Takengon – Focus Group Discussion (FGD) bertema Pengembangan Asesmen Awal Numerasi: Perspektif Guru Matematika SD/MI digelar di Kampus IAIN Takengon, Sabtu, 31 Agustus 2024
Kegiatan ini diikuti 15 guru matematika dari enam SD/MI di Aceh Tengah tersebut difasilitasi oleh Dosen IAIN Takengon, Ega Gradini, M.Sc, dan Julia Noviani, M.Pd.
Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi kesulitan belajar matematika, terutama dalam numerasi, yang dihadapi siswa SD/MI.
FGD ini merupakan tahapan preliminary research dari penelitian pengembangan pendidikan tinggi yang didanai Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) IAIN Takengon.
FGD ini memiliki beberapa tujuan utama, antara lain memahami kompetensi matematika siswa serta mengevaluasi bentuk asesmen awal yang telah diterapkan.
Hasil dari diskusi ini diharapkan dapat merumuskan asesmen awal yang ideal untuk mengukur kemampuan numerasi siswa dan memetakan tingkat kemampuan matematis sesuai dengan Capaian Pembelajaran (CP) Fase C.
Dari diskusi tersebut, ditemukan sejumlah tantangan signifikan dalam pembelajaran matematika di tingkat dasar. Beberapa temuan utama antara lain, siswa mengalami kesulitan dalam memahami operasi penjumlahan dan pengurangan dengan banyak digit, serta operasi pecahan.
Selain itu, banyak siswa yang kesulitan memilah informasi dalam soal cerita, menyebabkan mereka gagal menyelesaikan masalah yang disajikan. Rendahnya literasi numerasi juga menjadi hambatan, di mana siswa kesulitan menghubungkan konsep matematika dengan kehidupan sehari-hari.
Pemahaman yang lemah tentang nilai tempat bilangan dan kesulitan membedakan antara pemahaman konseptual dan prosedural dalam matematika juga teridentifikasi sebagai masalah utama.
FGD juga menyoroti pentingnya asesmen awal sebagai alat untuk mendeteksi dini kesulitan belajar siswa. Namun, para guru mengakui bahwa pelaksanaan asesmen awal di sekolah-sekolah masih belum optimal.
Beberapa kendala yang diidentifikasi meliputi variasi asesmen yang terbatas, di mana asesmen awal cenderung hanya berupa soal-soal tertulis yang mengukur kemampuan menghafal rumus atau prosedur.
Selain itu, hasil asesmen awal belum sepenuhnya digunakan untuk merancang pembelajaran yang lebih individual dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Keterlibatan orang tua dalam proses asesmen awal dan pendampingan belajar anak di rumah juga masih sangat minim.
“Berdasarkan hasil FGD ini, perlu dikembangkan instrumen asesmen awal yang lebih komprehensif,” jelas Ega Gradini, M.Sc.
“Instrumen tersebut harus mampu mengukur berbagai aspek kemampuan numerasi siswa, mulai dari pemahaman konsep hingga kemampuan pemecahan masalah. Selain itu, penting juga untuk memberikan pelatihan yang memadai kepada guru tentang cara merancang dan melaksanakan asesmen awal yang efektif,” tambahnya.
Julia Noviani, M.Pd, selaku anggota tim peneliti, menambahkan, peningkatan kolaborasi antara guru, siswa, dan orang tua sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Di samping itu, pemanfaatan teknologi dapat menjadi solusi dalam mengembangkan berbagai jenis asesmen yang lebih menarik dan interaktif.
“Hasil FGD diharapkan menjadi dasar untuk pengembangan asesmen awal yang lebih efektif, guna meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di Aceh Tengah. Dengan implementasi asesmen awal yang tepat, siswa diharapkan lebih siap menghadapi tantangan dalam pembelajaran matematika dan meningkatkan kemampuan numerasi mereka,” tutup Julia.











