TAKENGON – Aksi tolak tambang PT. LMR di Kecamatan Linge kembali bergejolok di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tengah Selasa (7/7/2020).
Massa aksi tolak tambang yang menamakan dirinya sebagai Gerakan Menolak Lupa (GEMPA) tiba di halaman DPRK Aceh Tengah pukul 10.00 WIB.
Di halaman gedung DPRK Aceh Tengah, GEMPA menyampaikan orasi dengan dalih kedatangan ini merupakan aksi mereka yang sudah kesekian kalinya dan belum ada hasil dari pihak legislatif.
“Kita datang ingin mendengar penjelasan Tim pansus. Kami minta seluruh anggota Tim Pansus hadir di hadapan kami,” ujar Suyanto dalam orasinya.
Lima menit kemudian Anggota DPRK Aceh Tengah, Sukurdi Iska menemui massa di halaman gedung legislatif. Ia mengajak massa yang berdemo untuk untuk masuk dan menjelaskan tuntutan mahasiwa di dalam gedung DPRK Aceh Tengah.

“Kami akan menjelaskan tuntutan adik-adik mahasiswa, tapi ada baiknya kita berdiskusi di dalam,” tutur Sukurdi
Sebelum masuk Gedung DPRK, massa terlebih dahulu menyanyikan lagu tawar sedenge sebagai bentuk kepedulian mereka terhadapa Tanoh Gayo dengan diiringi puisi yang dibacakan oleh Melly, peserta aksi.
“Wahai Tuan pencuri emas ku dengar engkau merayu orang tua kami, ku lihat engkau menebar seribu janji,” tutur Melly dalam puisinya.
Di dalam Gedung DPRK sempat terjadi terjadi keributan, dikarenakan ada Anggota DPRK Aceh Tengah menceritakan dirinya juga pernah menjadi mahasiwa dan aksi seperti ini hal yang biasa.

“Kita apresiasi jiwa kritiknya adik-adik beri tepuk tangan,” kata Ilhammudin, Anggota Pansus tambang tersebut.
Sontak hal tersebut dibantah oleh salah satu massa. Maharadi menyebutkan hal itu mengalih pembicaraan dan telah keluar dari pembahasan hari ini.
“Cukup Pak, kami tidak butuh penjelasan itu yang kami butuh hasil dari Tim Pansus jangan mengalihkan pembicaraan lebih baik fokus,” tutur Maharadi
Ilhamudin kembali menjawab dengan nada yang keras agar sebaiknya mendengarkan pembicaraanya terlebih dahulu.
“Kalian mau dengar saya gak, kalau tidak mau silahkan keluar,” ungkap iIhammudin
Hal itu spontan membuat massa marah dan terjadi keributan. Sebagian massa ada yang berdiri mengungkapkan kemarahannya.
Kemudiaan pihak keamanan mencoba meredam situasi dan pun kembali dilanjutkan.
Anggota DPRK Aceh Tengah, Sukurdi Iska mengatakan jika Tim Pansus belum bisa menjawab hasil dari kerja mereka karena terhalang Covid-19. Pihaknya juga masih melakukan pendataan apakah menolak atau menerima dengan bersyarat.
“Biarkan dulu kami bekerja. Kalau sudah ada hasilnya akan kami panggil semua pihak untuk berdiskusi,” ungkap Sukurdi.
Massa menganggap Tim Pansus gagal dan tidak serius bekerja terkait tambang ini dan alasan terhalang Covid-19 tidak bisa diterima.
“Jika alasannya terhalang Covid 19, mengapa DPRK bisa bermain keyboard. Yang jelas Pansus gagal,” tutup Maharadi.
Reporter: Romadani











