WANITA itu tersenyum sumbrigah saat melihat mobil yang kami tumpangi merapat di halaman rumahnya, Selasa malam pekan lalu.
Ia wanita yang berumur. Jilbabnya menutup hingga sebahagian tubuhnya. Senator DPD RI asal Aceh, HM Fadhil Rahmi Lc MA, yang menyupiri mobil yang kami tumpangi, memanggilnya dengan sebutan Buk Adek.
Ya, Buk Adek merupakan istri dari Ustadz Bambang. Nama terakhir adalah ustadz yang mendidik senator asal Aceh itu selama belajar di Dayah Darul Arafah Raya. Kebetulan, rumah Ustadz Bambang berada dalam komplek salah satu dayah tertua di Sumatera Utara itu.
Mobil parkir pas di halaman rumah Ustadz Bambang.
“Masuk-masuk nak,” ujarnya sambil menyalami satu persatu rombongan yang datang.
Selain Syech Fadhil, sapaan akrab senator Aceh itu, ada istrinya Dr. Sarina Aini, P.hD dan dua staf Syech Fadhil, Ustadz Mirzan dan Ustadz Ahmad Syukran atau disapa UAS Junior. Selain itu, juga ada wartawan atjehwatch.com.
Syech Fadhil tersenyum saat melihat Buk Adek. Wanita bersahaja itu sudah seperti ibu bagi anggota DPD asal Aceh ini.
“Kami makan di sini ya buk,” ujar Syech Fadhil.
Ia menunjukan satu kantong ayam goreng yang dibelinya di Medan.

Buk Adek kemudian mengangguk dan menyalami kami satu persatu. Demikian juga dengan Ustadz Bambang.
Di dalam rumah, Syech Fadhil terlihat akrab dengan dua sosok tadi. Tawa dan canda kemudian terdengar hingga makan makam bersama.
Usai makan, Syech Fadhil kemudian mengajak kami keliling Dayah Darul Arafah. Dayah ini tergolong luas dan terdapat belasan gedung.
Di depan rumah Buk Adek, ada masjid besar. Di sana, belasan santri terlihat sedang membaca dengan mulut komat-kamit. Lagi musim ujian.
Komplek Darul Arafah sendiri memiliki luas hampir 200 hektare. Namun yang terpakai hanya puluhan hektare.
Para santri itu tersenyum saat melihat kami lewat di depan mereka. Beberapa orang berbisik dan kemudian mengangguk kecil tanda hormat.
“Nyoe tempat tinggal lon watee di dayah,” ujar Syech Fadhil sambil menunjuk salah satu bangunan.
“Nyoe Asrama UAS,” katanya lagi dalam bahasa Aceh saat melewati bangunan ke 3 dari sisi kanan kami.
Kami keliling dari satu bangunan ke bangunan lainnya. Setiap bangunan diberi nama seperti tempat tempat di Arab Saudi dan timur tengah. Ada Gedung Makkah, Mina, Muzdalifah. Ada juga gedung Mesir, Sudan dan Alazhar.
Syech Fadhil menyapa beberapa santri saat berpas-pasan. Mereka berbicara dalam bahasa arab.
Di tengah jalan, seorang pria muda bertubuh subur menyapa Syech Fadhil.
“Syech Fadhil ya?” tanyanya sambil memberhentikan Sepeda motornya. Ia kemudian memperkenalkan diri dengan nama Imran. Imran adalah alumni yg menjadi guru di Dayah Darul Arafah. Dia sedang menyelesaikan s3 di UIN Sumut.
Menurutnya, nama Syech Fadhil sudah sering didengarnya dari para guru senior di sana. Sosok senator itu jadi panutan dan rujukan para ustadz dan ustadzah di sana saat bercerita soal alumni Darul Arafah yang dinilai sukses dan mengharumkan nama dayah.
Atas dasar hal itu, Imran mengaku terinspirasi dari cerita-cerita tentang Syech Fadhil. Foto Syech Fadhil sendiri, terpampang besar di salah satu bangunan Darul Arafah bersama sejumlah alumni lainnya yang kini memiliki posisi strategis di Sumatera Utara dan Aceh serta Nasional. Termasuk foto Ustad Abdul Somad.
Imran kemudian mendampingi kami keliling Darul Arafah.
Ada lapangan bola di tengah-tengah bangunan. “Itu dulu, kami dan tim olahraga yang bersihkan lahan,” kata Syech Fadhil. Sosok itu pernah menjadi ketua bagian Olahraga di Darul Arafah.
Di jalan, beberapa santri terlihat botak. Ustadz Syukran terlihat tersenyum. Ia kemudian menyapa mereka dalam bahasa Arab.
“Mereka melakukan pelanggaran. Hukumannya dibotaki,” jelas Ustadz Mirzan.
Di pertengahan jalan, Syech Fadhil juga bertemu dengan abang letting dan rekan-rekannya seangkatan di Darul Arafah dan Mesir yang kini mengabdi di sana sebagai guru.
Puas keliling dayah, kami kembali ke rumah Buk Adek. Di sana, Buk Adek dan Ustadz Bambang kembali bercerita tentang sosok Syech Fadhil selama di dayah.
“Dia itu lebih memilih Sepakbola dan bola basket daripada silat” kata Ustadz Bambang. Sosok ini merupakan pelatih atlet silat terkenal di Sumatera Utara. Muridnya mengukir prestadi di sejumlah kejuaraan, termasuk medali Emas di PON dan Sea Games.
Sedangkan Buk Adek lebih banyak bercerita tentang kenakalan-kenakalan Syech Fadhil selama di dayah.
“Dia anak cerdas tapi bandel. Dia itu pernah melanggar aturan dayah. Dihukum botak dan menghafal surah Yasin. Karena hapalan itu dia lolos beasiswa ke Mesir. Satu2nya alumni letting dia yg dapat beasiswa ketika itu. Nikmat dibalik hukuman,” ceritanya panjang lebar
Sekitar pukul 22.00 WIB, kami izin pamit pada Ustadz Bambang dan Buk Adek untuk melanjutkan perjalanan. Keduanya mengantar kami hingga ke halaman depan.
“Doakan saya selalu ustadz ya,” ujar Syech Fadhil pamitan.
“Pasti,” kata Ustadz Bambang.









