Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Kolom

Pecicap, Tradisi Turun-Temurun di Tanah Kluet yang Bertahan di Tengah Arus Modernitas

redaksi by redaksi
19/05/2026
in Kolom, Sastra
0
Pecicap, Tradisi Turun-Temurun di Tanah Kluet yang Bertahan di Tengah Arus Modernitas

Oleh Syahrul Amin,S.Sos ( PMII Aceh)

Di sebuah ruang sederhana dengan cahaya temaram, suara percakapan para tetua terdengar lirih. Di tangan mereka tersimpan sebuah tradisi lama yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi itu dikenal masyarakat Kluet sebagai Pecicap, sebuah warisan budaya yang masih bertahan di tengah derasnya perubahan zaman.

Di wilayah Kluet, Kabupaten Aceh Selatan, tradisi bukan sekadar cerita lama yang hidup di ingatan para orang tua. Ia masih dijaga, dirawat, dan dipraktikkan oleh sebagian masyarakat sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai leluhur yang diwariskan sejak dahulu.

Bagi masyarakat setempat, Pecicap bukan hanya sebuah kebiasaan, tetapi bagian dari identitas budaya yang merekatkan hubungan sosial antargenerasi. Di balik kesederhanaannya, tradisi ini mengandung nilai kebersamaan, penghormatan terhadap orang tua, hingga pelajaran hidup yang diwariskan secara lisan.

Selain Pecicap, masyarakat Kluet dahulu juga mengenal sebuah tradisi sakral yang disebut “Turun Bo Lawe” atau turun tanah bagi anak bayi. Tradisi ini biasanya dilakukan ketika seorang bayi pertama kali diperkenalkan dengan lingkungan sekitar sebagai bentuk doa dan harapan dari keluarga besar.

Dalam prosesi tersebut, keluarga dan masyarakat berkumpul untuk membacakan shalawat serta ayat-ayat suci sebagai doa keselamatan, keberkahan, kesehatan, dan masa depan yang baik bagi sang anak. Suasana berlangsung khidmat, penuh kebersamaan, dan sarat makna spiritual.

Bagi masyarakat dahulu, tradisi ini bukan hanya seremoni biasa, tetapi bentuk rasa syukur kepada Tuhan sekaligus pengingat bahwa seorang anak lahir bukan hanya milik orang tuanya, melainkan bagian dari keluarga besar dan masyarakat yang turut mendoakan kehidupannya.

Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi seperti Turun Bo Lawe mulai jarang dijumpai. Perubahan pola hidup masyarakat, pengaruh modernisasi, hingga semakin praktisnya cara pandang terhadap tradisi membuat sebagian keluarga tidak lagi melaksanakan prosesi tersebut.

“Sekarang kebanyakan setelah anak lahir hanya dibacakan doa sederhana, setelah itu selesai. Sudah jarang yang melakukan tradisi turun tanah seperti dulu,” ujar Syahrul Amin, S.Sos ( PMII Aceh) mengenang kebiasaan masa lampau.

Fenomena ini menjadi gambaran bagaimana sebagian tradisi lokal perlahan mulai memudar di tengah derasnya perkembangan teknologi dan perubahan sosial. Anak-anak muda kini lebih akrab dengan dunia digital dibanding kisah-kisah adat yang dulu diwariskan melalui pertemuan keluarga dan petuah para tetua kampung.

Padahal dahulu, tradisi-tradisi seperti Pecicap maupun Turun Bo Lawe menjadi ruang berkumpul masyarakat untuk saling berbagi nasihat, mempererat hubungan kekeluargaan, serta menjaga nilai adat agar tetap hidup dalam keseharian.

Meski menghadapi tantangan zaman, harapan untuk menjaga warisan budaya itu belum sepenuhnya hilang. Sejumlah tokoh adat berharap dokumentasi budaya lokal terus dilakukan agar generasi mendatang tidak kehilangan jejak identitasnya sendiri.

“Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Tradisi ini adalah cerita tentang siapa kita sebenarnya,” ungkap Zakir ( Pegiat Sejarah, Tradisi dan Budaya ) dengan penuh harap.

Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi Pecicap dan Turun Bo Lawe di Tanah Kluet menjadi pengingat bahwa kemajuan zaman tidak selalu harus menghapus akar budaya. Justru di balik perubahan itulah masyarakat diingatkan untuk tetap menjaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan waktu.

Tanah Kluet mungkin terus berubah, namun nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu akan tetap hidup selama masih ada generasi yang mau mengenang, mempelajari, dan menjaganya.

 

Previous Post

Ketika Mantan Ketua BEM Menggugat Calon Guru: Jika Bukan dari Hati, Murid Harus Hati-hati

Next Post

Empat Mahasiswa Abdya Penerima Beasiswa MPR RI Resmi Dilepas ke China

Next Post
Empat Mahasiswa Abdya Penerima Beasiswa MPR RI Resmi Dilepas ke China

Empat Mahasiswa Abdya Penerima Beasiswa MPR RI Resmi Dilepas ke China

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Warga Samadua Tolak Rekomendasi DPRK Aceh Selatan, Dinilai Berikan Karpet Merah untuk Perusahaan Tambang

Warga Samadua Tolak Rekomendasi DPRK Aceh Selatan, Dinilai Berikan Karpet Merah untuk Perusahaan Tambang

25/08/2026
Jalan Zaman Belanda di Alue Peunawa Mulai Diaspal Masa Bupati Dr. Safaruddin

Jalan Zaman Belanda di Alue Peunawa Mulai Diaspal Masa Bupati Dr. Safaruddin

25/08/2026
SMAN 1 Jaya Serahkan Donasi Bencana Gempa NTT

SMAN 1 Jaya Serahkan Donasi Bencana Gempa NTT

25/08/2026
Tiga Pesepakbola Disambar Petir di Aceh Timur; 1 Meninggal dan 2 Kritis

Tiga Pesepakbola Disambar Petir di Aceh Timur; 1 Meninggal dan 2 Kritis

25/08/2026
Tim Penilai Gammawar Provinsi Aceh Kunjungi Gampong Meunasah Bakthu

Tim Penilai Gammawar Provinsi Aceh Kunjungi Gampong Meunasah Bakthu

25/08/2026

Terpopuler

Polda Aceh Bidik Calon Tersangka Korupsi Pengadaan Bebek Petelur

Polda Aceh Bidik Calon Tersangka Korupsi Pengadaan Bebek Petelur

23/08/2026

Vokalis Seuramoë Reggae Teuku Andie Meninggal Dunia

Pecicap, Tradisi Turun-Temurun di Tanah Kluet yang Bertahan di Tengah Arus Modernitas

Presiden atau Gubernur Yang Berhentikan Sekda?

Para Sekda Loyalis yang ‘Tumbang’ di Tahun Kedua Mualem-Dekfad

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com