SELASA pagi, kami berempat menuju ke Bandara Rembele, kabupaten Bener Meriah. Senator muda rencananya bakal mendarat pukul 09.00 WIB. Kali ini jadwal penerbangan tepat waktu. Hanya 5 menit di lokasi, para penumpang telah tiba di Rembele, termasuk Syech Fadhil.
Kami kembali ke pusat kota Takengon untuk menemui Dr. Abdiansyah dan kawan kawan di Cafe Hitam Putih.
Istirahat 30 menit, perjalanan kemudian berlanjut ke universitas Gajah Putih. Disana, Syech Fadhil dan rombongan disambut oleh petinggi mahasiswa, dosen, civitas akademika serta pengurus yayasan setempat.
Dalam sesi temu ramah itu terungkap bahwa berkas penegerian Universitas Gajah Putih ternyata telah diserahkan ke jajaran kementerian terkait. Berkas juga sudah diserahkan ke Illiza, anggota DPR RI asal Aceh, yang membidangi pendidikan.
Namun penegerian sendiri, terkendala kebijakan moratorium yang sedang diberlakukan oleh pemerintah pusat.

Ketua Yayasan Gajah Putih, Drs. Samarnawan, kepada Syech Fadhil, juga mengungkapkan perihal komitmen Jokowi untuk penegerian Universitas Gajah Putih. Apalagi, Jokowi mengaku sebagai
“Ini merupakan tahun ke 4 janji Jokowi untuk menegerikan Universitas Gajah Putih,” kata Drs. Samarnawan.
Syech Fadhil sendiri mengaku akan berjuang semaksimal mungkin bersama Bunda Illiza di Senayan terkait penegerian Gajah Putih. Tapi sosok alumni timur tengah ini minta dibekali dengan berkas-berkas.
Silaturahmi ini berlanjut hingga jelang Dhuhur. Syech Fadhil menyerahkan sejumlah buku kepada civitas akademika setempat.
Usai pertemuan ini, rombongan bersiap-siap menuju Bebesan. Namun informasi keberadaan Syech Fadhil sudah terlanjur menyebar di Aceh Tengah.
Sejumlah warga, mantan Timses dan tokoh masyarakat setempat meminta izin untuk berdiskusi dengan Senator DPD RI itu. Mulai dari kegiatan sosial hingga sekedar bernostalgia bersama senator terkait aktivitas selama Pileg 2019 lalu.
Bagi warga di dataran tinggi Gayo, Syech Fadhil adalah bagian yang tak terpisahkan dari daerah mereka. Sebahagian keluarga besar Syech Fadhil berada di tanah Gayo. Hal ini pula yang membuat warga di sana lebih terbuka dengan mantan ketua IKAT Aceh dan sahabat ustadz Abdul Somad ini.
Syech Fadhil sendiri meraih suara terbanyak kedua di wilayah tengah Aceh.
Kegiatan di Dayah Maqamam Mahmuda yang sejatinya dimulai pukul 13.30 WIB akhirnya molor hingga satu jam lamanya.
Tim sempat khawatir jika para pimpinan dayah yang menunggu di Bebesan kecewa dan akhirnya bubar sebelum Syech Fadhil tiba di lokasi.
Namun kekhawatiran tadi hilang begitu rombongan tiba di lokasi. Sejumlah pimpinan dayah dan pemuka agama di wilayah tengah justru menyambut dengan antusias. Demikian juga para santri Maqamam Mahmuda.
Silaturahmi ini berlangsung dengan santai. Sejumlah pimpinan dayah meminta dukungan Syech Fadhil selaku mantan kedua IKAT agar santri mereka bisa melanjutkan pendidikan ke timur tengah.
Syech Fadhil juga membeberkan sedikit fakta tentang jumlah santri asal wilayah tengah dan barat selatan yang dinilai masih minim diterima di Al Azhar, Kairo, dibandingkan dengan santri asal timur utara dan Kota Banda Aceh.
“Peminatnya dari wilayah tengah dan barat selatan sangat tinggi. Tapi yang lulus di Al Azhar hanya beberapa. Per-angkatannya bisa dihitung dengan jari.”
Syech Fadhil meminta para santri untuk belajar lebih giat hingga akhirnya bisa menembus pendidikan tinggi yang dicita-citakan nantinya, termasuk ke timur tengah.
Pertemuan ini berlangsung hingga jadwal salat Ashar tiba. Kegiatan ditutup dengan salat berjamaah bersama.
Usai salat, sesuai jadwal yang disusun oleh tim kecil, Syech Fadhil dan rombongan sejatinya berangkat ke Kala Wih Ilang. Senator muda itu dijadwalkan bermalam di Kala Wih Ilang dan bersilaturahmi dengan warga di sana.
Ini mengingat mayoritas warga di Kala Wih Ilang adalah pekerja kebun, maka aktivitas di malam hari bersama warga dinilai jauh lebih cocok.
Namun kendaraan yang memiliki ban besar atau dapat menempuh jalur terjal, tak kunjung didapat. Syukran menghubungi sejumlah kenalan di wilayah tengah, tapi tak satu pun yang menyewa mobil yang bisa menempuh medan berat.
Perjalanan ke Kala Wih Ilang terancam batal.
Nazaruddin Yahya, minta izin pamit dan pulang ke Banda Aceh. Anaknya sakit dan tinggal seorang diri. Sementara istrinya harus kembali ke Bireuen untuk menunaikan kewajiban sebagai abdi negara.
Keberadaan Nazar, demikian tim kecil menyapa sosok itu, rencananya akan digantikan oleh Agam Iskandar, staf dari DPD RI Fadhil Rahmi lainnya, yang baru pulang dari kegiatan umrah di tanah suci.
Agam baru tiba di Aceh, beberapa jam. Tapi langsung berangkat ke wilayah tengah. Agam dijadwalkan tiba di Takengon pada malam hari. Jadi rombongan jadi berangkat jelang magrib ke Kala Wih Ilang, maka Agam tertinggal di Takengon.
Kemudian juga datang seorang pria lainnya bernama Doni yang berangkat dari Langsa untuk membantu tim kecil tadi selama perjalanan reses Syech Fadhil.
Karena tak ada kejelasan soal mobil, Syech Fadhil dan rombongan akhirnya balik ke penginapan di pusat kota Takengon, dengan wajah kecewa.
Jelang Magrib, sejumlah alumni timur tengah di Takengon berkumpul di penginapan. Diam-diam, beberapa di antara mereka, berangkat ke Kecamatan Ketol, dan kembali ke penginapan saat azan Isya tiba.
Mereka kembali dengan membawa sekarung lebih, durian Ketol, yang terkenal memiliki kualitas terbaik di dataran tinggi Gayo.
Raut wajah Syech Fadhil dan tim berubah cerah saat melihat hadiah dari para juniornya itu. Rombongan kemudian berangkat ke tepi Danau Lut Tawar. Makan malam plus belah duren bersama.
Di sela-sela kegiatan tadi, seorang pemuka agama menelpon. Sosok itu memberi kabar bahwa mobil untuk berangkat ke Kala Wih Ilang telah stanby. Perjalanan ke Kala Wih Ilang bisa dilakukan Rabu pagi. Ini sesuai dengan jadwal tibanya Agam di wilayah tengah.
Semua seolah telah diatur dengan rapi tanpa campur tangan tim. [Bersambung]










