KONDISI masyarakat Aceh kian sulit selama pandemi Corona merebak di provinsi paling ujung barat pulau Sumatera ini.
Jauh sebelum Corona menyerang, tingkat kemiskinan kita di atas rata-rata nasional. Sudah miskin kini terdampak Corona pula.
Keadaan ini kemudian ditambah dengan sulitnya warga, di luar TNI, Polri serta Tentara, untuk mencari nafkah selama wabah ini berlangsung.
Banyak sector swasta, terutama yang bergerak di bidang jasa, terpaksa tutup dan merumahkan karyawannya tanpa pesangon. Baik hotel, warung makan, serta sejumlah usaha lainnya.
Mereka yang dirumahkan ini luput dari perhatian pemerintah. Mereka dibiarkan melewati hari demi hari tanpa kepastian. Padahal mereka juga memiliki anak dan istri yang juga butuh makan.
Harga harga barang kebutuhan pokok mulai meninggi. Apalagi jelang Ramadan dan Idul Fitri di depan mata.
Dari data yang dihimpun media, di Aceh kini tumbuh sejumlah Orang Miskin Baru (OMB) yang kini membutuhkan uluran tangan pemerintah. Namun lagi-lagi mereka justru luput dari perhatian dari semua pihak. Maka kompleklah derita yang dialami oleh masyarakat kita saat ini.
Masyarakat hanya mendengar jika ada alokasi Rp1,7 triliun yang diplotkan untuk penanganan Corona. Dari jumlah ini, baru sembako senilai Rp200.000 untuk 61 ribu paket yang disalurkan pemerintah Aceh. Namun peruntukannya masih tak jelas dan ngambang di lapangan.
Selebihnya, berdasarkan kabar burung, dana Rp1,7 triliun juga akan disalurkan untuk pengadaan I juta masker. Namun pengadaannya masih dalam tahap dilelang.
Singkat cerita, hingga kini atau per 18 April 2020, masyarakat masih mendengar adanya uang Rp1,7 triliun untuk penanganan Corona di Aceh. Namun semua itu masih statemen di media massa.
Saat-saat seperti ini, harusnya DPR Aceh berada di garda terdepan untuk membantu warganya yang terlibat ekonomi akibat wabah Corona. Namun pertanyaannya, sudahkan mereka bersuara terkait hal ini? Kenapa mereka justru irit bicara saat rakyat menjerit? Kemana para pimpinan dewan saat ini? Masihkah mereka menjadi pengekor Plt Gubernur Aceh saat rakyat terancam lapar seperti saat ini?
Jerit yatim piatu mungkin tak terdengar hingga pendopo ketua DPR Aceh? Ini karena pagarnya tinggi dan ber-AC pula di dalamnya.
Bung, harusnya anda-anda sadar. Fasilitasmu berasal dari uang rakyat. Anda menikmati gaji dari keringat rakyat yang kini sedang kelaparan di luar sana. Kerjalah yang benar dan turutlah ke lapangan. Suarakan aspirasi rakyat, bukan sebatas menjaga kepentingan-kepentingan beberapa Tuan yang memilih Anda untuk jabatan tertinggi itu. Keluarlah dari ‘lilitan ular besar’ itu. []










