Medan – Di era digital seperti sekarang, setiap individu dituntut untuk memiliki digital skill dalam menunjang aktivitasnya sehari-hari. Salah satu digital skills tersebut ialah digital marketing yang berkembang pesat seiring bergesernya pola pemasaran dari offline ke online. Dalam hal ini, seorang individu dituntut memiliki literasi digital yang cakap karena mereka diharapkan tidak hanya mampu mengoperasikan berbagai perangkat teknologi informasi dan komunikasi saja, tetapi juga bisa mengoptimalkan penggunaannya untuk mencapai manfaat sebesar-besarnya baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.
Hal inilah yang membuat Kementerian Komunikasi dan Informatika RI mengangkat tema Tips dan Trik Membuat Konten yang Menarik bagi Generasi Milenial dalam seri webinar Literasi Digital yang dibuat di Medan, Sumatera Utara, Rabu (2/6/2021). Webinar ini diikuti lebih dari seratus peserta dan menghadirkan empat narasumber, yaitu Head of Digital Marketing TukangSayur.co Bugi Suseno, Co-Founder & CEO PT Svara Inovasi Indonesia Farid Fadhil Habibie, Dekan FEBI UIN Sumatera Utara Muhammad Yafiz, dan momblogger Nurul Fauziah, dan menghadirkan key opinion leader Fikri Haikal.
Bugi Suseno dalam paparannya tentang Chance and Challenge in Digital Skill mengatakan, dunia digital bertujuan melibatkan dan meningkatkan relasi dengan konsumen. Di era seperti sekarang, dunia bisnis tidak hanya fokus pada produk mereka, tetapi juga kepada konten. Karenanya digital marketing memegang peranan penting untuk mendukung eksistensi bisnis yang dibangun.
“Semakin bagus kontennya, bisnis akan mengikuti. Kreativitas konten sangat dituntut dalam dunia bisnis untuk menginformasikan produknya,” kata Bugi.
Bugi merincikan, ada tiga elemen penting dalam digital marketing, yakni traffic, conversion, dan engagement. Ia juga menekankan bahwa digital marketing bukanlah media sosial, website, atau e-commerce, melainkan tools untuk mendapatkan data atau followers. Beberapa tool yang familier di dunia marketing seperti search engine optimization (SEO), Google Ads, social media marketing, content marketing, RetergatingAds, email marketing, dan influencer marketing. Media sosial kata Bugi memegang peranan penting untuk memaksimalkan digital marketing karena di sinilah pangsa pasar terbangun.
“Dalam dunia digital yang paling penting adalah konsistensi, yaitu menentukan target, fokus pada platform yang akan digunakan, dan bagaimana kita mengedukasi konsumen dengan konten-konten yang interaktif dan menggunakan pendekatan copywriting,” katanya.
Sementara itu, Farid Fadhil Habibie, yang mengangkat tema Dunia Maya dan Rekam Jejak Digital, menjelaskan bahwa internet telah membawa perubahan bagi peradaban manusia. Berbagai informasi dari hal sepele hingga besar berlalu lalang di internet. Namun, ia mengingatkan, bahwa dalam dunia maya potensi terjadinya bias fakta seperti hoaks sangat mungkin terjadi. Berbeda dengan dunia nyata yang berbasis fakta. Dalam dunia nyata informasi diakses secara terbatas dan nyata, sebaliknya di dunia maya tanpa batas dan terjadi secara virtual.
Ada satu hal penting yang perlu diperhatikan saat berinteraksi di dunia maya, yakni rekam jejak digital yang bisa saja terjadi secara pasif tanpa disadari oleh para individu seperti riwayat pencarian, maupun secara aktif yang dilakukan secara sadar seperti membagikan situs-situs tertentu.
“Rekam jejak digital bisa dihapus, tapi sangat sulit karena salah satunya sudah terlalu banyak pihak yang mengakses, menyimpan, dan membagikan informasi yang kita bagikan,” kata Farid.
Oleh karena itu, ia menyarankan untuk memilih dan memilah informasi yang akan dibagikan, lalu menjauhi konten-konten yang mengecoh dan meragukan, dan selalu memproteksi dengan menggunakan password yang sulit, serta tidak mudah terpancing dengan berita negatif. “Serta jangan tergesa-gesa untuk menyebarkan informasi yang kita terima,” ujarnya.
Dalam topik Etika Menghargai Karya dan Konten Orang Lain di Media Sosial yang disampaikan Muhammad Yafiz, menekankan pentingnya adab atau etika dalam berinteraksi di internet. Setidaknya kata Yafiz, ada tiga aspek yang perlu diperhatikan, yaitu waktu, isi konten, dan komunikan.
“Apakah saat berkomunikasi kita menggunakan waktu atau momen yang tepat? Lalu apa pesan dari konten yang akan kita publis? Selanjutnya, kita juga perlu memperhatikan komunikan atau lawan bicara yang beragam latar belakangnya.”
Perkembangan digital telah berpengaruh dalam membentuk perilaku hidup manusia. Ia mencontohkan, di masa pandemi ini yang menuntut transformasi digital sangat cepat. Dunia digital telah memberikan efisiensi dalam hal waktu dan biaya. Namun, hal ini adakalanya juga berdampak negatif seperti munculnya plagiarisme pada konten-konten sehingga etika digital sangat dibutuhkan.
Nurul Fauziah dalam materinya Perlindungan Hak Cipta di Ranah Digital mengatakan, ada dua hak kekayakan intelektual yang terbagi dalam hak cipta dan hak kekayaan industri. Adapun hak cipta terbagi lagi menjadi dua yakni hak moral dan hak ekonomi. Akibat dari pelanggaran ini dampaknya bisa membuat negara rugi karena HAKI merupakan salah satu sumber devisa negara. Di samping itu, konsumen juga rugi karena tidak lagi mendapat produk berkualitas karena para kreator enggan berkreasi.
Seminar ini mendapat apresiasi dari peserta, hal ini ditandai dengan banyaknya para penanya. Salah satu peserta mengakui dalam seminar ini ia mendapatkan banyak informasi seperti aturan-aturan di dunia internet yang tidak sesederhana yang ia bayangkan.
Peserta lainnya, Nindya Azzahra, menanyakan tentang plagiarisme yang terjadi di dunia akademik seperti penjiplakan jurnal apakah bisa terkena hukum pidana. Jawaban atas pertanyaan ini disampaikan oleh Muhammad Yafiz yangmengatakan, secara umum plagiat seperti itu masuk dalam pelanggaran hak cipta dalam karya ilmiah. Pelakunya bisa dikenai sanksi pidana berupa penjara dan denda. Namun, kata dia, dalam dunia pendidikan saat ini sudah ada cara-cara untuk mengatasi tindakan plagiat. Bahkan setiap kampus sudah punya kebijakan sendiri, hal ini karena tindakan plagiat tidak sejalan dengan semangat pendidikan.
Mengakhiri webinar tersebut, moderator mengajak peserta untuk terus mengasah keterampilannya agar semakin cakap digital. Ia juga mengajak peserta untuk mengikuti berbagai webinar yang diselenggarakan oleh Kominfo dalam waktu dekat.[]









