Jakarta- Secangkir kopi arabica Pantan Cuaca Gayo Lues, usai diseduh. Sejenak menyeruput nikmatnya kopi dataran tinggi dengan aroma yang mengepul membuat suasana semakin happy. Gadis berkacamata tersenyum tipis Nyambi sesekali menghirup aroma kopi dari kepulan asap yang keluar dari gelas mungil khusus ukuran espresso. Kopi Arabica dari Gayo Lues punya cita rasanya memang beda dan sungguh nikmat. Begitulah ia menggambarkan rasa dari nikmatnya kopi Pantan cuaca.
“Annisa Chryssanthy.Lahir di Medan 12 mei 1992 silam. Gadis cantik dan ramah itu lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Manajemen Rekayasa Industri, pada medio 2015 silam. Bagi Annisa yang bekerja di salah satu perusahaan luar negeri sebagai market research, Kopi Arabica Gayo Lues yang ditanam di Pantan Cuaca, Gayo Lues, Provinsi Aceh, sejatinya memiliki keistimewaan tersendiri dilidah penikmat kopi.
“Menurut Annisa, kelebihan kopi arabica Pantan Cuaca, Gayo Lues, sangat menonjol acidity sweetness dan fruitnya. Karakter dan Bodynya juga balance. Kopi yang bagus dan pasti dirawat dengan penuh kasih sayang,” ujarnya.
Annisa ternyata merupakan juga petani kopi di Sumedang, Jawa Barat. Dia sangat paham betul dengan dunia perkopian Indonesia. Khusus untuk arabica Pantan Cuaca, ia juga berpendapat bahwa kopi itu memiliki kekhasan tersendiri.
“Kopi ini potensial dikembangkan, karena memiliki kualitas fisik dan rasa yang berbeda dengan daerah lainnya, bahkan di Tanoh Gayo sendiri,” terangnya.
Kopi single origin asal Pantan Cuaca sudah dikenal luas sampai ke manca negara. Apalagi saat ini produsen kopi sudah bisa berinteraksi langsung dengan end user, sehingga berpotensi menghasilkan feedback (keuntungan) yang lebih bagus. “Peluangnya besar.
Berhubungan langsung dengan end user bermakna berpotensi pula untuk pengembangan ekonomi di kawasan Gayo Lues. Inputnya akan sangat besar untuk daerah,” tambahnya.
Sebagai kawasan yang dikenal daerah yang penduduknya sangat menyukai kopi, selain keterlibatan anak muda dan perempuan, kehadiran generasi muda dari dua jenis kelamin juga memiliki dampak positif besar. Untuk hal itu, Annisa berpesan, kaum muda di Aceh sudah harus bergerak untuk mengenal dunia perkopian secara lebih nyata. Jangan hanya menjadi penikmat, tapi harus menjadi pelaku yang tahu kopi dengan pengetahuan yang utuh.











