BANDA ACEH – Komandan Operasi Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Aceh Rayeuk, Bustaman atau akrab disapa Dan Buh, turut angkat bicara soal kebijakan pemerintah yang meratakan sisa bangunan situs Rumoh Geudong.
Menurutnya, kebijakan ini bukanlah cara terbaik bagi sebuah bangsa besar dalam menangani konflik serta warisan sejarah bagi generasi di masa depan.
“Kita menyesalkan sikap pemerintah yang menghancurkan sisa bangunan situs Rumoh Geudong. Ini bukan sikap yang arif dan bijaksana,” ujar Dan Buh.
“Harusnya kita belajar dari negara-negara lain di dunia. Situs Rumoh Geudong penting dipertahankan sebagai perawat ingatan bagi generasi di masa depan dan pemimpin di masa depan agar tak mengulang hal yang sama di masa depan,” kata Bustaman.
Dirinya berharap pemerintah juga memberi perhatian penuh kepada korban konflik di seluruh Aceh dan tak hanya korban konflik di Rumoh Geudong.
Beberapa di antaranya, seperti tragedi Simpang KKA, Jamboe Kapok, Arakundo dan lainnya.
“Selama konflik di Aceh, ada banyak masyarakat yang menjadi korban. Mereka hingga saat ini belum tersentuh perhatian pemerintah.”
“Saya berharap pemerintah benar-benar memberi perhatian bagi korban konflik di Aceh. Seperti pemberdayaan ekonomi dan lainnya. Sehingga korban konflik dapat menjalani hidup dengan normal dan menikmati damai seperti warga lainnya.”
“Saya berharap Jokowi mau mendengar harapan dari semua kalangan di Aceh. Sehingga damai di Aceh dapat berlangsung abadi. Semua kebutuhan korban konflik juga terpenuhi,” ujarnya lagi.











