BLANGPIDIE – Meskipun sidang penetapan awal Ramadhan belum digelar oleh kementerian Agama Republik Indonesia secara nasional, namun beberapa Ormas Islam di Indonesia sudah menetapkan awal Ramdhan tahun 2022 ini.
Dalam sidang isbat penentuan awal Ramadhan 2022, metode yang dipakai Kemenag adalah rukyatul hilal (pengamatan hilal) dan hisab (penghitungan). Ini sesuai dengan Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.
Terdapat dua kemungkinan hasil sidang isbat 1 Ramadhan 1443 H. Yang pertama, jika hilal terlihat pada Jumat 1 April 2022, maka hari tersebut merupakan hari terakhir bulan Sya’ban 1443 H sekaligus petangnya menjadi awal bulan puasa. Dengan demikian, 1 Ramadhan bertepatan dengan Sabtu 2 April 2022.
Yang kedua, jika kemudian hilal tidak terlihat pada Jumat, 1 April 2022, maka bulan Sya’ban 1443 H akan dibulatkan menjadi 30 hari. Dengan demikian, 1 Ramadhan akan berlangsung pada Minggu 3 April 2022.
Lain halnya Muhammadiyah, Ormas ini sudah menetapkan jadwal dan penetapan 1 Ramadhan yang jatuh pada hari Sabtu 2 April 2022.
Muhammadiyah bahkan telah memberikan pengumumannya terkait dengan penghujung bulan Ramadhan tahun 2022. Melalui jadwal imsakiyah resmi Muhammadiyah, puasa Ramadhan tahun ini berakhir tepat tanggal 1 Mei 2022.
Dengan kata lain, warga Muhammadiyah yang ada di Kabupaten Abdya akan mulai melaksanakan ibadah puasa besok hari Sabtu (02/03).
Sementara itu, Warga Nahdlatul Ulama (NU) belum ada keputusan dalam menetapkan 1 Ramadhan 1443 H. Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) akan melakukan rukyatul hilal pada hari ini Jumat (1/04) yang bertepatan dengan 29 Sya’ban 1443 H. Hal itu tertuang dalam Surat Instruksi Nomor 012/LF-PBNU/III/2022 LFNU yang diterbitkan pada (31/03).
Rukyatul hilal inilah yang akan menjadi penentu kapan hari pertama puasa Ramadhan 2022 untuk kalangan warga NU. Hingga kini, sembari menunggu rukyatul hilal dan hasil sidang isbat Kemenag pada Jumat, 1 April 2022, ada dua kemungkinan awal puasa, yaitu Sabtu 2 April 2022 atau Minggu, 3 April 2022.
Meskipun demikian, ada sebagian kecil warga Kabupaten Aceh Barat Daya telah melaksanaka1 Ramadhan atua menjalankan ibadah puasa pada hari kamis yang lalu (31/03).
Seperti Jemaah Tarekat Syattariyah pengikut Habib Muda Seunagan, mereka telah melaksanakan puasa sejak Kamis (31/03).
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Syariat Islam Kabupaten Aceh Barat Daya Ubaidillah, S. Ag ketika dikonfirmasi awak media ini mengungkapkan bahwa pihaknya atas nama pemerintah akan menunggu keputusan Kementerian Agama dari hasil Rukyatul Hilal (pengamatan hilal) dan Hisab (penghitungan) sesuai dengan Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Jum’at (01/04/2022
“Kita tunggu hasil Sidang Isbat pemerintah yang akan dilaksanakan kementerian Agama pada pukul 18:00 Wib kapan sebenarnya penetapan 1 Ramadhan,” tegas Ubaidillah.
Menjawab berbagai pertanyaan mengenai adanya potensi perbedaan awal Ramadhan antara Pemerintah, Muhammadiyah serta ormas lainnya di Abdya, Ubaidillah menjelaskan, hal itu terjadi lantaran ada perbedaan metode dalam menentukan awal Ramadhan dari masing-masing lembaga.
“Ada yang akan mengawali Ramadhan pada hari kamis kemarin (31/03), ada yang hari ini, ada juga besok (02/04) dan kemungkinan ada pula yang mulai puasa pada 3 April 2022, itu adalah lumrah,” ungkap Ubaidillah.
Lanjutnya, perbedaan penetapan awal Ramadhan sudah pernah terjadi di masa lalu. Pasalnya, ada perbedaan metode penetapan, yakni metode hisab wujudul hilal dan imkanur-rukyat.
“Jika pun ada beda awal Ramadhan, sudah semestinya kita mengedepankan sikap saling menghormati agar tidak mengurangi kekhusyukan dalam menjalani ibadah puasa ini,” ujar Kadis Syariat Islam itu.
Menurutnya, perbedaan pendapat itu adalah rahmat dan khazanah keilmuan. Pemerintah memberikan pandangan positif atas perbedaan pandangan.
“Semua ormas yang berbeda pendapat ini adalah saudara kita ummat Islam. Kemudian kita melihat ada perbedaan cara mengembangkan Agama Islam, itu tergantung dan kita pulangkan kepada mereka masing-masing. Mari kita mengedepankan sikap toleransi, saling menghargai dan bersatu meskipun berbeda pandangan,” pungkas Kadis Syariat Islam Abdya Ubaidillah.
Reporter: Rusman






