari mulutnya.
Pawang Jamal mengaku sudah banyak melalui tes antigen dari penjara Kwathong menuju Yangon, Myanmar, hingga transit ke Kuala Lumpur Malaysia. Dari Kuala Lumpur kemudian terbang ke Jakarta dan diserahkan ke perwakilan Aceh di sana.
“Sudah tak terhitung (tes antigen-red),” ujar Pawang Jamal.
Kehidupan di penjara Kwathong tak lebih baik.
“Satu sel dihuni oleh 90 orang. Ada ketua penjara, sekretaris hingga bendahara. Mereka diberi hak istimewa di dalam penjara dibandingkan dengan napi lainnya,” ujar Pawang Jamal.
Setiap hari, kata Pawang Jamal, mereka diberikan nasi plus kacang rebus.
“Hanya tiga kali selama sepekan yang diberi ikan. Mau tak mau,” kenang Pawang Jamal.
“Tak ada keluarga yang menjenguk. Jadi mau tak mau ya menikmati makanan yang diberikan petugas. Kalau rasanya yang tanya. Hambar. Kalau stres di penjara, pasti meninggal, seperti almarhum Zulfadhi.”
Pawang Jamal mengaku menghabiskan sekitar 5 kali lebaran dalam sel.
“Kalau untuk ibadah (salat-red) tak ada tempat khusus dalam sel. Hanya ketika lebaran, yang muslim diberikan sel khusus untuk salat. Ada sekitar 300-san yang muslim, tapi yang dari Indonesia cuma saya. Tapi tak ada khutbah, hanya salat. Usai salat, kami diperbolehkan minum kopi dan diberi kue. Kemudian seperti biasa lagi,” kata Pawang Jamal.
“Berat,” tambah dia.
Pawang Jamal sendiri dijatuhkan hukuman selama 7 tahun penjara. Namun karena berkelakuaan baik, ia mendapat remisi ‘4-1’ beberapa kali.
“Artinya 4 bulan penjara, dikurang satu bulan,” ujarnya.
Harapan Pawang Jamal tumbuh awal April lalu, ia dipanggil sipil penjara untuk difoto. Menurut keterangan dari para napi, itu petanda ia hampir bebas.
Apa yang disampaikan sesama rekannya di penjara ternyata benar adanya.
“Tanggal 12 April, saya akhirnya dinyatakan bebas. Namun tak ada yang menjemput. Akhirnya saya kembali ke penjara awal ditahan. Sudah bebas tapi tetap ditahan,” kata Pawang Jamal.
Iskandar yang sedang fokus mengemudi tiba-tiba mengelutuk.
“Jadi droneuh kajeut bahasa Myanmar,” tanya Iskandar.
Pawang Jamal tersenyum. “Jeut bacut-bacut. Minimal meunyoe diteunak lam bahasa Myanmar kajeut tajaweub,” ujarnya.
Jelang buka puasa, Iskandar memarkir mobil di depan sebuah warung di depan Masjid Padang Tiji, Kabupaten Pidie.
Kami kemudian berbuka dengan menu Aceh. Menurut Pawang Jamal, menu tersebut mengembalikan rasa ‘Aceh’ pada lidahnya.
“Katrep that hana tarasa masakan Aceh,” ujarnya.
Ia juga meminta izin untuk salat di Masjid Padang Tiji.
“Di Myanmar hana masjid, yang lee Pagoda,” kata dia lagi.
[Bersambung]








