PEMERINTAH Aceh sedang giat-giatnya mempromosikan wisata islami guna menarik pelancong muslim dari seluruh dunia.
Ya, sebagai daerah yang digelar dengan sebutan Serambi Mekkah, Aceh yang terletak di ujung barat Indonesia, adalah provinsi yang terkenal dengan identitas Islami yang kuat. Sebagai daerah dengan mayoritas penduduk Muslim, Aceh menawarkan berbagai tempat wisata Islami yang memadukan keindahan alam dengan nilai-nilai agama.
Dari berbagai sumber disebutkan, wisata islami merujuk pada jenis wisata yang berfokus pada pengalaman dan aktivitas yang berkaitan dengan keagamaan Islam. Tujuan utama dari wisata Islami adalah untuk memberikan pengalaman yang bermakna secara spiritual dan menguatkan hubungan individu dengan agama dan budaya Islam.
Wisata Islami melibatkan kunjungan ke tempat-tempat suci dan bersejarah, seperti masjid, makam para tokoh agama, pusat pendidikan Islam, dan tempat-tempat yang memiliki nilai religius tinggi. Contoh tempat wisata Islami yang terkenal di dunia antara lain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Mekah dan Madinah, Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, dan Masjid Raya Baiturrahman di Aceh.
Selain itu, wisata Islami juga mencakup partisipasi dalam aktivitas keagamaan, seperti beribadah di masjid, mengikuti ceramah, menghadiri acara keagamaan, dan berpartisipasi dalam ritual-ritual keagamaan tertentu. Wisatawan Islami juga mungkin tertarik untuk mengeksplorasi budaya Islam melalui kuliner halal, seni dan kerajinan tangan, serta mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang ajaran Islam dan nilai-nilai yang terkait.
Tujuan dari wisata Islami adalah untuk menggabungkan perjalanan dan eksplorasi dengan pemenuhan kebutuhan spiritual. Ini memberikan kesempatan bagi wisatawan Muslim untuk menguatkan iman dan koneksi mereka dengan Allah, serta mempelajari lebih lanjut tentang sejarah, budaya, dan tradisi Islam di berbagai tempat di dunia.
Wisata Islami juga dapat menjadi sarana untuk mempromosikan pemahaman dan toleransi antarbudaya, karena memungkinkan interaksi dan pertukaran pengalaman antara wisatawan Muslim dan non-Muslim. Hal ini dapat membantu memperluas pemahaman tentang Islam dan melawan stereotip negatif yang sering kali ada terkait dengan agama tersebut.
Secara keseluruhan, wisata Islami memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi, menghargai, dan merayakan warisan agama Islam, serta memperkuat ikatan spiritual individu dengan keagamaan mereka.
Nah, untuk Aceh ada beberapa tawaran wisata yang menarik untuk dikunjungi, baik bangunan, alam serta lainnya;
Masjid Raya Baiturrahman
Masjid Raya Baiturrahman adalah salah satu ikon terkenal Aceh dan juga merupakan simbol keagungan Islam di provinsi ini.
Dibangun pada abad ke-19, masjid ini memiliki arsitektur yang megah dan indah. Pengunjung dapat menjelajahi keindahan masjid ini dan menyaksikan kehidupan beribadah di tempat ini.
Sejarah Masjid Raya Baiturrahman sangat erat kaitannya dengan perkembangan agama Islam di wilayah Aceh, serta perjuangan rakyat Aceh dalam mempertahankan identitas dan kepercayaan mereka.
Pembangunan Masjid Raya Baiturrahman dimulai pada tahun 1879 atas perintah Sultan Ibrahim Mansyuruddin dari Kesultanan Aceh. Bangunan ini awalnya didirikan sebagai pengganti masjid sebelumnya yang hancur akibat gempa bumi yang mengguncang Banda Aceh pada tahun 1873. Gempa tersebut adalah bencana alam yang dahsyat dan mengakibatkan banyak kerusakan di kota tersebut.

Dalam proses pembangunannya, Masjid Raya Baiturrahman mengalami beberapa kali perubahan dan renovasi. Setelah selesai dibangun pada tahun 1881, masjid ini memiliki lima kubah utama yang melambangkan Rukun Islam, serta delapan kubah kecil yang melambangkan Rukun Iman. Bangunan ini awalnya terbuat dari kayu jati yang kemudian diganti dengan bahan-bahan yang lebih kokoh seperti besi dan semen. Perubahan ini dilakukan untuk menghindari kerusakan akibat gempa bumi yang sering terjadi di kawasan Aceh.
Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Raya Baiturrahman juga memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan rakyat Aceh. Selama masa penjajahan Belanda, masjid ini menjadi simbol perlawanan dan semangat kebebasan. Pada tahun 1942, saat Jepang menduduki Indonesia, Masjid Raya Baiturrahman digunakan sebagai markas tentara Jepang. Namun, setelah Indonesia merdeka, masjid ini kembali menjadi tempat ibadah dan merupakan pusat kegiatan keagamaan di Aceh.
Pada tahun 2004, Banda Aceh dan sekitarnya dilanda tsunami yang menghancurkan sebagian besar wilayah tersebut. Meskipun terkena dampak yang sangat parah, Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri tegak dan menjadi simbol ketahanan dan kekuatan rakyat Aceh. Bangunan masjid ini kemudian direnovasi dan dipugar sebagai bagian dari upaya rekonstruksi pasca-bencana.
Hingga hari ini, Masjid Raya Baiturrahman tetap menjadi salah satu ikon budaya dan religius Aceh. Bangunannya yang megah dengan lima kubah utama dan arsitektur yang indah menggambarkan keagungan Islam. Masjid ini juga menjadi tempat ibadah utama bagi umat Islam di Aceh dan menjadi tujuan wisata religi yang populer.
“Masjid raya baiturrahman itu ikon Aceh. Tak lengkap rasanya jika bicara Aceh tanpa Baiturrahman,” kata Mawardi, salah seorang dosen sejarah di salah satu universitas di Aceh.
Tsunami Museum
Tsunami Museum di Banda Aceh tidak hanya menjadi tempat untuk belajar tentang bencana alam yang melanda Aceh pada tahun 2004, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai Islami dalam menghadapi cobaan dan keberanian dalam membangun kembali.
Museum ini menyajikan sejarah dan cerita tentang peristiwa tersebut dengan cara yang mengharukan dan menginspirasi.
“Dari Museum Tsunami di Aceh, kita bisa belajar mitigasi bencana. Museum ini juga sebagai warisan informasi tentang dahsyatnya tsunami di Aceh,” kata Ilham, salah seorang pengunjung Museum Tsunami, awal Mei 2023 lalu.
Pantai Lampuuk
Aceh juga memiliki pantai-pantai yang menakjubkan, salah satunya adalah Pantai Lampuuk. Selain menikmati pemandangan alam yang indah, pengunjung dapat berenang atau bermain di pasir putih yang lembut. Di sini, terdapat papan petunjuk Islami yang memberikan nasihat dan aturan tentang berperilaku di pantai sesuai dengan nilai-nilai Islam.
“Daerah ini paling dekat dengan ibukota, tapi menyajikan pemandangan yang eksotik,” kata Yeni Safitri, 29 tahun, salah seorang pengunjung di pantai Lampuuk Aceh Besar, pekan pertama Mei 2023 lalu.
Pusat Oleh-oleh Khas Aceh
Aceh juga terkenal dengan kerajinan tangan dan makanan khasnya. Di pusat oleh-oleh Aceh, Anda dapat menemukan berbagai produk lokal seperti batik, tenun, perhiasan, dan kuliner khas Aceh. Belanja di sini juga dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan sambil mendukung ekonomi lokal.
Gunung Seulawah Agam
Bagi pecinta alam dan pendakian, Gunung Seulawah Agam adalah pilihan yang tepat. Selain menawarkan pemandangan alam yang spektakuler, gunung ini juga memiliki nilai historis dalam peradaban Islam di Aceh. Di puncak gunung, terdapat bekas bangunan makam dari masa Kesultanan Aceh yang menjadi tempat peristirahatan beberapa sultan Aceh.
Ini hanya beberapa contoh dari banyak tempat wisata Islami di Aceh. Aceh merupakan destinasi yang kaya akan sejarah, budaya, dan keindahan alam yang memadukan nilai-nilai Islami. Jika Anda mencari pengalaman wisata yang mendalam dan bermakna dengan sentuhan Islami, Aceh adalah tempat yang layak untuk dikunjungi.
Perlu diketahui, wisata islami di Aceh mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya adalah MPU Aceh.
Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh telah mengeluarkan Rumusan Fatwa terkait Wisata Halal/Halal Destination dalam Perspektif Syariat Islam.
Rumusan Fatwa tersebut diputuskan dalam Sidang Paripurna -V Tahun 2022 yang diselenggarakan di Aula MPU Aceh, Rabu 20 Juli 2022 lalu.
Disebutkan dalam Rumusan Fatwa itu salah satunya bahwa Wisata Halal adalah wisata yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam yang mencakup wisatawan, objek dan pelaku usaha. Selanjutnya kepada wisatawan juga diharapkan untuk mengikuti aturan-aturan yang berada di suatu daerah dan aturan Sayriat Islam.
Rumusan Fatwa itu dikeluarkan setelah MPU Aceh menimbang bahwa saat ini wacana wisata halal sudah mulai berkembang dan diterapkan di berbagai belahan dunia termasuk Aceh. Disisi lain pelaksanaan wisata halal saat ini khususnya di Aceh belum sepenuhnya sesuai dengan prinsip pelaksanaan Syariat Islam.
Ketua MPU Aceh, Tgk. H. Faisal Ali berharap fatwa ini dapat diimplementasikan oleh pihak terkait demi menerapkan prinsip-prinsip syariah di setiap destinasi wisata.
“Kita berharap melalui fatwa ini ada implementasi lebih lanjut dari pihak terkait sehingga seluruh hal-hal yang terkait pengembangan wisata itu semuanya harus halal. Kita tidak ingin melihat bahwa ada tempat destinasi wisata baik lokal maupun non lokal, ada hal-hal yang tidak tepat dalam kontek syariah. Misalnya tidak ada pemberitahuan waktu sholat, tidak ada mushola, tidak ada MCK yang layak, tidak ada sertifikasi halal bagi kuliner, terjadinya ikhtilat baik ditempat pemandian dan sebagainya,” harap Abu Faisal.
Tulisan ini merupakan hasil kerjasama atjehwatch.com dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh dalam rangka promosi wisata di Aceh.











