MEUREUDU – Kakak kelas biasanya menjadi pengayom untuk adik-adik kelasnya. Namun di SMU Unggul Pidie Jaya sebanyak 12 siswa kelas II justru dianiaya oleh 23 kakak siswa kelas III.
Hal tersebut terungkap setelah salah seorang siswa yang tidak ingin dituliskan namanya yang menjadi korban pemukulan kakak kelasnya mengatakan kepada Awak Media pada Sabtu dini hari 28 Agustus 2021.
Menurut keterangan siswa yang jadi korban penganiayaan tersebut, mereka ditendang dan dihajar kakak kelasnya karena kakak kelasnya merasa tidak dihargai dan dihormati oleh juniornya.
Ke 12 siswa tersebut mengalami trauma berat. Empat diantaranya mengalami luka lebam, muntah-muntah dan gangguan pada saraf berdasarkan hasil rongent dari rumah sakit.
“Kami sedang tidur di kamar asrama, tiba-tiba kakak kelas III datang membangunkan kami dan dipaksa naik ke lantai dua, waktu itu kami lagi tidur,” ujarnya.
Setelah dinaikkan ke lantai dua, ke 12 orang siswa ini dipukul di kepala, di dada dan ditendang, mereka merasa dianianya oleh kakak kelas sendiri.
“Di tengah malam dini hari sekira pukul 04 pagi, kami keluar dari asrama dengan berjalan kaki lebih kurang 10 KM ke rumah wali murid salah satu siswa, kami khawatir terjadi kekerasan lagi , makanya kami angkat kaki dari sekolah malam itu juga,” kata mereka.
Menurut pengakuan delapan siswa yang berhasil diwawancarai media ini mengungkapkan, mereka diancam jika membocorkan kasus ini ke orang tua dan pihak sekolah, mereka akan dipukul lagi ancam kakak kelasnya.
“Andi (nama samaran) mengakui dirinya mengalami trauma yang mendalam akibat dari pemukulan dan penganiayaan kakak kelasnya, bedasarkan hasil CT-Scan Rumah Sakit, saya mengalami luka lebam di bagian dada, luka memar dibagian kepala, gangguan pada saraf, sakit pada leher karena dicekik sehingga susah untuk makan dan minum,” katanya.
“Lebih dari dua jam kami dianiaya di lantai dua, tepatnya di lobby asrama SMU Unggul tersebut,” kata dia.
“Saya takut dan trauma dengan kondisi ini, untuk keluar rumah saja saya takut, takut ketemu dengan kakak kelas, khawatir dihajar lagi, ujarnya.”
Siswa yang lain juga mengakui dirinya dipukul lebih dari lima orang kakak kelas, rata-rata kami dihajar lebih dari lima orang kakak kelas.
Ke 12 orang siswa tersebut mengakui mengalami rasa trauma yang mendalam, dan trauma berat bukan hanya fisik yang terluka.
“Kami tidak berani kembali ke sekolah sebelum ada jaminan keamanan dari pihak sekolah dan sangsi bagi pelaku, sudah tiga hari kami tidak sekolah, karena ketakutan,” katanya.
Salah seorang wali murid yang berhasil diwawancarai wartawan mengatakan, pihaknya sangat keberatan dengan kasus pemukulan dan penganiayaan terhadap anaknya, saya tidak bisa terima anak saya dipukuli oleh kakak kelasnya.
Dia berharap kasus ini bisa terselesaikan, jangan dibiarkan begitu saja, sudah tiga hari anak-anak kami tidak sekolah karena trauma yang mendalam, ungkapnya.
“Kami berharap anak-anak ini bisa sekolah lagi, jangan korban dibiarkan tidak sekolah kakak kelasnya masih bisa sekolah, padahal yang jadi korban itu anak-anak kami,” ujarnya.
Kasus kekerasan di sekolah ini, sangat memalukan dunia pendidikan di Aceh khususnya di Pidie Jaya, dia berharap kasus ini segera bisa diselesaikan.
Sementara itu, Kepala SMAN Unggul Pidie Jaya, Nurjannah, MPD saat dikonfirmasi wartawan via seluler dan pesan singkat WhatsApp tidak menjawab telpon dan membalas pesan singkat dari Awakk Media.[ ]










