GERBANG besar terpampang dari luar komplek. Ada tiga kubah yang menyerupai masjid di Madinah.
Beberapa pria bersarung lalu lalang di pintu masuk. Mereka memakai baju kemeja dan peci bermotif rencong Aceh.
Memasuki komplek, sejumlah kendaraan roda empat terparkir rapi di sisi kanan. Ada juga beberapa roda dua yang terparkir di sana. Mereka kebanyakan ingin bertemu dengan pimpinan dayah setempat.
“Kalau ingin ketemu dengan Abu kayaknya lama teungku. Langsung ke komplek putra saja. Nanti ada yang arahkan untuk keliling,” ujar seorang santri putra, Mutaqqin, kepada tim atjehwatch.com, yang berkunjung ke sana, pertengahan Juni 2021 lalu.

Menurutnya, suasana sedang tak seramai sebelumnya.
“Maklum sedang covid,” ujar dia.
Dayah itu sendiri baru saja melakukan vaksinasi massal pada awal Juni lalu.
“Kalau orang-orang yang ingin ketemu dengan Abu tetap ramai seperti biasa. Apalagi jika Abu ada di dayah,” kata dia lagi.
Ya, dayah tersebut adalah Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng. Atau dikenal juga dengan Dayah Abu Kuta.
Dayah ini merupakan salah satu dayah salafi tertua dan terbesar di Aceh. Dayah Darul Munawwarah berada di gampong Kuta Kruëng, Pidië Jaya.
Dayah ini didirikan oleh salah seorang ulama yang sangat dihormati di Aceh dengan nama Abu Haji Utsman Ali atau akrab disapa Abu Kuta Krueng.
Hal ini pula yang membuat para pengunjung di sana selalui ramai didatangi oleh pengunjung. Baik alumni, tokoh hingga masyarakat biasa.
Dari berbagai sumber diketahui, bahwa Abu Kuta dilahirkan di Desa Kuta Krueng pada tahun 1932. Ayahandanya Teungku M Ali, dan ibunda bernama Ummi Khadijah.
Abu Kuta merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Beranjak umur 6 tahun tepatnya 1937, mengecap pendidikan SRI (Sekolah Rakyat Indonesia) di Desa Tanjungan selama 6 tahun hingga 1943. Kemudian melanjutkan pendidikan sekolah dan pesantren secara bersamaan.
Pada pagi hingga siang sekolah di SMI Samalanga pada guru Teungku Hamid, Teungku Kaoy, dan Tgk Gade dan malam harinya mengaji kitab kuning kepada seorang ulama yang bernama Teungku H. Abdullah di Kuta Krueng selama tiga tahun atau periode 1943-1946.
Setelah mengecap pendidikan di SMI tahun 1946, melanjutkan pendidikan agama ke seorang ulama yaitu Teungku Chiek di Reubee yang bernama Tgk Chiek M Amin selama tiga tahun (1946-1949).
Kemudidan melanjutkan pendidikan agama ke ulama besar yaitu Tgk Chiek Haji Hanafiah di Dayah Mudi Mesra Samalanga (1949-1960).
Dari Teungku Chiek Hanafiah mendapat Tarerkat Syathariah dan langsung diangkat sebagai mursyid tarekat, setelah Tgk Chiek Hanafiah berpulang ke rahmatullah pada 1960, mengajar dan belajar di Mudi kepada seorang ulama muda yang tidak lain menantu Teungku Chiek Hanafiah yaitu Teungku Abdul Aziz atau yang biasa dikenal dengan Abon Samalanga.
Kemudian pada 1964, mendapat izin dari guru untuk mendirikan pesantren di desa kelahiran yaitu di Kuta Krueng yang diberi nama Dayah Darul Munawwarah.
Pada tahun 1965 melangsungkan pernikahan dengan Ummi Khadijah yang tak lain adalah anak dari gurunya yaitu Teungku Chiek H Abdullah.
Dari pernikahan ini dianugrahi 7 orang putra dan 1 orang putri, yang keseluruhan anak sekarang mengajar dan Pengurus Pondok Pesantren Darul Munawwarah Kuta Krueng.
Dayah Darul Munawwarah menerima santriwati mulai tahun 1979.
Kini setelah hampir 58 tahun lebih, dayah Abu Kuta Krueng berkembang menjadi salah satu dayah salafi terkemuka di Aceh.
Para alumninya mencapai ribuan orang serta tersebar di berbagai negara.
“Kebanyakan para murid senior pulang ke kampung halaman sudah mendapat izin mengajar dari Abu dan menyebar ilmu,” ujar Teungku Mujlisal Hasan, salah seorang teungku senior di dayah itu.

Sebagai dayah salafi terkemuka, Dayah Darul Munawwarah juga memiliki sejumlah fasilitas dan gedung belajar yang cukup memadai.
Beberapa fasilitas seperti Bank Darul Munawwarah dan Ma’had Aly.
Ma’had Aly merupakan satuan pendidikan tingkat tinggi keagamaan Islam yang diselenggarakan oleh dan di pondok pesantren untuk menghasilkan ahli ilmu agama Islam, setingkat perguruan tinggi, dengan kekhususan bidang keilmuan tertentu berbasis kitab kuning, serta bisa mengeluarkan gelar.
Ma’had Aly Darul Munawwarah sendiri berkerjasama dengan UIN Ar-Raniry. Kerjasama yang dibangun kedua lembaga pendidikan ini, meliputi bidang pendidikan, pendampingan, pelatihan, penelitian, pengabdian kepada mahasantri dan masyarakat dalam pengembangan sumber daya manusia.
Mudir Ma’had Ali Dayah Darul Munawwarah Teungku H. Anwar Usman, di kesempatan terpisah, mengatakan Ma’had Aly Dayah Darul Munawwarah yang sudah dirintis sejak tahun 2017 lalu.
“Kita terus berbenah. Dengan mendapat dukungan besar dan semakin percaya diri untuk mengembangkan SDM dan melahirkan sarjana yang baik,” ujarnya. [Advertorial]
Tulisan ini merupakan hasil kerjasama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh dengan atjehwatch.com dalam rangka promosi wisata islami (dayah) di Aceh.









