Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Cerbung

Wasiet (4)

Admin1 by Admin1
30/01/2020
in Cerbung
0

MALAM kian larut. Jam menunjukan pukul 03.15 WIB dini hari. Namun mata Ibnu tak kunjung terpejam. Perkataan Siwak seolah terus berulang di telinganya.

“Dia datang bersama pria muda berbaju loreng. Mereka terlihat mesra.”

Kalimat ini membuatnya gelisah. Ada rasa cemburu yang amat sangat muncul dari dalam tubuhnya. Jujur, perempuan cantik berkulit mulus itu menempati posisi istimewa dalam hatinya. Wanita itu adalah perempuan kedua yang membuatnya semangat menanti pagi beberapa tahun lalu. Tentu saja, perempuan nomor satu adalah almarhum ibunya.

Namun Darussalam menjadi saksi tentang akhir dari cerita itu.

“Semoga kini ia bahagia. Ia pantas mendapatkan pria yang lebih baik dari aku,” gumam Ibnu dalam hati. Kalimat itu terlalu pahit untuk diucapkan. Namun ia mencoba tegar dan berpikir realitis.

Ya, tak ada satu pun orangtua yang menginginkan anak perempuannya menikah dengan pria yang bekerja serabutan seperti dirinya. Apalagi ia kini sebatang karang. Almarhum ayah Ibnu tak meninggalkan harta benda. Demikian juga dengan almarhum ibunya.

Bertahun-tahun ia dan ibunya pindah-pindah demi menutup jati diri mereka. Tinggal di rumah reot serta makan dari hasil belas kasihan orang.

Semua pekerjaan dilakoni ibunya agar ia bisa menempuh pendidikan layaknya anak-anak Aceh pada umumnya. Mulai dari upah mencuci pakaian hingga cuci piring di warung makan Padang di seputaran Kota Bireuen. Tujuannya cuma satu, sang pemilik yang baik hati itu membungkus nasi lengkap dengan lauk pauk istimewa untuk di bawah pulang ke rumah setiap sorenya. Serta ada sedikit uang jajan untuk dirinya sekolah di pagi hari.

“Kau anak seorang pejuang. Kakekmu juga pejuang. Jangan ada air mata untuk setiap masalah yang kau hadapi.”

Kalimat itu yang selalu diulang-ulang ibunya setiap kali ia menangis karena ejekan teman di sekolah.

Diejek karena sepatu yang bolong untuk ke sekolah. Atau tak bisa membaca hingga kelas 5 Sekolah Dasar.

“Masalah tak akan selesai dengan menangis. Lawan ketakutanmu dan belajarlah setiap hari. Sebuah batu yang kokoh pun akan hancur jika tiap hari ditetesi air hujan,” pesan ibunya setiap kali ia menangis.

Terpaan ibunya tiap hari membuat keteguhan hati Ibnu menjadi sekuat batu. Sama seperti namanya, Ibnu Hajar. Nama ini dalam bahasa Arab. Artinya si anak batu. Namun keteguhan hatinya acap kali runtuh sejak ia berkenalan dengan si gadis cantik tadi. Padahal mereka memiliki karakter serta latar belakang yang jauh berbeda.

“Oh tuhan, kenapa aku tidak bisa tidur. Kenapa aku masih memikirkan Riska,” gumam Ibnu lagi dalam hati.

Ia kemudian bangun dari tempat tidur. Mengusap wajah dan memandangi dinding kamarnya. Di sana ada brosur pendaftaran magister salah satu universitas di Australia. Sekolah yang menjadi impiannya selama ini.

Ibnu tersenyum. “Tunggu aku di sana.  Aku pasti datang.”

Ibnu mencoba menarik nafas dalam-dalam. Ia kemudian membuka jendela kamar yang menghadap langsung ke jalan raya yang kini kian sepi. Anginnya berhembus kencang. Namun suasana dingin merupakan hal yang biasa dihadapinya kini.

Ibnu memandang jauh kedepan. Rumah-rumah di depannya seolah hilang dan menjadi ruang kosong. Seolah hanya dia dan tuhan pada malam ini.

“Ayah, aku tak akan menyerah. Akan aku buktikan bahwa kerja kerasku tak akan sia-sia. Aku tak akan mengiba demi bisa sekolah seperti pesanmu,” gumam Ibnu.

“Aku pasti menjadi orang seperti harapanmu. Tak ada air mata. Tak ada yang bisa membendung tekatku untuk mewujudkan cita-cita kita. Salamku untuk Ibu dan abang di sana. Bilang sama mereka, aku baik-baik saja di sini.”

[Bersambung]

Tags: wasiet
Previous Post

Plt Ketua Dekranasda Aceh Serahkan Bantuan Untuk Pengrajin di Aceh Besar

Next Post

Aktivis PILAR Gelar Pertemuan dengan Wakil Ketua Komite II DPD RI

Next Post

Aktivis PILAR Gelar Pertemuan dengan Wakil Ketua Komite II DPD RI

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Dana Desa Dipangkas, HBDC Ingatkan Warisan Kebijakan Era Mantan Kombatan GAM

Dana Desa Dipangkas, HBDC Ingatkan Warisan Kebijakan Era Mantan Kombatan GAM

12/02/2026
Jelang Ramadhan 1447 H, OSIS SMAN 1 Simeulue Barat Laksanakan Baksos

Jelang Ramadhan 1447 H, OSIS SMAN 1 Simeulue Barat Laksanakan Baksos

12/02/2026
UNIMAL Adakan Sosialisasi Masuk Perguruan Tinggi di MA Ruhul Qur’ani Meulaboh

UNIMAL Adakan Sosialisasi Masuk Perguruan Tinggi di MA Ruhul Qur’ani Meulaboh

12/02/2026
Krak, Desa Terdampak Bencana Aceh Dapat Rp50 Juta untuk Meugang

Pemkab Pijay Terima Rp4,9 Miliar Bantuan Presiden untuk Meugang Korban Terdampak Bencana

12/02/2026
Warga Temukan Mayat Mengapung di Kreung Babahrot

Warga Temukan Mayat Mengapung di Kreung Babahrot

12/02/2026

Terpopuler

Wabup Pijay Mundur dari Satgas Bencana Alam, Ada Apa?

Wabup Pijay Mundur dari Satgas Bencana Alam, Ada Apa?

11/02/2026

Lubang Raksasa di Aceh Tengah Terus Meluas Akibat Hujan

Pengurus KONI Abdya Dilantik, Zulkarnaini Sebagai Ketua Umum

Isu Nikah Pejabat Aceh Mengemuka, Muadi Buloh: Jangan Alihkan Fokus dari Akuntabilitas Publik

Di Pelantikan KONI Abdya, Dr. Safaruddin: Terimakasih Kepada Rusman dan Jufri Yusuf

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com