Darussalam, 2015
IBNU terdiam. Ia mengamati baju dan toga di depannya itu berulangkali. Beberapa hari lagi, ia akan mengenakan baju impian dari orangtuanya itu. Senat Unsyiah akan menarik tali di ujung toga itu sebagai tanda ia telah sarjana.
Ini adalah harapan terakhir ayahnya semasa hidup. Pengorbanan dari ibunya yang selalu tersenyum tapi diam-diam menitihkan air mata dalam sujudnya di tengah malam. Ibu yang menanggung beban seorang diri pasca ditinggal syahid sang ayah di medan perang karena konflik.
Mengingat almarhum ibunya, hati Ibnu terasa sakit. Ia sempat membenci tuhan atas takdir yang mempermainkan hidupnya. Namun ia kemudian sadar bahwa ada banyak anak Aceh lainnya yang mengalami nasib serupa dengannya.
Ada kampung janda, bukit tengkorak serta sejumlah tragedi mengerikan lainnya di kampung kampung seluruh Aceh.
Namun itu masa lalu. Kini Aceh sudah damai. Ibnu tak mau ia terjebak dengan masa lalu Aceh yang begitu kelam. Ia mencoba bangkit dan melupakan masa lalu. Tapi berulangkali pula ia kembali terjatuh dan hampir-hampir mengikuti jejak sang ayah dan kedua abangnya untuk kembali memegang senjata.
Belasan tahun lalu, dendam yang membuatnya bertahan. Bayangan teriakan abang tertuanya saat dijemput paksa serta percikan darah abangnya kedua yang selalu terekam di kepala.
Saat itu, ia ingin cepat cepat besar untuk membalas dendam. Membayar setiap hari hari kelam yang dilalui ibunya dengan tangisan.
Tapi ayahnya justru mengharamkan ia untuk mengikuti jejaknya. Ini ditekankannya di hari-hari terakhir saat mereka bersama.
“Konflik di Aceh tak akan pernah terputus nak jika kau masih menyimpan dendam. Konflik hanya akan menyisakan dendam baru,” kata ayahnya saat mereka berdua di meunasah dalam komplek dayah di pedalaman Matangkuli, Bireuen.
Saat itu mereka hanya berdua. Ibunya sendiri berada di kamar kecil dalam komplek dayah, yang menjadi tempat tinggal mereka sementara. Ibnu tak mengerti kalimat tersebut karena ia masih kecil saat itu.
“Aku berharap kau dapat melihat Aceh dengan cara yang berbeda. Berjanjilah untuk tak pernah memegang senjata seperti ayah, di masa depan. Walaupun takdir memisahkan kita dengan cara buruk kedepan.”
Itu adalah wasiet terakhir dari ayahnya semasa hidup. Kalimat yang melekat dalam ingatannya selama bertahun-tahun. Kalimat yang membuatnya menolak setiap ajakan untuk menjadi martir Aceh yang baru meski kini daerah di ujung Sumatera ini telah berstatus damai.
Seminggu bersama ayahnya di pedalaman Matangkuli adalah hari-hari terindah dalam hidupnya.
Mendapat pelukan sang ayah dan melihat senyuman bahagia dari sang ibu. Mereka seolah pasangan paling serasi di dunia.
“Kau tahu mengapa aku menamakanmu dengan Ibnu Hajar? Itu karena aku berharap kau bisa sekokoh batu. Tak mudah patah semangat serta menyerah. Kelak, sesulit apapun hidupmu, jangan pernah mengeluh dan menangis. Karena batu tak pernah menangis,” ujar sang ayah.
“Kau harus terus menatap kedepan. Karena ayah tak bisa memberi masa lalu yang baik untukmu. Belajarlah dan taklukan dunia ini. Buatlah ayahmu bangga denganmu suatu saat kelak.”
Kalimat itulah yang terus memotivasinya untuk terus bertahan walau cobaan sangat sulit terus dilaluinya.
Kini, ia berada diambang harapan sang ayah. Fase pertama dari misi ‘menaklukan dunia’ yang digagas selama di pesantren hampir tercapai. Beberapa hari lagi, ia akan memakai baju toga yang kini telah disetrika rapi di depannya.
Ia akan mengenakan baju tersebut meski tak ada yang hadir dalam wisudanya nanti.
“Aku tak akan menangis ayah. Aku kuat seperti batu. Aku akan baik-baik saja seperti harapanmu,” gumam Ibnu dalam hati.
[Bersambung]








