Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

[Opini] Saat Pena Tak Lagi Menulis dengan Nurani

redaksi by redaksi
11/11/2025
in Opini
0
[Opini] Saat Pena Tak Lagi Menulis dengan Nurani

Oleh Bang Iwan (Hanzirwansyah). Pemerhati Sosial dan Komunikasi Publik

Di dunia yang setiap detiknya dibanjiri informasi, kebenaran semakin kehilangan rumahnya. Kalimat-kalimat lahir dari jemari yang tergesa, berita disusun bukan dari nurani, melainkan dari kalkulasi, siapa yang diuntungkan, siapa yang tersingkir. Dalam pusaran itu, profesi wartawan yang dulu disebut sebagai “penjaga akal sehat bangsa”, justru kini sering berada di titik paling rentan.

Kita hidup di zaman ketika gelar dan sertifikat menjadi penentu status sosial. Dalam dunia pers, sertifikat Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sering dijadikan simbol bahwa seseorang telah “resmi” menjadi pewarta. Tapi sertifikat hanyalah kertas. Ia membuktikan seseorang pernah diuji secara teknis, namun tak menjamin bahwa hatinya diuji oleh nurani.

Rocky Gerung pernah berkata bahwa ijazah hanya menandakan seseorang pernah sekolah, bukan bukti bahwa ia pernah berpikir. Begitu pula jurnalis, menulis bukan berarti memahami, dan lulus uji kompetensi bukan berarti berani berkata benar.

Ketika Jurnalisme Kehilangan Jiwa

Menjadi wartawan bukan sekadar menyusun fakta, tapi merawat akal sehat publik. Namun, di banyak tempat, termasuk di Aceh Selatan, profesi ini perlahan kehilangan jiwanya. Ia terjebak dalam pusaran kepentingan, kekuasaan, dan keakraban semu dengan pejabat.

Tak sedikit yang kini lebih sibuk mencari kedekatan dengan bupati, kepala dinas, atau pengusaha. Pena tak lagi diarahkan untuk membela kebenaran, melainkan untuk memoles citra atau menjatuhkan rekan sendiri. Jurnalisme berubah menjadi transaksi yaitu antara ruang iklan, dukungan politik, dan ambisi pribadi.

Yang lebih menyedihkan, ada wartawan yang ketika kalah dalam gelanggang politik, justru kembali merapat ke kekuasaan baru yakni menulis demi kenyamanan, bukan demi kebenaran. Padahal, bupati tidak butuh wartawan penjilat. Ia butuh suara jernih yang berani mengingatkan, bukan tangan yang sibuk menulis pujian.

Di Aceh, di mana adat dan syariat bersatu dalam kalimat adat ngon syara, lagee zat ngon sifeut, nilai dan tanggung jawab seharusnya tak bisa dipisahkan. Pena seorang wartawan Aceh mestinya berakar pada nilai itu, menulis dengan hati, bukan dengan kepentingan.

Antara Kuasa dan Nurani

Setiap wartawan membawa beban moral yang tak ringan yaitu menjaga kebenaran di tengah kebohongan yang sistematis. Tapi banyak yang kini menyerah pada pragmatisme. Jurnalisme kehilangan daya gigitnya karena sebagian pelakunya rela dipelihara oleh kekuasaan.

Padahal, sejak lama, sejarah Aceh mengajarkan bahwa keberanian moral lebih berharga daripada kedekatan politik. Dari Cut Nyak Dhien hingga Teungku Chik di Tiro, keberanian bersuara selalu lahir dari keyakinan, bukan keuntungan. Jika semangat itu hilang dari dunia pers, maka sesungguhnya yang mati bukan sekadar profesi, tapi nurani kolektif masyarakat.

Walter Lippmann pernah menulis bahwa tugas utama jurnalis adalah menjadi “penyaring realitas” bukan memperbanyak suara, tapi memurnikan makna. Artinya, wartawan bukan sekadar penyampai pesan, tapi penjaga moral publik. Ia harus menimbang sebelum menulis, merenung sebelum mengabarkan, dan bertanggung jawab atas setiap kata yang disebarkannya.

Namun kini, di banyak ruang redaksi lokal, idealisme sering dianggap kemewahan. Wartawan yang kritis dicap berseberangan, yang independen dianggap tidak loyal, dan yang jujur malah dihindari. Padahal tanpa jurnalisme yang berani, pemerintah pun akan berjalan tanpa kontrol, dan rakyat kehilangan cermin untuk melihat kekuasaan.

Kembali ke Akar Kebenaran

Menulis berita seharusnya bukan tentang siapa yang disukai, tapi tentang apa yang benar. Pena bukan alat mencari muka, tapi sarana mengoreksi dan mencerdaskan. Jika tulisan tak lagi lahir dari nurani, maka setiap kalimat hanyalah suara kosong yang menipu diri sendiri.

Sejarah tidak akan mengingat siapa yang paling banyak berita, tapi siapa yang paling setia pada kebenaran. Di tengah dunia yang penuh manipulasi dan kepalsuan, tugas wartawan bukan memperindah wajah kekuasaan, tapi menjaga wajah kebenaran agar tak pudar.

Mungkin kini saatnya setiap pewarta kembali bercermin, untuk siapa pena ini bekerja? Untuk kebenaran, atau untuk kenyamanan pribadi?

Karena pada akhirnya, ketika tinta kering dan berita usang, yang tersisa hanyalah satu hal yaitu nama baik yang ditulis oleh nurani.

Previous Post

dr Hanif Jemput Langsung 6 Pasien Pasung di Aceh Timur

Next Post

Saqti Aprilian dan Cut Riska Adilla Jadi Agam Inong Banda Aceh

Next Post
Saqti Aprilian dan Cut Riska Adilla Jadi Agam Inong Banda Aceh

Saqti Aprilian dan Cut Riska Adilla Jadi Agam Inong Banda Aceh

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Pesantren Al Zahrah Sosialisasikan Lima Program Unggulan Tahun Ajaran 2026/2027

Pesantren Al Zahrah Sosialisasikan Lima Program Unggulan Tahun Ajaran 2026/2027

17/07/2026
Ketua DPRK Letakkan Batu Pertama Rumah Layak Huni, Tahun Ini Advokasi 4 Rumah

Ketua DPRK Letakkan Batu Pertama Rumah Layak Huni, Tahun Ini Advokasi 4 Rumah

17/07/2026
Seleb Aceh Besar Ditangkap Polisi Syariah Usai Pamer ‘Siagam’ Saat Live Tiktok

Seleb Aceh Besar Ditangkap Polisi Syariah Usai Pamer ‘Siagam’ Saat Live Tiktok

17/07/2026
Dinsos Aceh Bantu Kebutuhan Darah untuk 15 Rumah Sakit

Dinsos Aceh Bantu Kebutuhan Darah untuk 15 Rumah Sakit

17/07/2026
Satgas PRR Kawal Percepatan Pemulihan Infrastruktur Pascabencana di Aceh

Satgas PRR Kawal Percepatan Pemulihan Infrastruktur Pascabencana di Aceh

17/07/2026

Terpopuler

Wabup Pidie Jaya Bongkar Dugaan Sentralisasi Dana Bencana: Saya Tak Dilibatkan, Semua Diplot Bupati dan Sekda

Wabup Pidie Jaya Bongkar Dugaan Sentralisasi Dana Bencana: Saya Tak Dilibatkan, Semua Diplot Bupati dan Sekda

16/07/2026

Kemana Mengalir Dana Bencana Rp36 Miliar? Aliansi Pemuda Minta Pemkab Pidie Jaya Buka Seluruh Dokumen

Polda Lampung Berhasil Amankan DPO Kasus Narkotika dari Aceh

Serah Terima 116 Santri Baru, Pimpinan Al Zahrah: Bina Tiga Pilar Kecerdasan

Gempa Magnitudo 3,4 Kembali Guncang Pidie Jaya

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com