Penanganan nelayan asal Aceh yang kini ditahan di luar negeri kini masih penuh tanda tanya. Mungkin karena tak ada kamera yang menyorot aktifitas mereka dalam tahanan. Atau tak ada virus Corona sehingga menarik perhatian dunia.
Menurut data dari Jaringan KuALA, ada 51 nelayan Aceh yang kini masih mendekam di penjara di luar negeri. 32 orang ditahan oleh Otoritas Thailand dan 19 ditahan di India. Mereka dianggap melanggar batas laut dan akhirnya harus mendekam di bilik kecil yang dingin serta menanti asa untuk kembali ke kampung halaman.
19 Orang sudah mendekam penjara berbilang bulan di India. Sementara 32 nelayan Aceh lainnya, hampir dua pekan, hidup dalam jerusi besi di Thailand.
13 DPR RI asal Aceh masih bungkam soal nasib nelayan ini. Mungkin mereka masih sibuk dengan reses dan proyek-proyek awal tahun dalam APBN. Mereka ngakunya wakil rakyat Aceh. Namun sejauh ini, mereka hanya mewakili rakyat untuk hidup bergelimbangan harta. Sedangkan sisi perihnya, masih tetap menjadi milik rakyat.
Dari 4 anggota DPD RI, hanya satu yang baru bersuara soal nasib nelayan ini. Sosok itu adalah HM Rahmi Fadhil.
Sementara Kemlu masih sibuk dengan WNI yang sedang menjalani masa isolasi di tanah Natuna.
Pemerintah Aceh juga masih terlena dengan virus Corona dan nasib Asrizal Asnawi yang tidak bisa pulang ke Aceh. DPR Aceh juga berpangku tangan menunggu balasan surat dari Kemlu yang tak tahu kapan datang.
Demikian juga Pemkab Aceh Timur, tak terlihat gerak lanjutan usai pemberitaan nasib terkait para nelayan ini. Rocky mengaku akan bertemu Kemlu. Kemudian advokasinya menjadi hilang.
Keadaan ini sebenarnya dipahami publik Aceh. Toh, 51 nelayan ini hanyalah masyarakat biasa. Mereka bukan Asrizal Asnawi. Bukan pula anak dari Surya Paloh.
Seandainya 51 nelayan ini adalah kerabat atau anak Surya Paloh, pejabat Kemlu pasti akan sibuk luar biasa.
DPR RI kita juga akan sibuk mondar mandir ke Thailand dengan serombongan wartawan dan kamera besar yang menyertainya. Saku mereka pasti akan berisi obat mata agar air bisa keluar bersamaan dengan cahaya kamera aktif.
51 nelayan Aceh itu kurang beruntung. Mereka terlahir dari warga biasa yang harus bertaruh nyawa demi mencari sesuai nasi.
Mungkin stok beras di rumah mereka, di Aceh Timur, kini sudah habis. Sang istri yang ditinggali sedang berutang sama tetangga demi bertahan hidup dari hari ke hari. Mereka mencoba bertahan hingga suaminya dipulangkan kembali ke Aceh.
Anak-anak nelayan ini juga tak memiliki uang jajan saat hendak sekolah. Tapi toh itu sudah biasa dilakoni mereka sejak kecil. Mereka sudah terbiasa susah. Di penjaranya ayah mereka, hanya menjadi pelengkap derita. []










