Bagi semua kalangan umur, nama James Bond tentu bukanlah sesuatu yang asing di telinga. Ya, film seri James Bond adalah rangkaian film layar lebar produksi Inggris. Jika dihitung, dari era lawas hingga 2025, sudah ada sekitar 25 seri.
Film ini mengambarkan tokoh utama bernama James Bond sebagai karakter mata-mata fiktif yang diciptakan oleh penulis Ian Fleming pada tahun 1953. Dikenal dengan kode agen 007, ia bekerja untuk dinas intelijen Inggris, MI6.
Secara garis besar, semua seri James Bond selalu focus pada karakter si tokoh utama yang tampan, jago tembak menembak, penuh pertualangan, disukai para gadis cantik serta (maaf-red) seks liar.
Lantas apa hubungannya dengan Aceh? Padahal secara kultur kita berbeda dengan dunia barat.
Di Aceh, imajinasi tentang karakter James Bond mungkin juga diidolakan oleh hampir para pria dewasa.
Dimana, perang pura pura selama hampir dua decade dengan kematian sungguhan telah melahirkan banyak para pahlawan di era damai. Para pahlawan ini dikrabit menjadi idola dan kemudian menikahi para gadis cantik. Harta, takhta dan wanita.
Hal ini pula yang menyebarkan anak-anak di Aceh lebih senang ‘perang-perangan’ ketika hari raya tiba.
Di luar Aceh, image bahwa pemuda Aceh sebagai ‘tukang kawin’ juga cukup melekat selama hampir dua decade. Tak percaya? Silahkan merantau ke Jawa dan sekitar. Padahal sebelumnya, Aceh adalah daerah penghasil ulama dan juga santri dengan nilai nilai keagamaan yang lebih tinggi dibandingkan daerah lain.
Dua decade sebelumnya, setiap pria Aceh yang merantau adalah iman masjid serta guru agama di daerah orang. Namun kini, image Aceh lebih dikenal dengan ‘ganja, tramadol, dan tukang kawin.’
Kenapa hal ini bisa terjadi? Kita terlalu banyak mengimpor duta ‘james bond’ dibanding pria dengan karakter masjid keluar.
Demikian juga dengan sikap dan para pemimpin yang terpilih di pilkada Aceh setelah damai. Pemimpin yang harusnya menjadi suri teladan bagi masyarakat soal etika dan normal sering kali abai. Imbasnya adalah kondisi saat ini.
Para pemimpin yang lahir di Aceh setelah damai, kecuali Doto Zaini, adalah para ‘James Bond.’
Alhasil, pemimpin Aceh saat ini lebih memilih menjadi sosok ‘james bond’ dibanding suri teladan rakyat. Yang secara kultur dan budaya berbeda dengan dunia barat.
Menutup nafsu liar dibalik topeng syariat. Agama sering dijadikan tameng untuk urusan ‘selangkangan.’ Mengabaikan etika serta moral. Sementara korupsi dibiarkan leluasa terjadi dengan alasan menjaga kop dan organisasi.
Inilah kondisi saat ini. Rakyat masih berjibaku lumpur. Ribuan warga masih bertahan di tenda pengungsian. Sementara pemimpin sibuk merebut hati para gadis cantik.
Saat rakyat protes, sebahagian pengikut akan berkoar,’semua sesuai tuntunan syariat.’
Seharusnya, tak masalah Aceh dicap provinsi miskin di Indonesia. Asal jangan miskin moral dan etika. Karena moral dan adab juga bagian dari ajaran agama.









