ACEH SELATAN – Petani di Kecamatan Meukek, Aceh Selatan, kembali tercekik oleh kelangkaan dan mahalnya harga pupuk subsidi. Ironisnya, pupuk yang seharusnya disalurkan dengan harga terjangkau kepada petani kecil, justru dijual melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). Kondisi ini memicu keresahan luas di kalangan petani, yang kini harus menanggung kerugian akibat menurunnya hasil produksi.
“Tanpa pupuk, hasil panen kami anjlok. Tapi sekarang beli pupuk subsidi saja sulit, padahal dulu kami sudah diminta setor KTP oleh kios pengecer. Begitu pupuk datang, langsung habis entah ke mana,” kata seorang petani kepada media ini, Senin, 7 Juli 2025. Ia meminta identitasnya tidak disebutkan karena khawatir mendapat tekanan.
Menurutnya, pupuk subsidi jenis urea ukuran 50 kilogram kini dijual dengan harga di atas Rp 150 ribu per sak jauh di atas HET yang ditetapkan pemerintah. Tak hanya pupuk, kebutuhan tambahan seperti pestisida juga semakin menekan biaya produksi.
“Apa gunanya subsidi kalau harga malah makin mahal. Pemerintah harus turun tangan. Kios-kios yang memainkan harga seperti ini harus dicabut izinnya,” tegasnya.
Dua kios yang dituding kerap menjual pupuk subsidi di atas HET adalah UD. Ahlul Tani dan UD. Kuta Raya Tani, keduanya berada di Kecamatan Meukek. Kedua kios ini juga disebut sebagai pihak yang sebelumnya mengumpulkan KTP petani dengan dalih penyaluran pupuk subsidi.
“Katanya KTP kami dikumpulkan agar dapat pupuk. Tapi pupuk tak pernah kami terima. Malah mereka yang untung,” tambahnya.
Berdasarkan dikutip dari AJNN, Aceh Selatan memiliki 43 kios pengecer pupuk subsidi yang tersebar di berbagai kecamatan. Keempat distributor utama di wilayah ini adalah PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) membawahi 13 kios, termasuk di Meukek, Pasie Raja, Bakongan Timur, dan Trumon Tengah.
CV. JJ One Farm mengelola 8 kios di Labuhan Haji Barat, Labuhan Haji, Sawang, dan Tapak Tuan. Kemudain CV. Retani memayungi 9 kios di Kluet Utara, Kluet Timur, Kluet Tengah, dan Kota Bahagia dan PT. Karya Pantai Selatan bertanggung jawab atas 13 kios di Bakongan, Trumon, Labuhan Haji Timur, Samadua, dan Trumon Timur.
Dengan jumlah pengecer sebanyak itu, mustahil pupuk tak tersedia kecuali ada yang tidak beres dalam rantai distribusi.
Menanggapi keluhan ini, Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) Aceh Selatan melalui Sekretarisnya, Nyak Lah, S.P., M.M, menyatakan pihaknya telah menggelar rapat internal dan akan segera turun ke lapangan.
“Kami baru selesai rapat bersama Plt Sekda, Asisten II, Waka Polres, dan dinas terkait. Tim akan turun langsung ke kios-kios penyalur di hari Rabu,” katanya saat dikonfirmasi.
Langkah monitoring ini, lanjut Nyak Lah, dilakukan untuk mengumpulkan data valid soal pelanggaran harga pupuk. Hasil di lapangan nantinya akan dibawa ke pimpinan untuk ditindaklanjuti.
“Kalau terbukti ada pelanggaran, kami akan ambil tindakan tegas terhadap kios yang menjual di atas HET,” tegasnya.
“Anhar, Tokoh pemuda Aceh selatan, meminta bupati evaluasi kadistan asel karna tidak mampu mengontrol para distributor yang tersebar di setiap kecamatan di asel,ini bentuk ketidak becusan kepala dinas dan jajaran nya dalam mengelola juga mengontrol kebutuhan petani, sebaiknya bupati harus mempersiapkan pengganti Kadistan yang lebih berani, yang lebih mampu dalam bekerja dan lebih peka terhadap penderitaan petani,punya integritas tinggi dan loyalitas kepada bupati juga punya rasa empati tinggi terhadap masyarakat khususnya petani,” pinta Anhar.
Sekarang saat nya bupati Aceh selatan mengambil langkah yang seharusnya sudah jauh-jauh hari mempersiapkan calon Kadistan yang punya visi sama dengan visi bupati dan wakil bupati, bupati sudah sangat layak mengevaluasi menyeluruh terhadap semua kepala dinas yang tidak mampu bekerja untuk membantu bupati mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan produktif khususnya kepala dinas pertanian,” ungkap nya.
Namun hingga hari ini, petani masih menanti. Sementara pupuk makin langka, harga makin mahal, dan sawah mereka semakin kering tanpa harapan,” tutup Anhar. ***











