Oleh : Roni Haldi
Rupanya, tak didengar ketika kita berbicara sungguh menyakitkan. Tak dijawab ketika kita bertanya juga menyedihkan dan bahkan tatkala kehadiran kita tak dipedulikan lebih terasa menghinakan. Adalah hal lumrah terjadi dialami banyak orang. Namun yang paling menyakitkan hati dan diri, tatkala yang tidak sama sekali kita lakukan kemudian ditunjuk dituduhkan ke diri kita. Dia yang melakukan, kita sendiri yang ditimpakan tuduhan. Ini juga yang dirasakan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.
Disaat seruan dakwahnya disepelekan tak didengar, malah ditunjuk ujaran pembual pembohong lagi pendusta. Bahkan disaat lain di cap tukang sihir dan gila hilang akalnya. Beban berat yang dipikul dirasa pasti menjenuhkan rasa di jiwa dan membebani berat pikiran di kepala. Inilah yang dialami oleh sang Habibullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Kehadiran pelipur lara sangat perlu dirasa dan Allah Ta’ala paling mengerti terhadap apa yang dirasa dialami oleh setiap hamba-Nya. Kisah masa perjuangan dakwah terdahulu Nabi Musa alaihi salam telah dipilih menjadi penguat rasa dan diri Nabi akhir zaman. Jauh sebelum kesulitan hari ini, sungguh telah terjadi goncangan kuat dalam jiwa dan dera rasa pada Nabi Musa alaihi salam.
وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَى وَلْيَدْعُ رَبَّهُ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الأرْضِ الْفَسَادَ
Dan Fir‘aun berkata (kepada pembesar-pembesarnya), “Biar aku yang membunuh Musa dan suruh dia memohon kepada Tuhannya. Sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di bumi.” (Q.S. Mukmin : 26).
Ini bentuk tegasnya tekad Fir’aun la’natullah untuk membunuh Nabi Musa Alaihi salam. Fir’aun berkata kepada kaumnya, “Biarkan aku membunuh Musa demi kalian.”
{وَلْيَدْعُ رَبَّهُ}
dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya. (Al-Mu’min: 26)
Agar diselamatkan dariku, aku tidak peduli dengan Tuhannya Musa. Ini merupakan ungkapan yang menunjukkan sangarnya keingkaran Fir’aun dan kekerasan hatinya serta kekurangajarannya terhadap Tuhan. Perkataan Fir’aun la’natullah yang disitir oleh firman-Nya:
{إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الأرْضِ الْفَسَادَ}
karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi. (Al-Mu’min: 26)
Yang dimaksud oleh Fir’aun adalah Nabi Musa. Fir’aun merasa khawatir bila Nabi Musa mengubah pendirian manusia dan mengganti tradisi dan adat istiadat mereka yang selama itu telah dibina oleh dia. Dalam sikapnya ini Fir’aun berpura-pura sebagai seorang yang mengharapkan kebaikan bagi manusia. Dia memperingatkan manusia dari Nabi Musa alaihi salam., padahal kenyataannya dia adalah ‘maling teriak maling.’
Terbukti terbuka jelas dalam ayat :
“أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ وَأَنْ يُظهِر فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ”
dia akan menukar agamamu dan menimbulkan kerusakan di muka bumi. (Al-Mu’min: 26)
Dengan memakai huruf “wawu”. Sedangkan ulama lainnya membacanya seperti berikut:
{أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الأرْضِ الْفَسَادَ}
dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi. (Al-Mu’min: 26)
Dengan memakai “au”. Sebagian ulama membacanya dengan men-dammah-kan lafaz al-fas’ad menjadi al-fas’adu, yang artinya menjadi “atau timbul kerusakan di muka bumi.”
Begitulah penjelasan dari Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya Al Qur’an Adzim jilid 4. Mengurai kusutnya muslihat Fir’aun sang penguasa Mesir dikala itu. Berkuasa tentu miliki kekuatan penuh tak terbendung. Yang terpikir diinginkan pasti terobsesi untuk dikabulkan. Berkuasa menjadikan penguasa miliki rasa memilki tak terbatas tak terhingga. Kuasa pada kata menjadikan lisan ampuh tak ingin disanggah apalagi dibantah. Kekuatan kuasa menaikkan dagu meruncingkan ujung mata. Merasa berkuasa meninggikan hati sulit menerima kekurangan. Pengaruh kuasa menipiskan rasa curiga tatkala datang kabar dari pembisik penjilat dipercaya. Merasa paling punya kuasa melonggarkan daya pertahanan hingga musuh mudah menusuk memotong dalam selimut. Kuasa itu perlu tapi jangan terlalu merasa berkuasa.
Lihatlah Fir’aun, dengan kekuatan kekuasaannya ia hendak bunuh Nabi Musa. Tak cukup itu saja. Sangking congkaknya, Allah ditantang agar bantu selamatkan Musa, walau hakikatnya itu hanya upaya menampakkan kehebatannya dihadapan pembisik dan rakyatnya. Sesungguhnya itu semuanya tanda ketidakpercayaan diri Fir’aun diatas ketidakberdayaannya. Lemah diri ditutup dengan kehebatan ungkapan kata.
Kelemahan agar tak tampak terlihat, mudah tergerak ditutup bukti palsu yang dibalut kedustaan. Legalitas kehebatan sangat di harap Fir’aun agar unggul dari rivalnya nabi Musa Alaihi salam. Malu dianggap lemah oleh rakyatnya, dibantu pembisik berwajah penasehat setia legalkan kekuatan kekuasannya dengan kemasan muslihat tuduhan jahat terbalik hakikatnya.
Awalnya fir’aun tidak meminta disembah, namun karena ada yang memulai menyembah dan ditambah dengan provokasi para elit (malak), maka fir’aun pun jumawa dan seterusnya minta disembah.
Dahaga ego Fir’aun haus ingin disembah dianggap Tuhan, Mendapat sambutan dukungan pelelegalan kuasanya berbuat rusak. Rusak diperbuat sendiri, akibat ulahnya ditempel tuduhan kepada Nabi Musa Alaihi salam. Tuduhan terbalik nyata dilakukan. Sungguh kekuatan kekuasaan memudahkan.









