BANDA ACEH – Pengamat Politik USK, Restu Gilang, meminta Ketua Umum DPA Partai Aceh sekaligus Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), untuk bersikap bijak dan tidak terburu-buru melakukan restrukturisasi atau pergantian terhadap Zulfadli, A.Md (akrab disapa Tgk. Abang atau Abang Samalanga) dari jabatan Ketua DPR Aceh (DPRA).
Pernyataan ini merespons munculnya wacana pergantian pimpinan parlemen yang belakangan disuarakan oleh sejumlah pihak, termasuk dukungan dari Juru Bicara KPA Pusat, Zakaria N. Yacob (Jack Libya), yang menilai kepemimpinan Zulfadli memicu kegaduhan politik terkait polemik anggaran dan hubungan eksekutif-legislatif.
Menurut Restu Gilang, menjaga stabilitas politik di awal masa pemerintahan baru jauh lebih krusial daripada melakukan bongkar pasang jabatan pimpinan dewan yang berpotensi memperlebar faksi di internal partai maupun koalisi.
“Mualem harus melihat posisi Tgk. Abang sebagai instrumen penyeimbang yang kritis. Dinamika yang terjadi saat ini, baik soal Sekda maupun transparansi APBA, adalah bagian dari fungsi pengawasan legislatif yang sehat. Jika sedikit-sedikit diganti karena dianggap ‘gaduh’, maka fungsi kontrol parlemen akan melemah,” ujar Restu Gilang dalam keterangannya di Banda Aceh, Kamis (5/2/2026).
Restu menambahkan bahwa Tgk. Abang memiliki basis massa dan loyalitas yang kuat di akar rumput Partai Aceh. Restrukturisasi yang dipaksakan di tengah upaya Pemerintah Aceh mengejar target realisasi anggaran dan tambahan dana Otsus sebesar Rp8 triliun dari pusat justru dikhawatirkan akan mengganggu fokus pembangunan.
“Kita butuh keberlanjutan. Pergantian pimpinan di tengah jalan hanya akan membuang energi untuk adaptasi birokrasi baru. Saya berharap Mualem mengedepankan tabayyun dan rekonsiliasi internal daripada mengambil langkah drastis mencopot Tgk. Abang,” tutupnya.









