HALAMANNYA cukup luas. Sejumlah pria muda terlihat sedang berolahraga di sana. Ada yang bermain basket serta ada juga bola voly.
Senyum dan tawa terdengar dari arah mereka.
Lapangan olahraga tadi dihimpit oleh dua gedung lantai dua berada di sisi kiri dan kanan.

Sementara mushala berada di tengah-tengahnya.
Sedangkan di belakang mushala, ada dapur khusus bagi santri pria. Antrian panjang terlihat di sana saat jadwal makan tiba.
“Ini dayah modern tertua di kabupaten Pidie,” ujar Zahrul Fadhi.
Ia adalah salah seorang alumni dari dayah setempat.
Ya, aktivitas tadi terekam di Dayah Al Furqan, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Tepatnya di Desa Tengoh Baroh, Kemukiman Bambi, Kecamatan Peukan Baro, kabupaten Pidie.
Zahrul kemudian mengajak atjehwatch.com berkeliling dayah untuk melihat fasilitas dan kegiatan di dayah itu.
Dayah Al Furqan merupakan salah satu pondok pesantren terpadu dan tertua di Kabupaten Pidie.
Menurut para guru di sana, kegiatan santri dimulai sejak pukul 05.00 WIB, diawali shalat subuh berjamaah.
Kemudian dilanjutkan wirid dan pengajian, serta diikuti muhadash dan mufradat, yakni penguasaan kosa kata bahasa Arab dan sebahagian belajar agama plus kitab kuning.
Kegiatan kemudian berlanjut dengan gotong-royong, menurut piket masing-masing kamar, dan seterusnya persiapan belajar ke sekolah.
Dayah tersebut diresmikan pada tahun 1983 oleh Bupati Pidie Nurdin AR.
Konon dari sinilah sejumlah tokoh Aceh dilahirkan. Beberapa di antaranya, seperti Dr Munawar Jalil, Hasan Basri M Nur, Kepala Kemenag Aceh Dr. Iqbal, Dr Nufiar, Dr Muslem Daud SAg MEd, Maimun Thaib ST serta Zahrul Fadhi Johan MA, Dr. Syarifuddin Abe, Bustami Ahmad M.Pd.
Beberapa jurnalis terkemuka di Aceh seperti Taufik Al Mubarak penulis buku Aceh Pungo, Irfan M Nur, juga merupakan alumni dayah setempat.
Asal usul didirikan dayah tak luput pula dari idenya Bupati Nurdin AR.
Berdasarkan data dari berbagai sumber, mulanya telah dibangun salah satu lokasi kampus Al Furqan di Gle Gapui, berdampingan dengan kampus Universitas Jabal Gafur.
Tetapi tidak terpakai karena masyarakat Bambi menginginkan dayah tersebut tetap berada di Bambi.
Al Fuqan memiliki 12 ruangan belajar, termasuk satu di antaranya ruangan komputer. Sedangkan asrama ada 15 kamar putra dan 12 kamar putri. Fasilitas olahraga, mushala serta sejumlah gedung lainnya.
Dayah ini cukup dikenal di Aceh pada era akhir 1980-an hingga 1990-an.
“Dulu setiap perlombaan olahraga dan kaligrafi, pemenangnya selalu santri Al-Furqan,” ujar Zahrul.
Sementara di tempat terpisah, Kakanwil Kemenag Aceh juga menyatakan hal yang sama soal Dayah Al-Furqan.
“Dayah Al-Furqan berdiri tahun 1983 dan kami adalah santri pertama yang sengaja didatangkan oleh Pemda Pidie dari berbagai kecamatan,” kata Dr Iqbal Muhammad MA, Kakanwil Kemenag Aceh.
Ia menambahkan, indikator kemajuan Dayah Alfurqan pada masa lampau adalah keberhasilan menyabet berbagai prestasi di ajang Pekan Olah Raga dan Seni (Porseni) yang digelar Kanwil Kemenag.
“Pada tahun 1985 peserta Porseni dari MTs Alfurqan menjadi favorit juara di berbagai ajang olahraga, seni hingga cerdas cermat,” katanya.
Padahal saat itu, tambah Iqbal, fasilitas dan tenaga pengajar di Dayah Alfurqan sangat terbatas.
“Saat itu fasilitas serba kekurangan dan orangtua juga jarang berkunjung. Akhirnya dari siswa perdana yang berjumlah 38 orang kemudian tersisa 23 orang hingga tamat Tsanawiyah,” cerita Iqbal.
Selaku alumni, Iqbal menyatakan bersedia membantu membenahi Dayah Alfurqan demi meraih kembali kegemilangan.
Ada pun jumlah guru tetap hingga saat ini tercatat 60 orang, masing-masing terdiri dari guru dayah dan guru madrasah. Sedangkan jumlah siswa mencapai ratusan orang.
Sementara itu, Pimpinan Dayah Al-Furqan, T Mahmud M.Ag, berharap santri Al-Furqan mampu berbicara banyak saat kembali ke tengah-tengah masyarakat nantinya.

Pria ini juga guru pelajaran Ilmu Faraidh, Kaligrafi, dan Bahasa Arab.
“Saya senang sekali bisa mendidik anak-anak di sini,” ujarnya.
Jumlah lulusan Al-Furqan sendiri, kini berjumlah 4 ribuan lebih yang tersebar di berbagai perguruan tinggi di Aceh, nasional maupun timur tengah. Ada juga alumni yang kini menjabat dalam posisi penting di berbagai lembaga. Baik pemerintahan maupun swasta. [Advertorial]
Tulisan ini merupakan hasil kerjasama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh dengan atjehwatch.com dalam rangka promosi wisata islam (dayah) di Aceh.








