BRAM terdiam. Ia mencoba menarik nafas panjang. Ini ingin menjelaskan sesuatu yang menjadi tanggungjawabnya selama ini. Bram mencoba mencari kalimat yang tepat agar apa yang dijelaskannya nanti bisa diterima oleh Ibnu dan dijalankannya.
“Begini. Semasa hidup, almarhum ibumu, Sakdiah dan ayahnya Dara yang juga ayah angkatmu, pernah membuat kesepakatan. Ini kemudian menjadi wasiat terakhir dari almarhum Pak Buyung dan Buk Rukaiyah sebelum kecelakaan,” ujar Bram.
Ibnu terdiam. Ia belum mengerti dengan persoalan yang terjadi.
“Almarhum Pak Buyung ingin kamu dan Dara menikah suatu saat. Meskipun Dara lebih tua dua tahun darimu,” kata Bram kemudian.
Penjelasan Bram membuat Ibnu terkejut. Ia tidak pernah berpikir bahwa ia telah dijodohkan dengan Dara sejak kecil. Apalagi ibunya semasa hidup tak pernah menceritakan hal tersebut.
“Kalian berdua dijodohkan. Almarhum ibu sepakat dengan ini. Ini juga keinginan terakhir dari Pak Buyung dan keluarga,” kata Bram lagi.
Ibnu tertunduk mendengar penuturan Bram. Dara adalah gadis pintar dan cantik jelita. Ia muslimah yang anggun serta kini memiliki karier yang bagus di ibukota. Namun wanita itu sudah dianggapnya seperti keluarga meskipun ia hanya beberapa tahun tinggal bersama keluarga angkatnya itu.
Mereka kembali bertemu setelah belasan tahun, dan kini tiba-tiba mereka dijodohkan. Bahkan jodoh itu telah diatur oleh almarhum orang tua mereka sejak mereka masih kecil.
“Bagaimana pendapat Dara?” ujar Ibnu kemudian.
Bram kemudian tersenyum tipis. Ia sudah menebak jika pertanyaan itu akan meluncur dari bibir Ibnu.
“Dara telah mengetahui hal ini sekitar 5 tahun lalu. Sepertinya ia tidak keberatan,” kata Bram lagi.
Ibnu tertunduk malu. Ia kini mengerti kenapa Dara begitu sulit untuk mengungkapkan perihal wasiat terakhir dari ayah angkatnya itu. Dara juga berulangkali bertanya soal kehidupannya usai mereka terpisah.
“Pernikahannya tak harus sekarang. Pernikahan bisa disesuaikan dengan kesiapan kalian pribadi. Aku hanya menyampaikan pesan ini agar kalian berdua mengerti apa yang sedang terjadi,” kata Bram.
“Ini juga tak ada sangkut pautnya dengan warisan yang menjadi hak kamu tadi. Wasiet terakhir hanya harapan orangtuamu serta ayah Dara semasa hidup. Mau tidaknya kalian melaksanakan wasiat tadi, terpulang pada kalian berdua,” ujar Bram lagi dengan kalimat datar.
Ibnu terdiam. Dara tiba-tiba datang dari arah belakang dan menepuk pundaknya. Ia tersenyum manis ke arahnya dan Bram.
Ibnu merasa salah tingkah dengan perlakuan Dara. Pasalnya, Dara bergabung dengan mereka hanya sesaat usai Bram menceritakan semuanya.
“Dara memang lebih tua dari aku. Namun ia sangat cantik. Hanya pria yang bodoh yang menolak menikah dengan wanita yang nyaris sempurna seperti ini. Tapi..” gumam Ibnu dalam hati sambil memandangi Dara.
“Tapi aku juga memiliki janji dengan Riska. Meskipun jarang bertemu beberapa tahun terakhir, tapi janji adalah janji. Apakah aku harus menceritakan semua pada Dara dan keluarga,” gumam Ibnu lagi.
Dara dan Ibnu kemudian saling tatap. Keduanya kemudian saling tunduk. Sementara Bram tersenyum melihat keduanya bertingkah kaku usai menceritakan wasiat tadi.
[Bersambung]








