Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Sosok

Biografi Chrisye, Keturunan Cina dan Kisah Buruknya Jadi Minoritas

Admin1 by Admin1
18/09/2019
in Sosok
0

ATJEHWATCH.COM – “Cina! Cina!…”

“Mereka berseru-seru. Saya menahan timpukan batu bertubi-tubi. Hanya sekali saya diperlakukan seperti itu. Tapi, ketakutan saya menetap dan bertahan, bahkan hingga saya melewati usia setengah abad.”

Begitulah kisah yang dialami penyanyi legendaris Chrisye seperti dinukil dari buku berjudul Chrisye, Sebuah Memoar Musikal (2007) terbitan Gramedia, yang ditulis Alberthiene Endah.

Menjadi seorang keturunan Cina tidak sepenuhnya bisa lepas dari kehidupan Chrisye, terutama ketika mengenang kembali pengalamannya di sekolah dasar.

Suatu siang, ketika pulang sekolah, ia mendengar celetukan yang cukup menohok di sebuah jalan. “Cina Lo!” teriakan itu dating tanpa diketahui darimana asalanya.

Tak lama berselang, sebuah batu kecil mulai menghantam kepalanya. Ia kebingungan sembari menoleh ke kiri dan kanan. Kemudian, segerombolan anak dating dan berteriak ke arahnya. “Cina! Cina! Cina!”. Teriakan itu terdengar keras. Ia mulai kelabakan saat beberapa anak kembali melemparkan batu kepadanya.

Ia berlari menyelamatkan diri sambal memegang kepala yang berdarah. Sesampai di rumah, cepat-cepat ia bersihkan bekas luka dan memilih tidak menceritakan pengalaman buruk itu kepada ibunya.

“Itu peristiwa yang menancap cukup dalam di benak saya,” kata Chrisye ketika menceritakan kembali pengalamannya.

Peristiwa rasial dan persekusi itu benar-benar menancap di kepalanya. Bahkan, Chrisye tak lagi nyaman melihat diri sendiri di depan cermin, karena merasa terancam saat melihat kulit putih dan mata sipitnya di cermin.

Kekerasan yang dialaminya itu, kenang Chrisye, begitu menancap di alam bawah sadarnya, bahkan semakin kuat ia menepis rasa ketakutan itu, semakin kuat pula ingatan itu muncul pada saat-saat tertentu.

Tidak heran bila Chrisye menolak menjadi ketua kelas dan organisasi di sekolah karena tak mau menjadi terkenal. “Saya takut menjadi sorotan dan orang menyadari bahwa saya orang Cina,” kenangnya.

Untung saja, masalah ini tidak berlarut-larut. Hal itu disebabkan berkat pergaulan dan orang tua membuat dia tenang kembali. Meskipun membutuhkan waktu yang lama untuk menenangkan perasaan.

Justru, Chrisye merindukan rumahnya karena sudah tidak diwarnai dengan hiasan khas Cina seperti teman-teman Tionghoa lainnya. Hal itu kemudian membuatnya senang bila berkumpul di acara keluarga.

Apalagi saat sang paman dari ibunya menyambangi rumahnya, ia senang karena sang paman sering memberi salam dengan membungkuk badan, seperti khas Tionghoa.

“Apalagi bila paman bicara dengan logat Tionghoa yang kental dan sedikit cadel. Saya merasa punya cipratan budaya yang menarik,” ungkap dia.

Namun, masalah “kecinaan” ini tetap berkembang menjadi sebuah problem, terutama ketika sudah menjadi penyanyi terkenal. Sampai ia berusia setengah abad pun, Chrisye masih dihantui dengan sebuah pertanyaan. “Haruskah saya mengaku Cina?”

Seandainya saat itu ada seseorang yang berhasil menenangkan ketakutannya, mungkin saja ia tidak pernah trauma mengaku diri seorang keturunan Cina. “Saya merasa rugi memiliki ketakutan semacam itu.”

Chrisye dilahirkan dengan nama Christian Rahadi pada 16 September 1949 di Jalan Teuku Chik Ditiro, Jakarta. Darah Tionghoa ia peroleh dari sang ayah bernama Laurens Rahadi berdarah Betawi-Cina yang lahir pada tanggal 14 Juli 1918 di Jakarta. Sementara ibunya keturunan Sunda-Cina yang lahir di Bogor pada 26 Agustus tahun 1923.

Ada pepatah yang mengatakan, “semua karya seni hebat berasal dari rasa sakit.” Pelukis Van Gogh membuat karya hebatnya, “The Starry Night” saat mengalami siksaan emosional yang dahsyat. Dua pentolan The Beatles, John Lennon dan Paul Mc Cartney bertemu saat mereka sama-sama kehilangan ibunya.

Sementara penyanyi besar Nat King Cole dan Billie Holiday terus menerus dihajar rasisme dengan menyebut mereka “negro” sepanjang karier bermusiknya.

Mungkin saja pengalaman buruk Chrisye sewaktu kecil inilah membuatnya menjadi penyanyi hebat. Orang-orang seperti ini pintar mengubah kesedihan mereka menjadi sesuatu yang dihargai dunia.

Kilas Balik Perjalanan Musik Chrisye

Karier music Chrisye mulai menemui titik terang setelah menyanyikan lagu “Lilin-Lilin Kecil” karya James F. Sundah, yang diciptakan untuk ajang Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) 1977 oleh Radio Prambors.

Album LCLR 1977 yang memuat lagu “Lilin-Lilin Kecil” di dalamnya, menjadi album paling laris tahun itu. Kesuksesan ini membuat Chrisye makin yakin bahwa ia berbakat menjadi penyanyi. Kelak, majalah Rolling Stone Indonesia, memasukkan lagu ini di peringkat 13 dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik.

Label rekaman Pramaqua Records kemudian menawarkan Chrisye untuk membuat album bernama Jurang Pemisah. Dengan musisi pengiringnya Yockie Suryoprayogo (keyboard), Ian Antono (gitar), dan Teddy Suajaya (drum).

Selain bernyanyi, Chrisye bermain bass dalam album ini. Meski mendapat pujian secara kualitas, tapi album itu dianggap gagal dari sisi penjualan.

Namun, tak berhenti sampai disana, Eros Djarot kemudian mengajak Yockie dan Chrisye untuk menggarap soundtrack film Badai Pasti Berlalu. Pengisi album ini adalah Chrisye, Berlian Hutauruk (vokal), Fariz R.M (drum), Yockie (kibor), Keenan (drum), dan Debby Nasution (kibor).

Album ini meledak di pasaran ketika dirilis pada 1977. Chrisye juga pertama kali menciptakan lagu “Merepih Alam” dalam album ini.

“Kritikus music menyebutkan album itu sebagai dobrakan besar di kancah music Indonesia. Sebuah terobosan yang mengisyaratkan pembaruan dalam warna musik pop. Bahkan ada yang menyebut album ini seabagi karya monumental yang sangat penting dalam industri musik Indonesia,” tutur Chrisye.

Tiga dekade kemudia, majalah Rolling Stone Indonesia membuat senarai 150 Album Indonesia Terbaik. Peringkat satunya adalah Badai Pasti Berlalu. Hebatnya, di peringkat dua adalah album Guruh Gipsy, album yang turut digarap oleh Chrisye.

Namun, pada tahun 2005, kabar buruk datang saat dokter mengumumkan Chrisye mengidap kanker paru stadium 4.

Penyanyi legendaris itu menghembuskan nafas terakhirnya tepat di usia 57 tahun pada 30 Maret 2007. Sepanjang kariernya, ia berkontribusi di 9 album proyek, 4 album soundtrack (termasuk Ali Topan Anak Jalanan), dan menghasilkan 20 album solo.

Melihat semua perjalanannya, tak heran bila hari ini Google Doodle ikut merayakan ulang tahun Chrisye. Hari ini, lagu-lagunya kembali menggema di hati penggemarnya.[]

Tags: biografichrisyesosok inspiratif
Previous Post

Mantan Tapol Ini Bakal Hibah Lahan untuk Anak Yatim

Next Post

Bocah Perempuan Ini Terlantar di Jembatan Lamnyong dan Cari Keluarga

Next Post
Bocah Perempuan Ini Terlantar di Jembatan Lamnyong dan Cari Keluarga

Bocah Perempuan Ini Terlantar di Jembatan Lamnyong dan Cari Keluarga

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Seorang Haji Asal Bireuen Meninggal Dunia di Arab Saudi

Jamaah Haji Asal Aceh yang Meninggal di Tanah Suci Jadi Enam

01/06/2026
Kemenkum Aceh Rampungkan Harmonisasi Raqan Ketertiban Umum Aceh Utara

Kemenkum Aceh Rampungkan Harmonisasi Raqan Ketertiban Umum Aceh Utara

01/06/2026
Polda Selidiki Kebakaran Hutan di 5 Kabupaten di Aceh

Polda Selidiki Kebakaran Hutan di 5 Kabupaten di Aceh

01/06/2026
Gerindra Aceh Salurkan 85 Ekor Sapi Kurban

Gerindra Aceh Salurkan 85 Ekor Sapi Kurban

01/06/2026
Wali Nanggroe dan Wamenko Otto Sorot Potensi Serta Masa Depan Aceh

Wali Nanggroe dan Wamenko Otto Sorot Potensi Serta Masa Depan Aceh

01/06/2026

Terpopuler

Penggunaan Musik Tari Tanpa Izin oleh SMAN 1 Jangka Bireun Disesalkan Komposer

Penggunaan Musik Tari Tanpa Izin oleh SMAN 1 Jangka Bireun Disesalkan Komposer

31/05/2026

Nyan, Pidie Jaya Raih Peringkat Dua Pengelolaan KDMP Terbaik di Aceh

Senat UIN Ar-Raniry Angkat Suara Soal Turunnya KPK ke Aceh

Biografi Chrisye, Keturunan Cina dan Kisah Buruknya Jadi Minoritas

Jamaah Haji Asal Aceh yang Meninggal Dunia Jadi Empat Orang

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com