Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Sejarah

Kisah ‘Martir’ Portugis Usai Mendarat di Aceh

Admin1 by Admin1
30/10/2019
in Sejarah
0
Kisah ‘Martir’ Portugis Usai Mendarat di Aceh

Patung Pierre Berthelot, alias Denis de la Nativité, di gereja Sainte-Catherine di Honfleur, Prancis

PADA awal abad ke-17, Portugis terus menerus dalam keadaan perang dengan Kesultanan Aceh. Kapal-kapal mereka yang bertolak dari Malaka atau Goa tak boleh singgah di Aceh. Ketegangan mereda pada September 1638.

Sejarawan Prancis Danys Lombard dalam Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda menulis, orang Portugis di Malaka atas perintah Raja Muda India, Pedro de Silva, mengirim utusan kepada Sultan Aceh, Iskandar Thani. Mereka bermaksud mengadakan perjanjian damai. Pengiriman itu juga terdorong oleh kemajuan Belanda. Mereka berharap Aceh berpihak pada mereka yang tak rukun dengan Belanda.

Utusan itu dipimpin Francesco de Soza de Castro. Selain itu, turut juga Pierre Berthelot yang belum lama menjadi biarawan Carmes Dechaux dengan nama Romo Denis de la Nativite. Nakhoda asal Normandi itu mengabdi kepada sang raja muda sebagai pembuat peta.

Kapal yang membawa utusan itu berangkat dari Goa. Mereka bentrok dengan Belanda di teluk pintu masuk Aceh.

“Sesudah pertempuran dahsyat dan setelah Castro mendapat luka berat, Portugis berhasil mendobrak rintangan,” catat Lombard.

Sayangnya, Belanda lebih dulu mempengaruhi orang-orang Aceh bahwa utusan Portugis itu punya tujuan misionaris. Mereka pun mendapat sambutan tak ramah.

Seorang utusan Kesultanan Aceh menjemput mereka. Saking parah luka yang diderita, orang-orang Portugis tak bisa naik gajah. Mereka lalu diangkut dengan permadani. Baru sampai di depan gerbang istana, sultan justru menyuruh menangkap mereka. Termasuk Berthelot, yang dibunuh dalam keadaan yang menyebabkan mereka kemudian dianggap martir.
“Adapun Bruder de Soza ditebus oleh keluarganya dan dapat kembali ke Goa,” tulis Lombard.

Lombard menjelaskan, kisah ini didapat berkat Romo Philippe de la Tres Sainte Trinite, yang mengenal Berthelot di Goa. Dia punya andil dalam masuknya Berthelot ke dalam Ordo Carmes Dechaux.

Philippe menyusun cerita tentang peristiwa itu dalam bahasa Latin berbentuk kisah kehidupan orang suci. Kisah ini lalu terbit sekira 1652 di Lyon dalam bahasa Prancis berjudul Voyage d’Orient. Beberapa bagian karya ini diterbitkan kembali oleh Ch. Breard dalam Histoire de Pierre Berthelot.

Sumber lainnya adalah surat yang dikirim Francois de Soza de Castro untuk Pere General des Carmes di Roma. Sang pemimpin utusan itu menulisnya setelah dibebaskan dari tahanan pada 1643. Dia bersaksi, selama hampir tiga tahun dia mampu menahan kekerasan penjara yang sangat pahit dan sangat sempit. Dia juga menyaksikan enam puluh orang Portugis lainnya, rekan-rekan seperjalanannya ke Aceh menjadi martir.

Dalam surat itu termuat pula bagaimana dua biarawan, Denis de la Nativite dan Bruder Redempt de la Croix, memilih dihukum mati ketika diminta masuk Islam.

“Lebih dari yang lain, Romo Denis de la Nativite, Bapa pengakuan saya, dan Bruder Redempt de la Croix, biarawan yang keduanya patuh pada Paduka, yang pertama tidak hanya memberi nyawanya demi pengakuan iman kita yang amat suci, tetapi memperlihatkan dengan tegas betapa sedikitnya ia menakuti penyiksaan yang sangat kejam,” tulisnya.

Sumber: historia.id

Tags: acehportugis
Previous Post

Bupati Nagan Raya Lapor Harta ke KPK Senilai Rp86,6 Miliar

Next Post

Bakal Ada Soal Pencegahan Radikalisme di Tes CPNS 2019

Next Post
Ini Formasi CPNS Aceh 2019, Berminat?

Bakal Ada Soal Pencegahan Radikalisme di Tes CPNS 2019

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

ALAMP AKSI Aceh Desak Pemda Evaluasi Kinerja Kadis Dukcapil Aceh Singkil

ALAMP AKSI Aceh Desak Pemda Evaluasi Kinerja Kadis Dukcapil Aceh Singkil

05/08/2026
PII Aceh Desak Gubernur Aceh Evaluasi Total Kinerja Buruk Baitul Mal Aceh

PII Aceh Desak Gubernur Aceh Evaluasi Total Kinerja Buruk Baitul Mal Aceh

05/08/2026
Bupati Abdya Minta Dapur MBG di Abdya Konsisten Utamakan Bahan Lokal

Bupati Abdya Minta Dapur MBG di Abdya Konsisten Utamakan Bahan Lokal

05/08/2026
Haykal Nahkodai FPRB Pidie Jaya 2026–2031, Siap Perkuat Ketangguhan Daerah Hadapi Bencana

Haykal Nahkodai FPRB Pidie Jaya 2026–2031, Siap Perkuat Ketangguhan Daerah Hadapi Bencana

05/08/2026
Musda Demokrat Aceh Resmi Dibuka, Perebutan Kursi Ketua DPD Dimulai

Musda Demokrat Aceh Resmi Dibuka, Perebutan Kursi Ketua DPD Dimulai

05/08/2026

Terpopuler

Kisah ‘Martir’ Portugis Usai Mendarat di Aceh

Kisah ‘Martir’ Portugis Usai Mendarat di Aceh

30/10/2019

Kapolres Pidie Jaya Kritik Evaluasi SKPK: Jangan Bicara Tanpa Data, Rakyat Berhak Tahu Kinerja Pemerintah

Haykal Nahkodai FPRB Pidie Jaya 2026–2031, Siap Perkuat Ketangguhan Daerah Hadapi Bencana

Kejari Pidie Jaya Lelang 1.296 Liter Solar dan iPhone Rampasan Negara, Eksekusi Aset Hasil Putusan Berkekuatan Hukum Tetap

Lima Tahun Bertahan Tanpa Orang Tua, Lima Bersaudara di Pidie Jaya Pernah Dua Hari Menahan Lapar

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com