Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

Menjadi Pemimpin yang Beretika

Atjeh Watch by Atjeh Watch
08/06/2020
in Opini
0
Menjadi Pemimpin yang Beretika

Oleh : Muhammad Meuraksa*

SETIAP orang pastinya merasakan perasaan yang berbeda-beda ketika dirinya di dapuk untuk menjadi seorang pemimpin, ada kalanya seseorang merasa senang dan gembira karena merasa apa yang telah diperjuangkannya telah sampai pada tujuan akhir. Namun ada juga sebagian orang merasakan bahwa menjadi pemimpin adalah sebuah amanah sekaligus musibah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan semata-mata pertanggungjawaban di dunia tetapi juga persoalan di akhirat kelak. Selamat atau tidak pada mahkamah maha keadilan Tuhan.

Sejarah telah mencatat begitu banyak kisah-kisah kepemimpinan, ada yang dikenang karena kekejamannya, dan ada pula yang dikenal karena keberhasilan selama periode kekuasaannya. Semua itu adalah contoh nyata yang mestinya dapat menjadi teladan, sekaligus pelajaran bagi mereka yang berfikir.

Menjadi pemimpin adalah bersiap menjadi pelayan, pelayan yang melayani semua kebutuhan rakyatnya. Hidup dalam merasakan suka dan duka secara bersama-sama. Membimbing generasi-generasi muda, menerima nasehat dari yang lebih tua, berbagi bersama meraka yang membutuhkan dan juga membina para golongan-golongan bawah untuk bangkit pada titik yang lebih layak. Pemimpin yang baik selalu ingat dengan aturan yang telah ditetapkannya, tidak semena-mena dalam menyikapi sifat “tungang” rakyatnya, dan tidak pula menciptakan aturan hanya untuk kasta bawah sedangkan elit atas bebas berpesta pora. Inilah sedikit tidaknya sikap norak dan retorika yang sering ditunjukkan oleh mereka yang mungkin belum paham makna kepemimpinan.

Sejenak kita merenung ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz dilantik menjadi khalifah ke-8 Dinasti Bani Umayyah, kalimat pertama yang beliau ucapkan adalah “Innalillahi waa innailaihi raji’un”. Sebuah kalimat yang mengisyaratkan betapa beratnya sebuah amanat dan pertanggungjawaban seorang pemimpin, dan sebagai cendekiawan beliau juga sadar betul akan makna hakikat seorang pemimpin itu sendiri.

Adil, jujur, sederhana dan bijaksana. Itulah ciri khas kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada era kepemimpinannya, Dinasti Umayyah mampu menorehkan tinta emas kejayaan yang mengharumkan nama Islam. Kendati singkat selama pemerintahannya (sekitar 2.5 tahun), umat Islam dapat merasakan ketenangan dan kedamaian. Sebab, sang khalifah mampu memberikan contoh dan teladan yang luar biasa bagi umat.

Pada masanya, keadilan benar-benar tegak. Rasa aman meliputi seantero negeri. Harta begitu melimpah ruah, sehingga para pembayar zakat (muzakki) kesulitan dalam mendistribusikan zakat mereka. Salah satu kunci sukses beliau dalam menjalankan roda pemerintahanya (99-102 H/717-720M) adalah dengan cara menetapkan aturan atau kebijakan-kebijakan yang sangat tepat untuk kesejahteraan umat dengan tidak egois mementingkan dirinya sendiri.

Kebijakan Umar bin Abdul Aziz saat memimpin menolak untuk diperlakukan istimewa, menerapkan pola hidup sederhana (khususnya untuk diri dan keluarganya), menolak suap dalam bentuk apa pun hingga menegakkan keadilan dan mengabdikan diri semata-mata untuk mensejahterakan umat.

Itulah sedikitnya corak pemerintahan ala Umar bin Abdul Aziz, cendekiawan sekaligus intelektual yang mampu memutarkan roda kekuasaan dengan kegemilangan, meskipun dalam waktu yang amat singkat.

Namun kepemimpinan kadangkalanya menjadikan seseorang menjadi durjana, dan lupa bahwa dirinya adalah jongos rakyat. “Membudakkan” rakyat secara semena-mena dengan tangan kekuasaan yang sedang digenggam. Ini adalah bagian dari degradasinya etika dan moral seorang pemimpin, yang melupakan esensi kepemimpinan itu sendiri.

Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal, yakni dengan memiliki nilai-nilai dan etika yang baik dalam kepemimpinan.

Penulis adalah mahasiswa pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Founder komunitas instagram @habagampong.id dan Pemerhati Sosial

Tags: opini
Previous Post

Kasus Harian Covid-19 di AS Naik Dua Kali Lipat

Next Post

RSUD Dr. Zubir Mahmud Aceh Timur Rawat Pasien Covid-19 Pertama

Next Post
RSUD Dr. Zubir Mahmud Aceh Timur Rawat Pasien Covid-19 Pertama

RSUD Dr. Zubir Mahmud Aceh Timur Rawat Pasien Covid-19 Pertama

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Kemenag Aceh Besar-Densus 88 Sasar Madrasah dan KUA Cegah Paham Radikalisme dan Terorisme

Kemenag Aceh Besar-Densus 88 Sasar Madrasah dan KUA Cegah Paham Radikalisme dan Terorisme

15/04/2026
Dana Otsus Aceh, DPR RI: Pastikan Pengelolaannya Sehat, Bukan Cuma Transfer…

Dana Otsus Aceh, DPR RI: Pastikan Pengelolaannya Sehat, Bukan Cuma Transfer…

15/04/2026
Wabup Aceh Barat Ingatkan Masyarakat Waspada Cuaca Ekstrem

Wabup Aceh Barat Ingatkan Masyarakat Waspada Cuaca Ekstrem

15/04/2026
Polda Aceh dan UTU Jalin Kerja Sama Strategis untuk Pendidikan dan Riset

Polda Aceh dan UTU Jalin Kerja Sama Strategis untuk Pendidikan dan Riset

15/04/2026
Imigrasi Amankan Satu WNA Malaysia di Abdya

Imigrasi Amankan Satu WNA Malaysia di Abdya

15/04/2026

Terpopuler

Gubernur Mualem Tunjuk Nurlis Jadi Jubir

Gubernur Mualem Tunjuk Nurlis Jadi Jubir

14/04/2026

Muscab PKB Pidie Lahirkan 7 Nama Kadidat Ketua

Wabup Abdya Kunjungi Warga Cot Mane, Pastikan Pembangunan Rumah Layak Huni

Setelah Diarahkan Bupati, Baitul Mal Abdya Langsung Tinjau Rumah Nurlaila

Menjadi Pemimpin yang Beretika

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com