Oleh Nurjannah S.Pdi. Penulis adalah pelopor e-Mading SMPN 1 Seunagan, Kabupaten Nagan Raya.
UNESCO menyebutkan Indonesia masuk dalam negara yang memiliki minat sangat rendah terhadap membaca.
Pada saat ini membaca adalah kegiatan yang jarang dilakukan baik dari jenjang sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi.
Minat untuk membaca pada siswa khususnya sekolah jemjang pendidikan dasar (SD dan SMP) sekarang ini sangat rendah.
Hal ini dikuatkan dengan kenyataan yang dihadapi guru saat di sekolah pada saat pembelajaran berlangsung.
Siswa sulit untuk memahami isi dari suatu bacaan dikarenakan mereka cenderung malas dan cepat bosan ketika dihadapkan dengan tulisan yang banyak.
Minat membaca siswa yang rendah berdampak pula pada kebiasaan membaca yang juga rendah.
Rendahnya minat baca pada siswa ini dikarenakan oleh dua faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal.
Faktor internal adalah faktor dari dalam diri siswa itu sendiri seperti kurangnya kebiasaan membaca, rasa malas untuk membaca, membaca karena perintah dari guru saja.
Sedangkan faktor eksternal adalah faktor dari luar diri siswa, seperti lingkungan sekolah yang kurang mendukung terhadap peningkatan minat baca siswa.
Peran perpustakaan yang belum maksimal seperti kurangnya buku bacaan, program literasi yang belum berjalan dengan baik di sekolah, kurangnya pemanfaatan mading sebagai sarana informasi sekolah.
Oleh karena itu perlu adanya kerja sama baik dari orang tua, guru dan sekolah untuk meningkatkan minat baca bagi siswa. Orang tua sebagai guru pertama bagi anak memiliki peran penting dalam menumbuhkan budaya minat membaca.
Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua untuk menumbuhkan budaya minat membaca pada anak sejak dini yaitu dengan menjadi contoh yang baik, anak tidak hanya sekedar diberikan perintah tetapi orang tua dituntut untuk menjadi teladan yang baik dengan cara rajin membaca buku.
Kemudian orang tua perlu menyediakan fasilitas berupa buku yang berkualitas dan sesuai dengan umur anak. Biarkan anak membaca berbagai jenis buku yang mereka sukai contohnya membaca komik.
Cara selanjutnya dengan membuat jadwal teratur untuk membaca bersama sebagai salah satu program yang perlu diterapkan dalam keluarga.
Kegiatan ini dapat dibuat semenarik mungkin seperti membaca dengan suara lantang dan membaca dongeng di depan seluruh keluarga.
Selanjutnya peran dari seorang guru yang pertama adalah guru harus dapat menimbulkan ketertarikan, keinginan yang tinggi dan kemauan siswa untuk terus membaca.
Peran guru dalam memberikan motivasi kepada siswa sangat penting, bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan dan gemar membaca menjadi salah satu cara mereka untuk bersaing di era globalisasi.
Beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan minat baca siswa yang pertama dengan cara membiasakan siswa membaca buku selama 15 menit sebelum pembelajaran berlangsung.
Setelah membaca siswa dapat menceritakan kembali inti dari bacaan tersebut secara bergantian, selain itu guru juga dapat memberikan umpan balik berupa pertanyaan tentang manfaat atau hal-hal yang dapat mereka teladani dari bacaan tersebut.
Kedua guru juga bisa mewajibkan siswa untuk menonton berita setiap hari dan menuliskan satu saja informasi yang mereka dapat agar bisa dibacakan di depan kelas keesokan harinya.
Diharapkan dengan kegiatan tersebut siswa juga dapat bertukar informasi tentang kejadian apa saja yang telah terjadi.
Ketiga guru juga dapat meningkatkan minat baca siswa dengan cara memberikan soal-soal latihan berupa teks bacaan atau teks bergambar.
Siswa tidak hanya sekedar diberikan soal yang berisikan perintah untuk menyebutkan dan menjelaskan tetapi siswa diminta untuk menemukan sendiri jawaban yang terdapat dalam suatu teks bacaan ataupun teks bergambar yang telah guru berikan.
Keempat dengan memberikan penghargaan dan menjadikan siswa yang gemar membaca sebagai duta baca sekolah, dengan kegiatan ini diharapkan dapat membuat siswa lain termotivasi untuk mengikutinya dan minat bacanya dapat meningkat.
Kemudian di sekolah, perpustakaan memiliki peran yang strategis. Sehingga setiap sekolah harus memaksimalkan perpustakaannya agar dapat memberikan pelayanan maksimal, agar siswa gemar membaca buku setiap harinya.
Dalam menciptakan tumbuhnya kondisi minat baca di lingkungan sekolah yang perlu disiapkan oleh perpustakaan antara lain: memilih dan menyediakan buku bacaan yang beragam dan menarik bagi siswa, mengatur ruang perpustakaan dengan rapi dan menarik bagi siswa, memberikan kebebasan membaca bagi pengguna perpustakaan, melakukan promosi apabila ada buku-buku baru.
Menanamkan kesadaran dalam diri pemakai perpustakaan bahwa membaca penting bagi kehidupan, terutama dalam mencapai keberhasilan sekolah.
Kemudian sekolah juga harus mampu mengoptimalkan fungsi dan peran mading dalam membentuk keterampilan membaca anak.
Mading akan menjadi sarana bagi siswa untuk berkreasi dan menuangkan ide-ide yang mereka miliki. Para siswa akan terpacu untuk terus menghasilkan karya.
Hasil karya tersebut akan ditampilkan di mading dan dibaca serta diapresiasi oleh seluruh warga sekolah.
Selain dengan memperbaiki fasilitas perpustakaan dan mengoptimalkan mading, sekolah juga dapat meningkatkan minat baca siswa dengan membuat program gerakan literasi sekolah.
Dimana sehari dalam seminggu seluruh siswa dan guru membaca di halaman sekolah selama 30 menit. Siswa membawa buku bacaan sendiri dari rumah, apabila sudah selesai membaca bukunya sendiri siswa dapat bertukar dengan buku bacaan milik temannya.
Jadi, untuk meningkatkan minat baca siswa khususnya sekolah dasar tidak cukup hanya dilakukan oleh satu pihak saja melainkan harus dengan kerjasama dari berbagai pihak.
Lebih pwnting lagi kesadaran dari dalam diri siswa juga menjadi faktor penentu bagi meningkatnya minat baca, kesadaran bahwa membaca adalah cara untuk mendapatkan wawasan yang luas.
![[Opini] Tumbuhkan Minat Baca Siswa, Mading dan Perpustakaan Sekolah Solusinya](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2023/08/WhatsApp-Image-2023-08-21-at-21.13.59-678x375.jpeg)









