KITA patut berbangga memiliki sosok Aminullah Usman sebagai pemain tenis andalan nomor satu di Banda Aceh.
Di saat beragam cabang olahraga, khusus Banda Aceh minim prestasi, Aminullah tampil menjadi pengobat rindu warga di Kutaradja.
Haus gelar sedikit terobati karena kepiawaian Aminullah mengolah bola di lapangan hijau.
Ya, dulu ada Persiraja yang berlaga di Liga 1, namun kini terdegradasi ke liga 2 usai terseok-seok sepanjang tahun. Mungkin karena bermain jauh dari ‘kandang’ Stadion Haji Dimurthala. Tak ada tuah Siraja Kandang.
Persiraja menjadi tim pertama yang terdegradasi untuk musim ini. Namun setidaknya mereka telah terbuat banyak untuk Aceh dan Banda Aceh umumnya.
Selain Persiraja, dan Cabor tenis tentunya, nyaris tak terdengar ada cabang olahraga di Banda Aceh yang bisa mengukir prestasi di tingkat Aceh dan nasional.
Entah karena minim publikasi atau minim uang binaan dari Pemko Banda Aceh.
Prapora menempatkan Banda Aceh di klasemen papan tengah. Demikian juga dengan beberapa event lainnya.
Hanya Aminullah yang terus berkiprah. Ia yang berpasangan dengan Fredy baru saja juara Turnamen Tennis MTC Cup U-105.
Sebelumnya, Aminullah juga juara Tennis Pidie Super Cup U-100. Kemudian juara Open Tournament Tennis Kelompok Umur (KU) 120 dan Tennis Koetaradja Cup JU-95 Tahun 2022.
Ketangguhan Aminullah juga ditunjukkan saat dirinya tampil sebagai juara pada Turnamen Tenis Eksekutif U-95 HUT RI ke 76 yang diselenggarakan di Lapangan ATC, Lampaseh, Sabtu 21 Agustus 2021 lalu.
Aminullah juga mencatat prestasi mentereng dalam turnamen tenis Antar Pemain Indonesia (API) Cup 2022.
Ini hanya beberapa dari sederetan prestasi yang diraih Aminullah sebagai pemain tenis andalan Kota Banda Aceh.
Sebagai atlet, Aminullah tergolong hebat karena bisa mengukir prestasi meski kurang binaan dari Pemko Banda Aceh.
Sebagai pemain tenis, kita patut berbangga memiliki seorang Aminullah Usman. Harusnya, ia jadi panutan bagi olahragawan lainnya di Banda Aceh untuk terus mengukir prestasi meskipun kurang mendapat perhatian dari pemerintah kota.
Menjadi atlet memang tak mudah. Apalagi ketika warga kota haus akan prestasi yang mentereng tapi di sisi lain, anggaran yang diplotkan untuk pembinaan amat minim. Urusan dapur bisa belakangan. Yang penting fokus dan raihlah prestasi. Contohlah Aminullah. Ya, di sinilah wujud professional seorang atlet diuji.
Asa warga kota harus kembali bangkit. Olahraga bukan hanya milik KONI dan Dispora. Tapi juga milik semua, termasuk warga kota di dalamnya. Pemko harus bisa mensupport setiap Cabor di Banda Aceh layaknya Persiraja beberapa waktu lalu. Ramai-kan stadion stadion dan beli tiket eksekutif demi membantu mereka.
Pemerintah kota harus mampu mencetat dan melahirkan seribu Aminullah untuk semua cabang olahraga di Banda Aceh.
Hal ini memang berat tapi bukan tak mungkin.
Penulis adalah Muhammad Waly, warga biasa di Kota Banda Aceh. Tulisan ini hanya pendapat pribadi.










