Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

(OPINI) Dilema Ekonomi Invisble Hand dan Merkantilisme

Atjeh Watch by Atjeh Watch
19/04/2023
in Opini
0
(OPINI) Dilema Ekonomi Invisble Hand dan Merkantilisme

Oleh: Ina Jainati*

Invisible hand ialah berbicara mengenai anatomi ekonomi Politik. Meminjam analogi anatomi sebagai penunjuk sejauh mana aktivitas ekonomi dipengaruhi politik. The Invisible Hand meminjam Metafora yang digunakan oleh Adam Smith  yang mengemukakan teori bahwa tingkat kemakmuran dapat tercapai melalui kekuatan tangan tak terlihat (invisible hand), yaitu tanpa adanya campur tangan pemerintah, di mana mekanisme pasar akan menjadi alat alokasi sumber daya. Berbicara tentang The Insible Hand sama halnya dengan membicarakan anatomi dari Ekonomi efisien. Pemahaman dari Adam Smith mengungkapkan bahwa efisiensi dari kegiatan ekonomi adalah melalui tangan yang tak terlihat, di mana tangan yang tak terlihat ini juga menawarkan prinsip untuk membentuk harga di pasar berdasarkan permintaan dan penawaran, yang artinya kekuatan pada pasar akan mencapai titik klimaksnya tanpa melalui campur tangan atau ekspansi pemerintah untuk menentukan harga di pasar.

Namun, Jonathan Schlefer dalam ulasan Harvard Bussinness Review menyatakan dengan tegas bahwa “invisible hand” merupakan Teori yang tidak pernah terbukti praktis hingga saat ini. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Kanneth Arrow dan Gerrad Debrue pada tahun 1954 mengungkapkan sejumlah besar kondisi yang tidak realistis, seperti informasi untuk semua pelaku pasar dan adanya persaingan sempurna (Al-Furuq, 2020). Hasil penelitian tersebut membentuk pandangan baru terhadap teori “invisible hand” yang menciptakan dilema dalam realitas aktivitas ekonomi.

Aktivitas ekonomi mengalami dilema. Ekonomi membutuhkan kiblat untuk mengatasinya. Namun, manakah kiblat yang lebih efisien dalam ruang kegiatan ekonomi ini?

Apakah untuk mengendalikan pasar harus hadirnya sosok tuan yang membagi upah kepada buruhnya atas usahanya atau justru membiarkan pasar begitu saja?

Setiap opsi selalu hadir berdasarkan pandangan yang berbeda, untuk itu diperlukannya keahlian analisis yang baik ketika berhadapan dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan teori sebagai sudut pandang untuk memandang masalah. Memahami Merkantilisme dan Liberalisme dapat menjadi landasan perspektifnya. Merkantilisme menekankan pada kebijakan nasional dalam ekonomi, sementara liberalisme menganggap ekonomi dan politik memiliki domain operasi yang berbeda berdasarkan ideologi masing-masing. Liberalis sendiri muncul pertama kali di Inggris Raya, Amerika Serikat dan Eropa Barat pada abad ke-18 sebagai penentang domain Merkantilisme di lingkungan pemerintahan. Kelompok Liberalisme menentang merkantilisme dikarenakan kelompok Liberalisme memiliki komitmen pada pasar bebas dan ini pernyataan penting dari Adam Smith dalam tulisannya “kekayaan bangsa-bangsa” bahwa kekayaan suatu bangsa akan lebih baik dilayani oleh kebijakan perdagangan bebas”. Smith menentang hambatan seperti substitusi impor dan tarif impor yang ditetapkan oleh Merkantilisme yang mencegah pertukaran barang dan pembesaran pasar dikarenakan Smith berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan fungsi dari pembagian kerja yang bergantung pada pasar. Kalau saja pasar dikendalikan oleh kebijakan pemerintah, maka untuk memperoleh kekayaan, negara tidak perlu memproduksi barang, cukup fokus pada komoditas primer sebagaimana pernyataan Smith, yakni “apa kehati-hatian dalam perilaku setiap keluarga, bisa jadi kebodohan dalam kerajaan besar. Jika sebuah negara asing dapat memasok dengan komoditas yang lebih murah daripada yang bisa kita hasilkan, lebih baik membelinya dari mereka dengan sebagian hasil produksi industri kita, yang digunakan dengan cara yang kita punya beberapa keuntungan”. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka kelompok liberalisme harus mengambil intervensi sedikit untuk mencapai efisiensi maksimum. Pemerintah harus menggunakan pendekatan tangan tak terlihat, karena seperti yang dikatakan oleh Smith bahwa secara inheren manusia itu paham bagaimana mengendalikan truk dan barter, sehingga pasar dapat meningkat secara alami bahkan tanpa intervensi pemerintah. Belajar dari komitmen kelompok Liberalisme terhadap kesetaraan dan kebebasan individu berdasarkan kondisi pasar yang fleksibel di mana untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memaksimalkan efisiensi adanya kepentingan Harmonisasi antara produsen dan konsumen di mana dalam pasar yang fleksibel tiap individu memeroleh informasi dengan demikian mereka dapat memilih hal yang paling menguntungkan artinya harga barang dan jasa ditentukan individual dan setiap perubahan harga akan menyebabkan perubahan pola produksi, konsumsi dan institusi ekonomi.

Alasan liberalisme menganjurkan peran individu dalam pasar dikarenakan kritik monopoli perdagangan yang terjadi pada perusahaan India Timur sebagai monopoli berlumuran darah dan menganggap bahwa ideologi merkantilisme sebagai konflik karena konsekuensi kompetisi beberapa negara bersaing untuk industri. Pemerintah memandang kekuasaan negara dalam hal “permainan Zerosum” yang berarti jika sebuah negara memperoleh, negara-negara pesaing lainnya pasti kalah. Dalam perspektif ini, perdagangan, investasi dan hubungan ekonomi dimasukkan ke dalam konsepsi konflik (Tampubolon, et al., 2022)

Setelah mengetahui ideologi yang diusung oleh kelompok liberalisme adalah kebebasan seperti menciptakan pasar yang dinamikanya fleksibel, maka mereka dapat memilih keuntungan mereka dengan sukarela berdasarkan harga pasar yang diciptakan. Oleh karenanya mereka dapat menentukan arus produksi dan konsumsi. Kebebasan ini menciptakan kemandirian untuk memperoleh kekayaan dan kelompok liberalisme percaya bahwa pembagian sember daya mereka didasari oleh bagaimana mereka berusaha keras memperoleh keuntungan dari dinamika pasar yang fleksibel.

Ada perdebatan yang cukup mencolok di antara keduanya mengenai kebijakan nasional impor dan ekspor. Setelah mengetahui kritik liberal terhadap merkantilisme, maka selanjutnya adalah membedah bukit milik merkantilisme berdasarkan literatur yang penulis dapat. Merkantilisme memandang kekayaan dan kekuasaan dengan kemampuan militer dan ekonomi mereka yang efisien untuk melindungi dari penjajah asing (Widodo, 2017) dalam (Tampubolon, et al., 2022).

Dalam artian kekayaan dan kekuasaan seperti lingkaran setan yang apabila mempertahankan negara sebagai prioritas ideologi merkantilisme untuk menghasilkan negara yang kaya dengan tujuan menciptakan kekuatan agar tidak dapat digulingkan oleh negara asing, maka dengan menciptakan orang–orang kaya sehingga tidak tampak lemah, miskin dan rentan.

Untuk mencapai kekayaan dan kekuasaan dari perspektif merkantilisme adalah dengan mempromosikan ekspor dan membatasi impor agar surplus perdagangan bisa menjadi kekayaan dan kekuatan negara. Pandangan ini tercermin dalam tulisan merkantilisme pada abad ke 16, 17 dan 18 ketika Blaug Mark mencantumkan fitur penting mengenai kebijakan perdagangan yang menekankan perdagangan luar negeri untuk menghasilkan arus masuk sebanyak mungkin dari emas dan perak. Untuk itu pemerintah harus mempromosikan industrinya dengan mengimpor bahan baku murah dengan menerapkan kewajiban proteksi atas barang manufaktur impor.

Fitur lain dari merkantilisme adalah bahwa semua kegiatan ekonomi ditentukan oleh negara. Dengan kekayaan sebagai komponen kekuatan mekanisme. Kegiatan ekonomi yang dianggap penting harus melibatkan dukungan pemerintah karena proses yang tidak terkoordinasi akan menghasilkan hasil yang tidak tepat. Dikarenakan komitmen merkantilisme adalah membangun negara. Proposisi merkantilisme tentang kebijakan ekspor dan minimalisir impor dikatakan kekayaan dan kekuasaan merupakan ujung kebijakan bangsa. Kekuatan merkantilisme berada pada dominasi negara-negara sebagai aktor utama dalam hubungan internasional pandangan ini sangat realis karena tujuannya bertahan hidup. Berdasarkan perjalanan yang cukup panjang mengupas isi kedua kubu bukit liberalisme dan merkantilisme dengan beberapa komitmen di antara keduanya. Komitmen merkantilisme dengan pandangan internasionalnya yaitu Zerosum (di satu pihak menang dan satu lagi kalah) ini karena sangat realis negara sebagai aktor utama dengan keadaan dinamika pasar liberal yang fleksibel di mana semua di untungkan akibat persetujuan sukarela di antara keduanya dengan komitmen kebebasannya. Liberalis memiliki kekuatan yaitu menyediakan analisis dan kerangka kebijakan membantu negara mendapat sumber daya langka melalui bertukar dengan negara lain mekanisme pasar juga melalui kompetisi yang bebas berbeda dengan merkantilisme yang menggunakan paksaan.

Terdapat satu hal yang disepakati oleh liberalisme dan merkantilisme, yakni kegiatan ekonomi meningkatkan kekuatan dan keamanan negara. Namun yang menjadi pembeda adalah pendekatannya, terutama pada fleksibilitas pasar liberal di mana terdapat kompetisi bebas dan kedua belah pihak mendapat keuntungan. Melalui komitmen kebebasan individu ini dapat menimbulkan individu-individu berusaha menciptakan kemakmuran dengan mengakumulasi kekayaannya. Melalui akumulasi kekayaan ini terwujudlah negara kaya. Sementara itu, merkantilisme yang menganggap negara sebagai aktor utama yang dikenal dengan salah satu kritiknya, yaitu hubungan ekonominya yang bersifat konflik adu senjata dan latihan militer mahal yang menyebabkan defisit anggaran dan inefisiensi ekonomi.

DAFTAR Pustaka Al-Furuq, L. M. U., 2020. Ketika APBN Membantah “The Invisible Hand”. [Online], [Accessed 5 April 2023].
Tampubolon, E., Putra, S. A. & Pantas, H., 2022. Ekonomi Politik (Dalam Perspektif Manajemen). Medan: Penerbit CV. Pena Persada Redaksi.

*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas FISIP Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Previous Post

Semen Indonesia Adakan Sosialisasi Di Aceh Selatan

Next Post

TKI Meninggal di Malaysia, Pemkab Abdya Bantu Pemulangan Jenazah

Next Post
TKI Meninggal di Malaysia, Pemkab Abdya Bantu Pemulangan Jenazah

TKI Meninggal di Malaysia, Pemkab Abdya Bantu Pemulangan Jenazah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Al-Farlaky Minta Camat Dan Geuchik Uji Publik Ulang Data Penerima Bantuan Rumah

Al-Farlaky Minta Camat Dan Geuchik Uji Publik Ulang Data Penerima Bantuan Rumah

15/04/2026
Wagub Mohon Ulama Sampaikan Proses Pembangunan Aceh kepada Rakyat

Wagub Mohon Ulama Sampaikan Proses Pembangunan Aceh kepada Rakyat

15/04/2026
Plt Kadisdikbud: Penataan Kepala Sekolah di Aceh Selatan Mengacu Permendikdasmen Nomor 7 Tahun 2025

Plt Kadisdikbud: Penataan Kepala Sekolah di Aceh Selatan Mengacu Permendikdasmen Nomor 7 Tahun 2025

15/04/2026
Guru SMAN 1 Samadua Aceh Selatan Tanami Pohon Berbuah

Guru SMAN 1 Samadua Aceh Selatan Tanami Pohon Berbuah

15/04/2026
Rangkaian HUT Abdya ke-24, Pemkab Adakan Lomba Dalil Khairat

Rangkaian HUT Abdya ke-24, Pemkab Adakan Lomba Dalil Khairat

15/04/2026

Terpopuler

Muscab PKB Pidie Lahirkan 7 Nama Kadidat Ketua

Muscab PKB Pidie Lahirkan 7 Nama Kadidat Ketua

13/04/2026

Gubernur Mualem Tunjuk Nurlis Jadi Jubir

Krak, Warga Tak Terdata JKA Diberi Kesempatan Sanggah

Pemerintah Aceh Didesak Laporkan IUP PT. Linge Mineral Resource ke Pemerintah Pusat

(OPINI) Dilema Ekonomi Invisble Hand dan Merkantilisme

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com