Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Khazanah

Ratoh Jaroe Disebut “Industri”, Budayawan Aceh: Tradisi Asli Justru Tergeser

Joe Samalanga by Joe Samalanga
19/04/2026
in Khazanah
0
Ratoh Jaroe Disebut “Industri”, Budayawan Aceh: Tradisi Asli Justru Tergeser

BANDA ACEH – Polemik soal identitas tari duduk Aceh kembali mencuat. Praktisi seni dan pemerhati budaya, Imam Juaini atau akrab disapa Imam Saleum, melontarkan kritik tajam terhadap perkembangan tari modern seperti Ratoh Jaroe yang dinilai telah keluar dari akar tradisi dan bahkan berpotensi “merusak” pakem budaya Aceh.

Menurut Imam, secara konteks budaya, seluruh tarian yang dimainkan dalam posisi duduk di Aceh sejatinya masuk dalam kategori ratoh duek, yang berakar dari tradisi rateb—yakni ekspresi zikir dan ritual keagamaan yang kemudian berkembang menjadi seni pertunjukan.

“Setiap daerah di Aceh punya kekhasan sendiri. Letak geografis, bahasa, dan adat membentuk karakter ratoh duek yang berbeda-beda. Tapi akar utamanya tetap sama, yaitu rateb,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam perjalanan sejarahnya, bentuk awal ratoh duek pernah hadir di tengah masyarakat dengan ragam gerak menggunakan properti seperti kain sapu tangan hingga tali yang dirajut menyerupai gunung dan rumah. Kemudian, sekitar tahun 1997, lahir komposisi baru bertajuk Ratoh Duek yang ditata oleh almarhum Nurdin Daud bersama Pak Uki, dengan mengangkat gerak tradisi, pola lantai tertentu, serta lagu khusus—tanpa iringan alat musik.

Namun, perkembangan selanjutnya melahirkan Ratoh Jaroe yang disebutnya sebagai bentuk “modifikasi” atau bahkan abstraksi dari tari-tari Aceh.

“Ratoh Jaroe tidak lagi bicara rukun, tidak punya identitas gerak dan lagu yang khas seperti tari tradisi. Secara konsep, ini adalah tari industri,” tegas Imam.

Ia bahkan menilai kehadiran Ratoh Jaroe dalam konteks budaya Aceh cenderung mengaburkan bahkan merusak eksistensi tradisi yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Meski demikian, ia mengakui bahwa dalam dunia hiburan, Ratoh Jaroe memiliki daya tarik tersendiri dan bisa disebut sebagai “rampoe” atau rangkuman dari tari duduk Aceh.

Lebih jauh, Imam juga menyoroti kesalahan pemahaman istilah di masyarakat. Ia menegaskan bahwa dalam tradisi Aceh, tidak dikenal istilah “tari” atau “tarian” secara umum. Yang ada adalah penyebutan seperti meusaman, meuratoh, rateb, meulikkok, atau saman.

“Di wilayah pesisir dikenal istilah likok, seperti Likok Pulo. Sementara masyarakat pedalaman lebih menggunakan istilah rateb atau saman. Jadi kalau kita bicara saman, di dalamnya sudah mencakup unsur tari itu sendiri,” jelasnya.

Ia menambahkan, perjalanan seni tradisional Aceh tidak bisa dilepaskan dari akar spiritualnya. Seni yang awalnya lahir dari ritual keagamaan, kemudian berkembang menjadi permainan rakyat, hingga akhirnya bergeser menjadi seni pertunjukan dan hiburan semata.

Pernyataan ini kembali membuka diskursus lama: antara menjaga kemurnian tradisi atau menerima inovasi demi tuntutan zaman. Namun satu hal yang pasti, perdebatan soal identitas budaya Aceh masih jauh dari kata usai.[]

Previous Post

Polisi Sigap Tangani Kebakaran Rumah Warga di Pidie Jaya

Next Post

Bandara Malaysia Eror Lagi, Bagasi Penumpang Terlambat hingga 4 Jam

Next Post
Bandara Malaysia Eror Lagi, Bagasi Penumpang Terlambat hingga 4 Jam

Bandara Malaysia Eror Lagi, Bagasi Penumpang Terlambat hingga 4 Jam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

RSUD Zubir Mahmud Targetkan Pasien Aceh Timur Tak Perlu Berobat ke Luar Daerah

RSUD Zubir Mahmud Targetkan Pasien Aceh Timur Tak Perlu Berobat ke Luar Daerah

12/09/2026
Kementerian Ekraf Pulihkan Trauma Anak Korban Banjir Aceh

Kementerian Ekraf Pulihkan Trauma Anak Korban Banjir Aceh

12/09/2026
Satgas PRR Dorong Pemda Aceh Percepat Realisasi Tambahan TKD Rp 1,65 Triliun

Satgas PRR Dorong Pemda Aceh Percepat Realisasi Tambahan TKD Rp 1,65 Triliun

12/09/2026
Lima SPPG di Aceh Jaya Belum Kantongi Sertifikat Sanitasi

Lima SPPG di Aceh Jaya Belum Kantongi Sertifikat Sanitasi

12/09/2026
Satgas PRR Sebut Cuaca dan Akses Jadi Kendala Penanganan Rehab-Rekon Aceh

Satgas PRR Sebut Cuaca dan Akses Jadi Kendala Penanganan Rehab-Rekon Aceh

12/09/2026

Terpopuler

Ratoh Jaroe Disebut “Industri”, Budayawan Aceh: Tradisi Asli Justru Tergeser

Ratoh Jaroe Disebut “Industri”, Budayawan Aceh: Tradisi Asli Justru Tergeser

19/04/2026

Ini Nama Nama Lengkap Pejabat UIN Ar-Raniry yang Baru Dilantik

Demam Foto Jadul AI Melanda Jagat Maya, Termasuk Abdya

Kwarcab Abdya Peringati Hari Pramuka ke-65 Tahun 2026, Usung Tema Swasembada Pangan

Bupati Aceh Jaya Rotasi Empat JPT Pratama, Dorong Birokrasi Lebih Profesional

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com