Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

Menguji Personalitas Ke-Aceh-an Pemimpin Aceh

Atjeh Watch by Atjeh Watch
08/04/2020
in Opini
0
Menguji Personalitas Ke-Aceh-an Pemimpin Aceh

Processed with VSCO with aga2 preset

Oleh: Muhammad Zaldi*

Aceh adalah sebuah Provinsi yang terletak pada bagian Barat paling ujung Pulau Sumatera di wilayah Indonesia, banyak meyimpan ragam kekayaan budaya, suku, adat dan ragam bahasa. Di  Aceh terdapat 13 suku  dan masing-masing suku memiliki adat istiadat serta bahasa tersendiri yang berbeda-beda  yaitu: bahasa Aceh, Gayo, Aneuk Jamee, Singkil, Alas, Tamiang, Kluet, Devayan, Sigulai, Pakpak, Haloban, Lekon, dan Nias.

Perlu digaris bawahi bahwa semua bahasa daerah Aceh adalah bahasa Aceh. Bahasa daerah Aceh adalah sekumpulan bahasa daerah yang dipakai oleh masyarakat di Propinsi Aceh, apapun suku dan bahasanya adalah bagian dari bahasa daerah Aceh.

Kini di tengah merebaknya penyebaran virus corona (Covid-19) di seluruh dunia khususnya Aceh. Penulis melihat ada semacam Gay and Proud (GAP) atau kesenjangan antara pihak pemerintah dengan masyarakat dan masyarakat dengan masyarakat.

Apa yang terjadi ini bukanlah wujud bahwa pemerintah bersalah, sama sekali tidak. Tetapi ini lebih kepada bagaimana pemerintah ataupun pemimpin mampu memahami problematika yang sedang di hadapi oleh masyarakat, sehingga ada semacam rasa enggan untuk mematuhi kebijakan yang telah di buat oleh pemerintah.

Dalam kasus yang coba penulis ulas kali ini adalah adanya ketidaktegasan dari pimpinan pemerintah terkait bagaimana strategi yang akan di lakukan untuk mencegah penyebaran virus ini. Malahan akibat dari ketidaksiapan ini, menimbulkan kritik yang menjurus kepada Suku Agama Ras Antar golongan (SARA) yang beberapa waktu lalu di lakukan oleh sebuah akun di social media kepada pemimpin pemerintahan di Aceh, yang akibatnya adalah menyakiti salah satu suku yang ada di Aceh. Ini merupakan sesuatu yang miris dan sama sekali tidak perlu terjadi.

Penulis mencoba untuk memahami agar kasus seperti ini tidak terulang lagi ke depannya, menurut teori kepemimpinan situasional atau The Situational Leadership Theory adalah teori kepemimpinan yang dikembangkan oleh Paul Hersey. Mendefinisi kepemimpinan situasional sebagai “A leadership contingency theory that focuses on followers readiness/maturity”.

Inti dari teori kepemimpinan situational adalah bahwa gaya kepemimpinan seorang pemimpin akan berbeda-beda, tergantung dari tingkat kesiapan para pengikutnya. Nah, pemimpin di Aceh harus mampu berada dalam situasi ini, sebab ia adalah pemimpin dari satu kesatuan wilayah yang terdiri dari 13 suku dengan 11 bahasa.

Pergeseran isu yang kian kompleks ini sekiranya memang agak sedikit riskan, perihal sudah menjurus kepada personal seorang pemimpin Aceh. Konon hal ini membuat penulis merasa tertarik dan mencoba memberanikan diri untuk mengkaji dan memberikan pandangan mengenai sesuatu hal yang memang melekat pada setiap personal pemimpin Aceh.

Sedari dulu isu seperti ini selalu saja muncul, problem ini kian nyata dan tak terhindarkan. Kelak, jika terus dibiarkan tidak menutup kemungkinan akan kembali muncul isu lain yang lebih besar atas ketidaksepemahaman terhadap dogma dalam suatu wilayah untuk memisahkan diri dari wilayah induk.

Maka dari itu, penulis berharap agar setiap siapapun yang memimpin Aceh harus benar-benar menjadi seorang Aceh yang mewakili 13 suku dengan 11 bahasa tanpa perlu menampakan dirinya sebagai seorang pemimpin dari suku tertentu.

Masyarakanpun agar lebih dewasa dalam mengkritik, silahkan mengkritik selama yang di kritik adalah tubuh politiknya bukan kepada personal orangnya. Keresahan terkait hal ini sering di sepelekan oleh banyak kalangan, tetapi penulis memandang hal-hal kecil semacam ini jika di biarkan liar terus menerus tidak menutup kemungkinan akan menjadi bola salju di masa mendatang.

Layaknya kita sebagai seorang Aceh dan generasi Aceh ke depan menjadi generasi yang Tusoe Droe dan Turi Droe supaya kita tidak menjadi generasi yang gagap dalam menjalin hubungan baik dengan sesama Aceh. Sejatinya kita tidak perlu saling bermusuhan, bukankah generasi Aceh tempo dulu sama-sama berjuang melawan Belanda, Portugis, dan Jepang? Bahkan ketika berkonflik dengan Saudara Muda kita tetap berdiri sebagai Orang Aceh!

*Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Politik FISIP UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

 

Previous Post

Glenn Fredly Meninggal karena Meningitis, Kenali 3 Penyebabnya

Next Post

Tekanan Emosional Landa Petugas Medis Italia dan Spanyol

Next Post
Belasan Ribu Tenaga Medis di Spanyol Tertular Virus Corona

Tekanan Emosional Landa Petugas Medis Italia dan Spanyol

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Rian Syaf Targetkan Demokrat Kembali Berjaya di Aceh Tengah

Rian Syaf Targetkan Demokrat Kembali Berjaya di Aceh Tengah

19/06/2026
Jelang Hari Bhayangkara ke-80, Kapolres Pidie Jaya Sambangi Purnawirawan: Pengabdian Tak Pernah Pensiun

Jelang Hari Bhayangkara ke-80, Kapolres Pidie Jaya Sambangi Purnawirawan: Pengabdian Tak Pernah Pensiun

19/06/2026
Komisi III DPRA Apresiasi PT Samira Karena Serap Tenaga Kerja Lokal

Komisi III DPRA Apresiasi PT Samira Karena Serap Tenaga Kerja Lokal

19/06/2026
Rp1,4 Triliun Modal Daerah Dipertanyakan, IDeAS Desak Audit Total Tiga BUMA Aceh

Rp1,4 Triliun Modal Daerah Dipertanyakan, IDeAS Desak Audit Total Tiga BUMA Aceh

19/06/2026
Kasus Potong Tangan di Aceh Besar, PMII Tolak Main Hakim Sendiri

Kasus Potong Tangan di Aceh Besar, PMII Tolak Main Hakim Sendiri

19/06/2026

Terpopuler

Penuhi Undangan Kemendagri, Pemerintah Aceh Bahas Tujuh Poin Inti Revisi UUPA

Penuhi Undangan Kemendagri, Pemerintah Aceh Bahas Tujuh Poin Inti Revisi UUPA

18/06/2026

Kakanwil Kemenag Aceh Lantik 40 Pejabat Fungsional, Tekankan Inovasi dan Kerja Tim dalam Melayani Umat

Komisi III DPRA Apresiasi PT Samira Karena Serap Tenaga Kerja Lokal

Rian Firmansyah Dorong Seniman Aceh Jadikan Budaya sebagai Kekuatan Ekonomi Kreatif

Haji Kamaruddin Terpilih sebagai Ketua Komite Percepatan Pemekaran Provinsi ABAS

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com