Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Sejarah

Cerita ‘Si Ramlah’ dan Kuburan Sunyi Mereka yang Dituduh PKI di Aceh

Admin1 by Admin1
30/09/2021
in Sejarah
0
Cerita ‘Si Ramlah’ dan Kuburan Sunyi Mereka yang Dituduh PKI di Aceh

WANITA itu kelahiran 1963. Kini ia sudah bercucu banyak. Namun ingatannya masih sangat kuat.

“Seolah baru terjadi kemarin,” ujar dia saat berbincang-bincang dengan atjehwatch.com.

Ditanya tentang PKI dan pemberontakan G30S, ia mengaku memori tersendiri tentang hal itu.

Saat pemberontakan PKI terjadi di tanah air, ia mengaku sudah duduk di kelas 2 setingkat sekolah dasar saat ini.

“Di ujung tahun 1972 atau 1973, banyak warga Aceh yang ditangkap karena dituduh terlibat PKI. Dulu tak seperti sekarang. Kalau sekarang ada pengadilan. Sementara dulu, kalau sudah tertangkap berarti mati,” ujarnya.

Salah satu memorinya adalah tentang Si Ramlah. Konon, Si Ramlah adalah seorang wanita muda nan cantik asal Sabang.

Ia adalah salah satu primadona Sabang saat itu.

Ramlah adalah ibu muda. Anaknya berumur dua tahun saat dirinya diangkut karena dituduh sebagai pengikut PKI di Aceh. Saat itu ia juga sedang berbadan dua karena sedang hamil dua bulan.

Nasib malang menimpa Ramlah usai menghadiri salah satu kegiatan partai PKI di Sabang. Oleh panitia, kegiatan tadi turut dihadiahkan minyak makan bagi siapapun yang datang. Kegiatan inilah yang dihadiri oleh Ramlah.

Naas, usai kegiatan, sentimen anti PKI meledak di seluruh nusantara. Termasuk di Aceh. Puluhan ribuan warga yang terlibat dalam partai PKI ditangkap.

Termasuk mereka yang memiliki ‘hubungan’ dengan partai tadi. Mereka yang pernah menerima ‘bantuan’ minyak makan turut diangkut. Ramlah salah satunya.

“Ayah saya, pernah tinggal di Sabang. Makanya kenal dengan Ramlah,” ujar wanita tadi bercerita. Ia meminta namanya tak ditulis.

Sekitar akhir tahun 1972 atau 1973, kata wanita tadi, ia dan ayahnya hendak pergi ke kebun di Kawasan Krueng Raya. Lengkapnya di Dusun Ujong Kareng, Desa Ladong, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.

“Di tepi jalan, sebuah truk tiba-tiba berhenti. Di belakang truk, ada 12 orang. Salah satunya seorang wanita muda yang sangat cantik. Menurut ayah saya, wanita tadi adalah Si Ramlah,” kata sumber ini lagi.

Sang sopir truk, cerita wanita ini, memanggil ayahnya yang kebetulan berada di tepi jalan untuk menggali kubur.

“Tak ada yang berani menolak saat itu. Saat itu 12 orang tadi masih hidup. Selang beberapa jam, truk pulang dalam keadaan kosong. Menurut almarhum ayah saya, Ramlah dan 11 lainnya di kubur di tanah Unsyiah saat ini,” kata dia.

Kisah ini, katanya, melekat dalam memorinya hingga saat ini. Almarhum ayahnya bercerita tentang Ramlah berulangkali semasa hidup.

Sumber lainnya di Krueng Raya juga punya memori yang hampir sama seperti cerita Ramlah. Menurutnya, sekitar tahun 70-an, banyak warga Aceh yang dieksekusi di pesisir pantai dari Ujong Batee hingga Krueng Raya. Alasannya, warga ini terlibat dalam PKI, baik secara langsung maupun tidak langsung.

“Ada yang disuruh mengucap kalimat syahadat sebelum disembelih. Di antara yang tertangkap, ada yang menolak, ada yang malah mengucap syahadat dengan sangat merdu,” ujarnya.

“Saya sangat teringat, ada seorang Tengku yang di bawa ke pesisir Ujong Batee. Dia memakai peci dan tak henti membaca Alquran. Suaranya sangat merdu. Kuburannya di Ujong Batee,” kata dia.

“Dulu orang-orang tertipu. Karena bagi orang Aceh itu, PKI adalah Partai Kaum Islam. Mau ikut PKI dikasih minyak,” ujarnya. []

 

Previous Post

Sekda Aceh Minta Guru Terus Motivasi Murid untuk Ikut Vaksinasi Covid-19

Next Post

Sekda Aceh: Pengelolaan Keuangan Daerah harus Berorientasi Kepentingan Publik

Next Post
Sekda Aceh: Pengelolaan Keuangan Daerah harus Berorientasi Kepentingan Publik

Sekda Aceh: Pengelolaan Keuangan Daerah harus Berorientasi Kepentingan Publik

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

630 Masjid di Aceh Ikuti Geber Mas, ASN Kanwil Bersihkan Masjid Jami’ Lueng Bata

630 Masjid di Aceh Ikuti Geber Mas, ASN Kanwil Bersihkan Masjid Jami’ Lueng Bata

10/08/2026
Senator Azhari Cage Pulangkan Jenazah Warga Bireuen dan Dua Anaknya dari Malaysia

Azhari Cage Ucapkan Selamat untuk Rahul Usai Ditetapkan Jadi Ketum PNA

10/08/2026
Ketua MKKS SMA Provinsi Aceh Berikan Apresiasi Kepada Murthalamuddin

Ketua MKKS SMA Provinsi Aceh Berikan Apresiasi Kepada Murthalamuddin

10/08/2026
Ohku, Pertambangan Emas Di Tangse Digerebek, Operator Jadi Tersangka: Siapa Dibalik Alat Berat?

Ohku, Pertambangan Emas Di Tangse Digerebek, Operator Jadi Tersangka: Siapa Dibalik Alat Berat?

10/08/2026
Omen, Gajah Sumatra Ditemukan Mati di Perkebunan Sawit Tamiang

Kronologi Gajah Sumatra Ditemukan Mati di Perkebunan Sawit Aceh Tamiang

10/08/2026

Terpopuler

Cerita ‘Si Ramlah’ dan Kuburan Sunyi Mereka yang Dituduh PKI di Aceh

Cerita ‘Si Ramlah’ dan Kuburan Sunyi Mereka yang Dituduh PKI di Aceh

30/09/2021

Ohku, Pertambangan Emas Di Tangse Digerebek, Operator Jadi Tersangka: Siapa Dibalik Alat Berat?

YEL Semarakkan Kegiatan Hari Konservasi Alam Nasional dan Orangutan Sedunia di Abdya

KPK Ditantang Bongkar Tiga “Sarang Korupsi” di Aceh

Omen, Gajah Sumatra Ditemukan Mati di Perkebunan Sawit Tamiang

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com